Sastra Syair Arab

Kliping Pemikiran Islam, Ditulis oleh Alwi Jamalulel Ubab

Syair Arab adalah sebuah adikarya, kreasi yang admirabel, mengagumkan oleh masyarakat Arab pada khususnya dan dunia pada umumnya. Bahkan sejak masa sebelum Islam datang, seorang penyair akan diagung-agungkan dan dihormati. Tidak hanya itu, karyanya juga akan dipajang dan digantungkan pada ka’bah selama beberapa waktu. 

“Al-Muallaqat”, yang jika dimaknai secara harfiah memiliki arti ‘yang digantung’ adalah nama yang disematkan untuk menyebut qasidah syiir milik sebagian penyair jahiliyah.

Imru Al-Qais, Tharafah bin Al-Abd’, Zuhair bin Abi Salma, Labid bin Rabi’ah, ‘Amr bin Kultsum, Anzah bin Syaddad dan Harist bin Khalzah adalah nama-nama yang disepakati oleh Al Zauzani (w.1093 M) sebagai penyair kondang pada zaman jahiliah, sehingga kumpulan syiir ketujuh penyair tersebut dinamakan “Al-Muallaqat al-Sab’i”.

Syiir adalah ciri khas bangsa Arab pada saat itu. Dengan adiwarna yang sangat indah, sajak dan rima yang dipadukan dengan melodi serta susunan yang bervariasi, syiir seakan-akan menjelma bak sebongkah emas. Sehingga meskipun pemiliknya miskin ataupun dianggap gila seperti Imru al-Qais (al-Majnun) ia tetap akan diagung-agungkan.

Namun, pada saat itu, seperti halnya tata susunan bahasa arab (Nahwu dan shorof), tata susunan serta ketentuan-ketentuan pada gema syiir masih mengalir secara alamiah. Tidak memiliki kaidah dan hukum sahih-fasid pada syiir.

Imam Kholil (100-170 H, 718-786 M) adalah dalangnya, seorang sastrawan, pakar bahasa arab, filsafat sang pencetus arudh. Adikarya agung yang menjadi standarisasi syiir-syiir arab hingga saat ini.

Dengan abilitas serta kecakapannya yang tinggi, ia berhasil mengabsorpsi, menyerap apa yang ia temukan dari denting baja para pandai besi yang ia dengar ketika melakukan rihlah.
Baca juga:  Dari Drakor Hospital Playlist, Kita Diingatkan Kembali Peran Agama pada Masyarakat Industri
Ilmu Arudh adalah ilmu yang bersifat ad-infinitum, seterusnya, paten. Tidak seperti ilmu-ilmu lain, seperti fikih ataupun tafsir yang selalu bertransformasi mengikuti perkembangan zaman, ilmu arudh tidak mengalami perkembangan dan aglabiyah, mayoritas kaidahnya dicetuskan oleh Imam Kholil.

Telah saya jelaskan sebelumnya, secara morfologi arudh-qawafi seperti nahwu-shorof pada umumnya.

Dalam nahwu-sharaf kita mengenal istilah i’rab dan tarkib (susunan kalimat), shegot (bentuk kalimat), dan illat (penyakit;yang menyebabkan perubahan pada kalimat), yang juga pada dasarnya menjadi ilmu terapan pada arudh-qawafi.

Hanya saja dengan istilah dan kegunaan yang sedikit berbeda. yang membedakan kedua pasang ilmu tersebut mungkin, kalau dalam konteks nahwu-shorof yang memiliki titik fokus lebih adalah nahwunya yang mempelajari i’rab, perubahan akhir kalimat. Sedang dalam konteks arudh-qawafi lebih ke arudhnya yang mempelajari bangunan-bangunan syiir, sharafnya syiir. Bangunan bangunan syiir tersebut kemudian dinamakan dengan bahar.

Al-Arudiyyun (sebutan untuk ulama ahli ilmu Arudh) menamakan bangunan (wazan) syiir dengan nama Bahar.

Mereka menamakannya dengan nama bahar, dikarenakan setiap dari wazan-wazan tersebut disusun sedemikian rupa menjadi variasi bait-bait yang variabel, bermacam-macam dan hal ini serupa dengan gelombang serta ombak laut yang datang silih berganti karena saking banyaknya. Yang kemudian bahar tersebut menjadi pondasi dari setiap syiir yang ada.

Bahar yang menjadi basis syiir arab hingga sekarang berjumlah 16. Semuanya merupakan karya buah tangan sang maestro, Kholil bin Ahmad al-Farahidi, kecuali satu, yakni bahar Al-Mutadarik. Yang merupakan karya murid dari muridnya yakni Imam Akhfasy (w.216 H). ia (akhfasy) menamakannya dengan nama “al-Mutadarik” karena bahar tersebut bersifat tadaruk, menyusul datang, setelah di adisi oleh Imam Kholil berjumlah 15.
Baca juga:  Mereka Sakit, Tapi Mengapa tak Berobat?
Setiap bahar, memiliki wazan atau bagian yang merupakan potongan-potongan unik penyusun suatu syiir yang biasa disebut dengan “taf’ilah”.

