Presiden Sambut Baik Permintaan Maaf Belanda atas Tragedi Rawagede

Jakarta – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyambut baik permintaan maaf Pemerintah Belanda terkait aksi militer negara itu di Rawagede, Karawang, Jawa Barat, pada 1947.

“Tentu saja menyambut baik keputusan Pemerintah Belanda yang sesuai dengan keputusan pengadilan sipil tersebut,” kata Juru Bicara Kepresidenan, Julian Aldrin di Jakarta, Jum’at (9/12).

Julian menjelaskan, sikap Belanda itu adalah itikad baik untuk menjalankan putusan pengadilan. Keputusan itu tentu saja dilakukan atas pertimbangan kemanusiaan. Dia berharap permintaan maaf Belanda yang kemungkinan akan ditindaklanjuti dengan pemberian kompensasi bisa diterima dengan baik oleh para ahli waris korban.
“Ini adalah wujud ketaatan terhadap hukum,” katanya.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mengatakan, permintaan maaf Pemerintah Belanda atas aksi militer 1947 yang mengakibatkan jatuhnya korban sipil di Kecamatan Rawagede, Kabupaten Karawang, merupakan perkembangan penting. Ia menjelaskan ada proses internal dari Belanda berdasarkan keputusan pengadilan terkait dengan tragedi yang terjadi di Rawagede.

Marty juga berharap para ahli waris korban Rawagede segera merasakan penyelesaian dari tragedi tersebut. “Bahwa sekarang Pemerintah Belanda memilih untuk menindaklanjuti keputusan itu dengan langkah yang sekarang, saya kira ini merupakan perkembangan yang penting. Harapan kita adalah bisa segera diselesaikan sehingga para ahli waris terkait bisa merasakan penyelesaian,” katanya.

Pemerintah Belanda secara resmi meminta maaf atas aksi militernya pada 1947 di Desa Balongsari, Kecamatan Rawagede, yang mengakibatkan jatuhnya korban sipil.

“Hari ini kita mengenang anggota keluarga Desa Balongsari yang tewas 64 tahun lalu saat agresi militer Belanda. Saya atas nama Pemerintah Belanda memohon maaf atas tragedi tersebut,” kata Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Tjeerd de Zwaan saat mengikuti acara peringatan 64 tahun Tragedi Pembantaian Rawagede di Desa Balongsari, Jum’at.

Zwaan mengatakan peristiwa Rawagede merupakan hal yang menyedihkan dan sebuah contoh mencolok tentang bagaimana hubungan antara Indonesia dan Belanda pada masa itu berjalan ke arah yang keliru.

“Anda masing-masing tentu mempunyai cara tersendiri untuk mengatasi kenangan pahit tragedi Rawagede. Saya berharap bahwa dengan bercermin bersama pada peristiwa itu, kita bisa melangkah bersama ke masa depan dan bekerja sama dengan erat dan produktif,” kata Zwaan.

Sumber: NU Online

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: