Ulama Banjar (199): KH. Muhammad Ridwan Baseri

Kliping Pemikiran Islam, Ditulis oleh Redaksi

Muhammad Ridwan Baseri atau biasa dipanggil Guru Ridwan, Guru Kapuh atau Guru Ridwan Kapuh, lahir di Desa Kapuh pada tangga l7 Januari 1965. Ayahnya bernama Hasan bin Baseri, sedang ibunya bernama Jauhar binti Athaillah bin Abdul Qadir bin Sa’duddin atau Muhammad Tayyib (yang dikenal dengan Datu Taniran) bin M. As’ad bin Puan Syarifah bin Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

Ayahnya dikenal masyarakat sekitar sebagai ulama dan menyebutnya dengan nama TuanGuru Hasan Baseri. Karena itu, sejak kecil ia telah dididik oleh orang tuanya dengan pendidikan agama dengan baik. Di samping belajar kepada orang tuanya, Guru Kapuh juga dengan guru lain, di antaranya ia belajar Al-Qur’an kepada K.H. Hurairah (dikenal dengan sebutan Guru Hurai) bin K.H.Muhammad Aini Al-Hafizh desa Pandai Kecamatan Kandangan. Dengan belajar Al-Qur`an dengan Qari yang fasih dalam membaca Al-Qur`an dan menjadi rujukan Tajwid Al-Qur`an masyarakat Hulu Sungai Selatan, maka wajar jika Guru Kapuh fasih membacadalil ayat Al-Qur`an.

Pada usia 7 tahun Guru Ridwan Kapuh menempuh pendidikan dasar di SDN Kandangan (lulus tahun 1979), kemudian ke Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Amawang (lulus tahun 1982). Kemudian ia melanjutkan studinya di Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor Jawa Timur (lulus pada tahun 1986).

Setelah kembali ke kampong halaman, Guru Ridwan Kapuh bekerja di Sampit Kalimantan Tengah. Tiga tahun kemudian, yakni tahun 1989, ia pulang ke Kandangan dan kembali memperdalam pengetahuan Agama dengan mengikuti pengajian-pengajian ulama lokal seperti Guru H. Saberi Kandangan dan Guru Muhammad Aini Rantau. Padatahun 1992 ia mengikuti pengajian KH.Muhammad Zaini Gani (Guru Sekumpul) di Martapura. Di sinilah ia mendapatkan bimbingan tasawuf dan menjalani suluk dan amalan-amalan sufi dari Guru Sekumpul. Selama di Martapura, GuruRidwan Kapuh sempat mengajar di Sekolah Menengah Islam Hidayatullah (SMIH) Martapura dan Madrasah Aliyah Program Keagamaan (MAPK) Martapura sampai tahun 1998.

Selama mengikuti pengajian dengan sejumlah ulama, berikut adalah guru-guru dan kitab yang pernah dipelajarinya, yaitu dengan KH. Saberi Kandangan belajar kitab ad-Durran-Nafis karya Syekh Muhammad Nafis Al-Banjari dan kitab Hidâyahas-Sâlikîn karya syekh Abdus Shamad Al-Falimbani; dengan Tuan Guru Muhammad Aini Rantau belajar kitab Nashâihal-„Ibâd Karya Syekh Nawawi Al-Bantani dan Nashâih ad-Dîniyah Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad; dengan K.H. Muhammad Zaini Ghani belajar kitab Bidâyahal-Hidâyah Karya Imam Abu Hamid Al-Ghazali dengan Syarhnya, Maraqîal-‘Ubûdiyah Karya Syekh Nawawi Al-Bantani, Minhâjal-‘Âbidin karyaImam Al-Ghazali, Ihyâ Ûlum ad-Dîn karya Imam Al-Ghazali, Risâlah Al-Mu’âwanah dan Nashâih ad-Dîniyah karya Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, Al-Hikam karya Ibnu Athaillah Al-Sakandari dengan Syarhnya Aiqâzh Al- Himam. Ia Juga mendapatkan ijazah sanad Tarekat Sammaniyah langsung dari Guru Sekumpul. Dengan Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan, berbai’at dan mendapatkan ijazah sanad Tarekat Syaziliyah.
Baca juga:  Ulama Banjar (178): KH. Mukeri Yunus
Setelah beberapa tahun menimba ilmu dan mengajar di Martapura, Guru Kapuh kembali ke kampong halaman dan mulai menyebarkan ilmu dengan mengajar di Pondok Pesantren Darul Ulum Amawang dan membuka pengajian di Masjid Al-Hidayah dan beberapa tempat lainnya. Pengajian di Masjid Al-Hidayah semakin banyak didatangi jama’ah dan semakin banyak permintaan jadual mengisi pengajian di tempat-tempat lain. Namun, sejak pengajiannya di Majelis Taklim Al-Hidayah mulai banyak di datangi jama’ah, Guru Kapuh mulai mengurangi pengajian-pengajian kecil yang dilaksanakan di mushalla, kantor, dan lembaga pendidikan di wilayah Kandangan. Pengajiannya lebih dikonsentrasikan di Masjid Al-Hidayah dan lima buah Masjid lainnya sekitar wilayah Kandangan dan Kabupaten Tapin. Karena kondisi fisik dan jadual yang padat, sejak tahun 2010, Guru Kapuh juga tidak menerima lagi undangan mengisi ceramah acara keagamaan lainnya.