Taf’ilah, potongan tersebut adakalanya satu genus yang kemudian dilipat gandakan menjadi beberapa bagian, sehingga membentuk satu bahar utuh.

Seperti taf’ilah bahar ar-Rajaz, مستفعلن) mustaf’ilun) kali enam, bahar al-Mutaqarib فعولن) fa’ulun) delapan kali. Atau adakalanya merupakan hasil sinkronisasi dengan taf’ilah lain, seperti bahar al Basith yang terdiri dari dari gabungan taf’ilah, potongan syiir مستفعلن) mustaf’ilun) dan فاعلن (faa’ilun).

“Hatinya sedang dalam keadaan istirahat dan tentram, sedang hatiku sedang berusaha sekuat tenaga.”

ُSyiir diatas merupakan contoh syiir yang memiliki rima dengan bahar yang terdiri dari satu genus. Serta aplikasi Ilmu Arudh secara sederhana dengan metode tulis “arudh wa shouty”, sebuah metode yang digunakan untuk mengukur keselarasan syiir dengan baharnya dengan menggunakan isyarah “/” untuk huruf yang berharakat dan “O” untuk huruf sukun.

Kenapa saya katakan “aplikasi arudh secara sederhana” karena contoh tersebut hanyalah contoh sederhana syiir yang tidak mengalami tagyiir, perubahan apapun pada taf’ilahnya.

Tepat sekali, sama seperti seghot (bentuk kalimat) dalam sharaf, tafilah (potongan syiir) pada baharpun terkadang memiliki cacat (illat) yang mengakibatkan adanya penambahan atau pengurangan pada tafilah. Illat dan zihaf adalah istilah yang digunakan oleh ulama arudh untuk menyebut kedua mugayyir tersebut.

Kembali pada pembahasan awal, dalam istilah bahasa Arab kita sering mendengar penyebutan yang berbeda mengenai “kalam bersajak”. Syiir dan nadzam adalah penyebutan yang biasa kita gunakan.
Baca juga:  Puasa (Tak) Lupa Berasap
Keduanya sebenarnya merupakan satu kesatuan. Namun antara Syiir dan Nadzam terdapat sedikit perbedaan, syiir lebih lembut dibanding nadzam, dan biasanya syiir merefleksikan perasaan si penyair. Berbeda halnya Ketika seseorang menyusun atau merangkai kalimat yang berbentuk Nadzam, ia hanya akan merangkai suatu kalimat yang akan menghasilkan suara-suara musik dengan tanpa ada rasa lembut, khayalan, ataupun refleksi perasaan si Nadzim.

Imam Syauqi menjelaskan perbedaan antara Syiir dan Nadzam dengan baitnya:

ْSyiir jika di dalamnya tidak ada unsur rasa, kelembutan atau hikmah maka itu hanyalah taqti’ (potongan) dan awzan (jamak dari wazan;bentuk) Nadzam.

Contoh Syiir ungkapan Imru Al-Qais (al-Wafir):

Wahai Hati, apakah engkau tidak ingat engkau pernah berjanji kepadaku bahwa ketika aku mencoba untuk melupakan Layla engkau juga akan melupakannya ?!

Hei, aku sekarang mencoba bertaubat dari mencintai Layla, tapi kenapa jika namanya disebut engkau selaulu bergetar?!

Contoh Nadzam diantaranya dua bait dari bahar ar-Rajaz di bawah ini:

Ibnu Malik telah menyusun Alfiyah (Nadzam Seribu bait) yang ia perindah didalamnya pembahasan Nahwu dan Sharaf.

Aku mengikuti jejaknya dari awal (Hamzah), sehingga mudah dihafal oleh para pemuda.

 
Note:
Istilah I’rab, Tarkib serta Seghot dapat ditemukan dalam ilmu gramatika dasar bahasa Arab (Nahwu-Sharaf). Tarkib artinya susunan kalimat, I’rab perubahan akhir kalimat, sedangkan Seghot memiliki arti bentuk dari suatu kalimat.

Untuk Istilah-istilah seperti Taf’ilah, kemudian bahar dapat ditemukan dalam kitab yang membahas Arudh. Untuk arti sederhananya tafilah memiliki arti potongan-potongan wazan syiir, sedangkan bahar ialah wazan qiyasi bagi syiir.

 

Artikel ini di kliping dari Alif.id sebagai kliping/arsip saja. Segala perubahan informasi, penyuntingan terbaru dan keterkaitan lain bisa dilihat di sumber.