Alumni IPTN di AS Dambakan Kebangkitan Dirgantara

Seattle – Diaspora ratusan alumni IPTN di Amerika, Eropa dan Asia, mengusik keingintahuan bagaimana kiprah putra-putri bangsa ini? Para insinyur itu kini menorehkan karya di berbagai pabrik pesawat dunia. Namun mereka mendambakan kebangkitan kembali industri dirgantara nasional.

Sejauh ini, banyak kalangan bertanya, kemana kini alumni IPTN atau PT Dirgantara Indonesia (DI) setelah pabrik pesawat terbang nasional di Bandung itu tak berkembang maksimal? Ratusan insinyur anak kandung IPTN tersebar di Inggris, Prancis, Jerman (Airbus), Brasil, Kanada, dan Amerika Serikat (AS). Sekitar 30 di antaranya berkarir di Boeing Company, Seattle.

Di bawah rintik hujan dan udara dingin yang menusuk, saya bertemu dan berdialog dengan sejumlah alumni IPTN itu yang kini berkiprah di pabrik pesawat Boeing, Seattle, USA.

Saya berdiskusi dengan mereka, para insinyur yang selalu merindukan bangkitnya industri dirgantara di Tanah Air, PT Dirgantara (dulu IPTN), yang telah menaungi dan membekali mereka mengembara ke Amerika, Eropa dan Asia lainnya sebagai profesional.

“Pak Habibie, Mantan Presiden dan mantan Menristek merupakan tokoh nasional yang berkarakter dan dipercaya Presiden Soeharto dalam mengembangkan industri strategis, salah satunya IPTN. Dalam hal industri strategis, Habibie menjadi pemimpin nasional yang berhasil membangun IPTN bergerak maju dan pesat,” kata Ir Tonny Soeharto dan Ir Soepeno, alumni IPTN yang berdomisili di Seattle, AS akhir pekan lalu.

Tonny adalah mantan Vice President IPTN dan sejak 1995 ditempatkan di Seattle sebagai perwakilan IPTN North America. Setelah krisis moneter yang menghancurkan IPTN, ia hijrah dan bergabung ke Boeing pada 1999 dan kini menjadi lead engineer MRB di Boeing.

Sementara Soepeno selepas dari IPTN pada akhir 1999, bekerja di Brasilia beberapa tahun, lalu berkiprah di Boeing sampai 2008. Tonny dan Soepeno adalah para murid Habibie dan keduanya juga alumni teknik mesin ITB.

Ada lagi kader-kader Habibie yang berkiprah di Boeing yang saya ajak dialog antara lain Ir Dudi Prasetio (lulusan Teknik Mesin Universitas Brawijaya), Ir Bram Djermani (lulusan Universitas Toledo, AS), Ir Irvan (alumnus ITB) dan Ir Patriawan (alumnus Teknik UGM) serta Ir Agung Suhaedi (alumnus ITENAS Bandung) dalam diskusi berantai hari-hari berikutnya.

Masih banyak orang Indonesia berkarir cemerlang di Boeing di antaranya Ir Kholid Hanafi di pembuatan Boeing 737, Maurita Sutedja di bagian keuangan, dan Sulaeman Kamil. Yang terakhir ini mantan Direktur Teknologi IPTN dan pernah menjadi Asisten Menristek-Kepala BPPT.

Tonny Soeharto dan Soepeno menegaskan bahwa industri pesawat PT Dirgantara jelas membutuhkan dukungan kebijakan negara. “Industri strategis itu memerlukan pemimpin nasional yang demokratis, kuat dan peduli pada pengembangan industri pesawat terbang sebagai industri strategis masa kini dan masa depan,” kata Tonny.

Ia menandaskan pentingnya pemimpin yang memiliki leadership kuat, komit dan peduli industri pesawat sebagai salah satu industri yang sangat strategis. Makanya PT Dirgantara atau dulu IPTN bisa dikembangkan lebih pesat dan kompetitif di dunia internasional jika ada kebijakan negara yang mensupportnya penuh.

Hal senada juga diungkapkan Dudi Prasetio yang menilai PT Dirgantara dan industri strategis lainnya di Tanah Air, membutuhkan pemimpin/tokoh nasional yang komit, yang sangat paham mengapa perkembangan teknologi tinggi sangat dibutuhkan.

Indonesia harus belajar dari India yang lebih pesat dan cepat kemajuan teknologinya karena kebijakan negara yang mendukungnya secara penuh. “Ini juga diperkuat dengan nasionalisme para teknolog, teknokrat dan profesional India di AS, Eropa dan dunia internasional dalam membantu para insinyur dan sarjana India yang lebih muda untuk mengembangkan karir mereka,” imbuh Patriawan.

Tonny H Soeharto juga menyatakan kebijakan negara adalah mutlak agar SDM berkembang di bidang industri strategis dalam waktu relatif cepat. “Harus ada menteri atau presiden/wapres yang sekokoh Pak Habibie untuk mengembangkan industri dirgantara agar peradaban kita maju di Asia,” tandas Tonny.

Ia mengaku merindukan munculnya sosok seperti Habibie. “Itu bisa terjadi jika Presiden menaruh kepercayaan pada sosok seperti itu, misalnya Dr Ir Ilham Habibie yang merupakan putera Pak Habibie, Dia itu cerdas dan kredibel,” tegasnya.

“Hanya dengan pemimpin yang memiliki leadership yang kuat, komit dan perduli industri pesawat, maka IPTN bisa dikembangkan lebih pesat dan kompetitif di dunia internasional,” imbuh Tonny, yang bersama istrinya, Ir Wartini Tonny, juga alumni ITB dan IPTN kini berdomisili di Seattle.

Tonny sempat bertemu M Jusuf Kalla sewaktu menjabat Wapres berkunjung ke Boeing. Ia juga dikenal dekat dengan Presiden Direktur PT Dirgantara Dr Ir Budi Santoso bahkan beberapa pekan lalu keduanya sempat bertemu di Seattle.

Tonny masuk IPTN pada 1982 dan meminta pensiun dini 1998. Semasa di IPTN, ayah dua anak ini pernah ditugaskan belajar di Spanyol beberapa tahun. Karena itu, tak sulit bagi Tonny untuk diterima di Boeing sejak 1999. “Saya orang IPTN pertama yang kerja di Boeing,” kata mantan Vice President IPTN itu.

Sementara Soepeno mengingatkan begitu banyak insinyur yang disekolahkan Habibie di AS dan Eropa dengan prestasi dahsyat, namun kini mengalami diaspora di luar negeri, karena Indonesia tidak lagi punya kebijakan yang jelas, berkesinambungan dan progresif dalam industri pesawat terbang.

“Pencapaian Pak Habibie harus dilanjutkan, para pemimpin nasional jangan hanya mengurus politik praktis, namun harus komit dan peduli atas PT Dirgantara di masa depan,” kata alumnus ITB yang malang melintang di IPTN, Brazilia dan AS itu.

Sudah bukan lagi cerita aneh bahwa orang-orang Indonesia yang bekerja di Boeing merasa bangga sekaligus prihatin. “Hari depan industri PT Dirgantara masih prospektif. Pimpinannya sekarang butuh dukungan negara agar bisa berkembang maju. Saya yakin kita mampu,” imbuh Tonny lagi. [mdr]

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: