Partai itu Rujuklah, :D

  • Post author:
  • Post category:PKB

Minggu ini KPU resmi mengumumkan siapa saja partai yang (untuk sementara) berhak mengikuti Pemilu 2014. Walaupun masih dalam tahap Verifikasi Administratif saja, namun kecil kemungkinan partai-partai yang diloloskan membuat kesalahan yang masiv hingga terpaksa dicoret dari kontestasi politik tahun 2014. Lagipula, KPU juga sudah menggunakan Sistem Informasi untuk membantu proses verifikasi administratif ini, SiPol.

Mencermati pengumuman KPU kemarin sungguh menarik, untuk khasanah politik dunia santri. Tercatat ada 3 partai yang dilahirkan dunia santri yang mencoba ikut ambil serta di seleksi awal Pemilu 2014 ini. Dua partai lama, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pimpinan KH Aziz Mansyur, dan Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) pimpinan Cak Choirul Anam, dan satu lagi partai baru, Partai Kedaulatan Bangsa Indonesia Baru (PKBIB) pimpinan Zannuba Arifah Chafsoh (Yenny Wahid).

Dua dari 3 kandidat usungan dunia santri itu akhirnya masuk, cuma PKB dan PKBIB. PKNU gagal masuk karena sejumlah persyaratan yang gagal mereka penuhi. Dua dari kandidat yang masuk itu sama-sama memperjuangkan apa yang disebut kepentingan dan pemikiran dunia santri Indonesia (khususnya Nahdlatul Ulama). Dua-duanya juga mengklaim sebagai anak ideologis dari Gus Dur, sebagai sebuah lembaga politik. Yang satu ngotot sudah ikhlas melakukan islah dengan berinisiatif mengajak pihak yang pernah berseteru beberapa tahun lalu ( beberapa dari mereka yang berseteru kabarnya sudah kembali). Yang satu lagi ngotot, yang pertama itu adalah pengkhianat pemikiran Gus Dur dan menzolimi Gus Dur secara pribadi.

Dari sejarah politik Indonesia, (setahu saya) cuma PDIP yang sukses menjadi partai Pecahan yang mampu menjadi partai besar. Dan term ini tampaknya tidak berlaku buat sejarah PKB. Ada Partai Pergerakan Kebangsaan (PPK), pecahan PKB yang digagas oleh mantan Ketua Tanfidziyah PKB, Mathori Abdul Jalil, yang gagal masuk ke pemilu 2004. Ada pula, Partai Kebangkitan Nasional Ulama yang didirikan oleh 17 Kiai kharismatik NU yang dimotori oleh KH  Abdullah Faqih Langitan, yang sukses ikut pemilu 2009 dengan perolehan sejumlah kursi di DPRD tingkat 1 dan 2 namun 0 kursi di tingkat nasional (DPR). Oh ya, satu lagi, Partai Kemakmuran Bangsa Nusantara (PKBN) yang didirikan oleh Yenny Wahid dengan sejumlah pendukung setia Gus Dur yang memilih keluar dari PKB karena (hanya karena faktor) Muhaimin Iskandar saja. PKBN pada fase pertama pendaftaran di Kemenkumham sudah gagal mendapatkan status Badan Hukum, sehingga terpaksa mereka meleburkan diri (baca: mencaplok) status badan hukum Partai Perjuangan Indonesia Baru (Partai PIB) pimpinan Dr Kartini Syahrir untuk meleburkan kekuatan dan alhasil namanya menjadi PKBIB (Partai Kedaulatan Bangsa Indonesia Baru).

Dunia Santri Krisis Politik

Jika 2014 adalah pemilu yang menjadi ayakan terakhir dari politik dunia santri, tentunya PKB dan PKBIB-lah yang menjadi beras yang akan diayak. Siapa yang menjadi bulir beras yang paling besar dan berkualitaslah yang akan lolos ditanak sejarah. Tapi jika dua-duanya gagal, maka tamatlah keduanya. Tamatlah daya tawar santri di pemerintahan Indonesia. Mungkin tidak akan ada lagi Ketua MUI dan Anggota MUI yang dominan NU, tidak ada lagi Menteri Agama dari NU (seperti masa Orde Baru), mungkin akan ada perda-perda syariah yang melarang kegiatan tahlilan, maulidan, sholawatan dan istighosah karena tidak modern (itu anggapan dari kaum Islam Modernis) dan dianggap mengada-ada (itu anggapan dari kaum ultra-Salaf/penyuka generasi salaf yang keterlaluan sukanya), tidak akan masiv lagi pendirian MTs, MA, madrasah diniyah, ponpes dan perguruan tinggi NU, karena keburu ditolak oleh orang yang kontra-NU (yang tidak ingin NU berkembang).

Mungkin jika dua-duanya tidak lolos ambang batas karena dilindas Nasdem, Gerindra dan Golkar, mereka akan berkumpul kembali di suatu pondok di ujung desa negeri ini dan mulai sadar akan pentingnya persatuan.

Yah, Dunia tampaknya harus menanti satu tontonan lagi pada tahun 2014, siapakah yang akan terbukti lebih diikuti oleh kebanyakan Nahdliyin. PKB atau PKBIB. Saya harap, PKBIB mau melebur ke PKB, atau sesuai kesepakatan banyak kiai, kembalilah ke susunan Muktamar Semarang, tentunya dengan minus Gus Dur, karena beliau sudah bahagia di sana…