Said Ramadhan al-Buthi: Dakwah Itu Butuh Cinta!

Kliping Pemikiran Islam, Ditulis oleh M Jauharil Ma’arif Annur

Sebagian orang (terutama para akademisi) sering punya anggapan bahwa dakwah (dalam konteks ini bisa mencakup berbagai hal, seperti mengajar, amr ma’ruf nahi munkar, menolak pemahaman menyimpang dan lain sebagainya) cukup dengan pengetahuan mendalam mengenai perkara yang akan disampaikan dan menggunakan gaya bahasa setinggi langit sehingga membuat para pendengar terkagum-kagum dan lawan bicara tidak mampu menaggapi lagi (saking kuatnya argumentasi).

Mereka meyakini kesuksesan dari sebuah dakwah tidak membutuhkan cinta, karena pada intinya, tujuan dari dakwah adalah menyampaikan ajaran islam dengan benar, menjelaskan kesalahan dari pemahaman yang menyimpang dan membuat lawan bicara mati kutu. Lalu, apa gunanya cinta?

Dr. Said Ramadhan al-Buthi mempunyai pandangan yang berbeda. Baginya, cinta sangat dibutuhkan dalam kesuksesan berdakwah. Cinta yang ia maksud di sini adalah cinta kepada Allah dan Rasul-NYA yang nantinya membuat seorang hamba cinta kepada sesama karena Allah (mungkin seteleh ini kita sebut dengan cinta saja). Cinta tidak dapat dipisahkan dari gerak-gerik kehidupan sehari-hari, baik yang berhubungan dengan diri sendiri ataupun orang lain. Bahkan menurutnya, selain ilmu yang mendalam, rasa cinta inilah yang menjadi kunci utama kesuksesan seorang pendakwah dalam menyampaikan dakwahnya.

Menurut al-Buthi, setidaknya ada 2 alasan mengapa seorang pendakwah sangat membutuhkan cinta (cinta Allah dan Nabi lho! Bukan cintamu sama doi). Pertama, perlu kita ketahui, bahwa kata-kata yang penuh retorika dan penjelasan yang menggunakan argumentasi top markotop (tingkat tinggi) tidak akan pernah memberi hidayah (kesadaran) kepada sami’in (para pendengar) untuk melakukan hal yang disampaikan. Kenapa?
Baca juga:  Ulama Banjar (43): H. M. Syamsuri
Sebab, kata-kata tersebut hanya sampai ke telinga dan mentok sampai ke pikiran saja. Sedangkan yang menggerakkan kesadaran seseorang untuk melakukan sesuatu adalah hati. Di sinilah cinta dibutuhkan. Agar ucapan seorang pendakwah sampai ke hati pendengar dan membuat hati mereka tergugah untuk melakukan apa yang disampaikan. Karena hatilah yang bisa berbicara kepada hati, perasaanlah yang bisa menyadarkan perasaan (kok saya romantis banget ya!).

Pada alasan pertama ini, al-Buthi memberi contoh dengan cerita yang diriwatkan oleh Sufyan ats-Tsauri: “Suatu hari, beberapa Ulama diundang datang ke istana Harun ar-Rasyid. Ketika kita semua sudah berkumpul, tiba-tiba datanglah Fudhail bin ‘Iyyadh dalam keadaan menutup wajahnya dengan sorban. Kemudian ia bertanya kepadaku: “Yang manakah Harun ar-Rasyid?”. Kujawab: “Itu lho (seraya menunjuk sang kholifah)”. Lalu ia menatap sang raja seraya berkata: “Wahai yang berparas indah! engkaulah yang menanggung keadaan umat ini dan semua beban ada padamu. Sungguh, Engkau telah menanggung beban yang berat!  Maka, bersungguh-sungguhlah!”. Setelah itu, Harun ar-Rasyid menangis sejadi-jadinya karena mendengar ucapan Fudhail dan menjadikan sang raja termasuk salah satu khalifah yang bisa memajukan dan menyejahterakan umat islam pada saat itu.

Itulah dakwah yang disertai dengan cinta! Walapun ucapan dari Fudhail sangat simpel dan tidak menggunakan kalimat yang muluk-muluk, namun bisa menembus hati sang Khalifah dan menyadarkannya (karena terselip rasa cinta dalam ucapan sang waliyyullah Fudhail).
Baca juga:  Ulama Banjar (61): H. Mahlan Amin
Kedua, seorang pendakwah harus membentengi dirinya dengan cinta (kepada Allah dan Rasul-NYA) agar terhindar dari godaan tipu daya harta, wanita, dan tahta dari musuh-musuhnya. Da’i yang hanya bermodalkan ilmu saja (tanpa cinta) biasanya rentan tergoda hal-hal duniawi, sehingga ilmunya akan muspro (tidak berguna). Ia akan meletakkan harta dan tahta di atas ilmu, sehingga ia berani untuk tahlil al-haram (menghalalkan yang haram) dan tahrim al-halal (mengharamkan yang halal). Mungkin jika mengikuti pendapat al-Ghozali (dalam Ihya-nya), da’i ini tergolong dari Ulama Su’ (Ulama yang jelek).

Golongan kedua ini tergambar jelas dalam kisah Ibnu Saqo, salah satu teman Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Begini ceritanya.

Ibnu Saqo adalah seorang alim yang diakui keilmuannya oleh para Ulama. Namun tujuannya dalam mencari ilmu dan berdakwah bukanlah ikhlas untuk Allah dan Rasul-NYA, melainkan agar mendapatkan harta, wanita dan tahta sebanyak-banyaknya. Suatu hari, ia diperintah oleh khalifah dari daerah frank (sekarang prancis) untuk berdebat dengan kaum Nasrani di salah satu daerah kekuasaannya (supaya mereka masuk Islam). Lalu Ibnu Saqo tinggal di istana raja yang beragama Kristen di sana.

Sang raja memerintah anak perempuannya untuk berdadan secantik mungkin dan melayani Ibnu Saqo. Karena sering bertemu, Ibnu Saqo tertarik dengan anak raja dan ingin menikahinya, namun sang raja menolak kecuali Ibnu Saqo mau masuk agama Nasrani. Akhirnya, Ibnu Saqo masuk agama Nasrani. Kemudian, bukannya dinikahkan dengan anak raja, Ibnu Saqo malah diusir dengan tidak terhormat dari kerajaan dan dibuang ke konstatinopel (waduh, kasian ya!). Begitulah balasan Allah bagi orang-orang yang menjual agama dengan kenikmatan duniawi dan melakukan kebaikan bukan didasari dengan cinta kepada-NYA.
Baca juga:  Sajian Khusus: 100 Tahun Soeharto (1921-2021)
Akhir kata, Cinta (kepada Allah dan Rasul-NYA) adalah hal yang harus dimiliki oleh setiap pendakwah bahkan setiap muslim. al-Buthi menunjukkan (dengan penjelasannya di atas) kepada kita bahwa cinta adalah kunci utama kesuksesan seorang da’i dalam menyampaikan ajaran-ajaran tuhan dan menjadi benteng terakhir agar selalu mendapat bimbingan ke jalan yang benar. Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan orang-orang yang senantiasa menyertakan rasa cinta kepada-NYA dalam setiap keadaan. Amin.

*Disarikan dari kitab al-Hubb fi al-Qur’an, karya Dr. Said Ramadhan al-Buthi.

 

 

Artikel ini di kliping dari Alif.id sebagai kliping/arsip saja. Segala perubahan informasi, penyuntingan terbaru dan keterkaitan lain bisa dilihat di sumber.