Berikut ini adalah jadual dan tempat pengajian Guru Ridwan Kapuh yang masih aktif, yaitu:

  1. Pengajian Minggu pagi, Kamis malam dan Jum’at Sore di Majelis Taklim Al- Hidayah, Kapuh.
  2. Pengajian Sabtu sore di Masjid Agung Taqwa bergiliran dengan Masjid Ar-Raudhah, Kandangan.
  3. Pengajian Kamis sore di Masjid As-Sa’adah Taniran bergiliran dengan Pondok Pesantren Al-Baladul Amin, Telaga Langsat.
  4. Pengajian Selasa sore di Masjid Agung Humasa Rantau bergiliran dengan Masjid Baiturrahman, Pasar Rantau.

Pengajian Guru Ridwan Kapuh, tidak hanya bisa dihadiri secara langsung di tempat sebagaimana pada jadual di atas, tetapi juga dapat diakses melalui media internet seperti lewat Youtube atau lewat media sosial seperti Facebook. Jamaah pengajian yang aktif di Facebook membentuk grup yang diberinama“Jama’ah Guru Kapuh” dengan jumlah anggota yang sudah mencapai lima ribuan bahkan lebih. Mereka saling mem-posting intisari-intisari pengajian Guru Kapuh, kesan-kesan jama’ah terhadap Guru Kapuh, dan foto-foto kegiatan-kegiatan di Majelis Taklim Al-Hidayah, termasuk promosi bidang usaha dan lembaga pendidikan milik Majelis Taklim Al-Hidayah.
Baca juga:  Suluk Qur’ani Abuya KH. Ahmad Minan Abdillah
Di era digital dengan jamaah milineal, tidak mengherankan jika rekaman-rekaman pengajian Guru Ridwan Kapuh telah banyak beredar di media Youtube, baik berupa audio maupun video yang di oupload oleh jama’ah maupun panitia majelis. Dengan mengklik di youtube dan menulis nama Guru Kapuh atau Guru Ridwan Kapuh dipencarian, maka akan ditemukan rekaman isi ceramahnya dengan materi dan durasi yang berbeda-beda.

Selain mengasuh dan memimpin sejumlah majelis pengajian, Guru Ridwan Kapuh juga mengajar dilembaga pendidikan dan bahkan mendirikan lembaga pendidikan. Dia pernah mengajar di Pondok Pesantren Darul Ulum Kecamatan Kandangan selama kurang lebih tiga tahun. Pada tahun 1998 ia pun mendirikan Pondok Pesantren Minhajul Abidin di Desa Telaga Bidadari Kecamatan Sungai Raya, berbatasan dengan Desa Kapuh Kecamatan Simpur. Kurikulumnya mengadopsi kurikulum Pondok Pesantren Darussalam Martapura, yaitu mempelajari Kitab-kitab Klasik (Kitab Kuning), dengan tiga jenjang tingkatan, yaitu Awwaliyah empat tahun, Wustha tiga tahun dan Ulya tiga tahun. Di sini terlihat bahwa Guru Ridwan Kapuh lebih memilih model Pesantren Darussalam Martapura daripada model Pesantren Darussalam Gontor, padahal dia adalah alumni pondok pesantren tersebut. Animo masyarakat sekitar (HSS, HST dan Tapin) memasukkan anak-anak mereka ke pesantren ini ternyata cukup besar. Hingga saat ini jumlah santri Minhajul Abidin mencapai jumlah sekitar empat ratus orang santri.

Pada tahun 2009, Guru Ridwan Kapuh ditunjuk oleh Bupati Hulu Sungai Selatan (saat itu adalah DR. H. Muhammad Syafi’i, M.Si) untuk memimpin dan mewujudkan adanya pondok pesantren yang memadukan antara pendidikan agama dan pendidikan umum(BoardingSchool). Dia kemudian melakukan studi banding bersama Pemerintah Daerah dan beberapa pimpinan pondok pesantren di Hulu Sungai Selatan ke beberapa pondok pesantren di pulau Jawa, di antaranya Pondok Pesantren Darussalam Gontor, Pondok Pesantren Darul Lughah wa Da‟wah Bangil Jawa Timur dan Pondok Pesantren Al-Zaitun Indramayu Jawa Barat. Setelah studi banding, muncul kesepakatan untuk mendirikan Yayasan Al-Baladul Amin, dan pada tanggal 2 Desember 2009 pembangunan Pondok Pesantren Al-BaladulAmin mulai didirikan di Desa Mandala Kecamatan Telaga Langsat Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Setahun kemudian aktivitas pembelajaran dapat dilaksanakan.

Pondok Pesantren Modern Al-Baladul Amin memiliki jenjang pendidikan tingkat SMP dan SMA dengan kurikulum Kombinasi antara pendidikan umum dan pendidikan agama. Jumlah santri sejak dibuka hingga sekarang mencapai angka 200 orang lebih. Sebagai pondok pesantren modern, para santri yang dididik di sini diharapkan mampu menjadi calon-calon birokrat, pejabat maupun aparat yang bertakwa kepada Allah dan berakhlakul karimah. Sementara santri Pondok Pesantren Minhajul Abidin diarahkan untuk menjadi ulama.
Baca juga:  Ulama Banjar (191): H. Ahmad Syaukani Arsyad
Setelah mendirikan dan memimpin dua pesantren, Guru Ridwan Kapuh mendirikan lagi sebuah Yayasan yang bernama Ibnu Athaillah pada tahun 2014. Bersama yayasan ini ia membangun Madrasah Ibtidaiyah berasrama yang diberi nama Madrasah Ibtidaiyah Ibnu Athaillah di sekitar lokasi Pengajian Majelis Taklim Al-Hidayah. Kurikulumnya sama dengan kurikulum madrasah ibtidaiyah tetapi dengan tambahan ilmu-ilmu keislaman seperti di pondok pesantren ditambah hafalan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits. Setelah dibuka, madrasah ini ternyata pendaftar yang datang membludak sehingga terpaksa dilakukan seleksi ketat karena daya tampung yang masih terbatas. Melihat antusiasme masyarakat, pihak yayasan akan membangun kelas baru dan juga membangun madrasah tsanawiyah yang berlokasi tidak jauh dari madrasah ibtidaiyah.

Selain sibuk mengurusi lembaga pendidikan dan yayasan Guru Ridwan Kapuh juga merupakan sosok ulama yang aktif berorganisasi. Menjadi aktivis organisasi memang sudah dilakukannya sejak muda. Beberapa posisi jabatan yang diduduki oleh beliau di sejumlah organisasi keagamaan dan yayasan adalah:

  1. Ketua MUI Kabupaten Hulu Sungai Selatan periode 2017-2022.
  2. Ketua Dewan Penasehat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Hulu Sungai Selatan 2007-2012 dan 2012-2017.
  3. Ketua Dewan Penasehat Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) Hulu Sungai Selatan, 2011-2016.
  4. Ketua Yayasan Al-Baladul Amin dan Yayasan Ibnu Athaillah.

Selama menjalankan aktivitas keulamaan, dan berorganisasi, Guru Ridwan Kapuh juga aktif menjalankan usaha bisnis. Ada beberapa usaha yang sedang dijalankannya, yaitu:

  1. Usaha distributor produk-produk Galeri Al-Zahra untuk wilayah Kandangan.
  2. Usaha took busana muslim dan muslimah dengan merek dagang milik para Habaib.
  3. Usaha Travel Ziarah WaliSongo.
  4. Travel Umrah dan Haji Plus bekerjasama dengan PT. Fahmina Tour milik H. Fahmi Ridha Jakarta.

Melalui berbagai usaha bisnis ini, penghasilan yang diperoleh tidak hanya untuk kepentingan perekonomian keluarga, tetapi juga untuk membiayai dakwahnya, membantu renovasi Masjid Al- Hidayah serta perluasan areal Majelis Taklim, bahkan memberangkatkan umrah guru-guru pondok pesantren yang dipimpinnya.

Artikel ini di kliping dari Alif.id sebagai kliping/arsip saja. Segala perubahan informasi, penyuntingan terbaru dan keterkaitan lain bisa dilihat di sumber.