Capung di Indonesia Mulai Terancam

World
Dragonflies Association (WDA) atau
komunitas pecinta capung
internasional yang berpusat di Inggris
mencatat, capung di Indonesia
terancam punah.
Padahal, masih ditemukan sekitar 700
jenis capung di Indonesia, dan 136
jenis di antaranya bisa ditemukan di
Jawa.

Ketua Indonesia Dragonfly Society
(IDS) Wahyu Sigit mengemukakan,
catatan dari WDA berdasarkan temuan
PBB yang menyebutkan kondisi
perairan di Indonesia sangat
memprihatinkan. Menurutnya,
kehidupan capung sangat tergantung
pada kondisi air.
“Di beberapa daerah yang terdapat
air, sudah banyak tidak ditemukan
capung. Di Malang, capung tidak
ditemukan di Talun atau sepanjang
Sungai Brantas,” kata Sigit, Sabtu
(9/6/2012).

Sebenarnya, capung sudah akrab
dengan kehidupan masyarakat di
Indonesia. Terbukti capung memiliki
nama berbeda di setiap daerah.
Orang Sunda menyebutnya papatong,
di Jawa dikenal kinjeng, coblang,
gantrung, atau kutrik. Orang Banjar
mengenal kasasiur, dan di Flores
disebut tojo.
Meski banyak istilah untuk menyebut
hewan ini, ternyata tidak banyak buku
tentang capung untuk lebih
mengakrabkan hewan pemakan jentik
nyamuk dan hama di sawah.

Berdasar catatan IDS, hinggga kini
hanya dua buku karya orang
Indonesia yang membahas tentang
capung,  yitu ‘Mengenal Capung’ karya
Shanti Susanti terbitan Puslitbang
Biologi-LIPI tahun 1998, dan
kumpulan esai berjudul ‘Capung
Teman Kita’ yang diterbitkan
Pelestarian Pusaka Indonesia pada
2011 lalu.

“Ahli serangga di Indonesia sudah
sangat banyak, tapi tidak ada yang
mengambil spesifikasi pada capung.
Bahkan anak-anak sekolah saja,
banyak yang tidak tahu capung,”
tambahnya. Sumber: Tribunnews

Wagiman Wiryosukiro

Petani Sistem Informasi, tukang las plugin & themes Wordpress. Co-Founder SistemInformasi.biz. Saat ini aktif sebagai Developer & kontributor di OpenMandriva Linux.

You may also like...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: