Skip to content

emka.web.id

menulis pengetahuan – merekam peradaban

Menu
  • Home
  • Tutorial
  • Search
Menu

Auto KAYA Tambang Dasar Laut: Nodul Polimetalik

Posted on May 16, 2025

Baru-baru ini, perhatian tertuju pada sebuah negara pulau kecil bernama Nauru, yang terletak di salah satu wilayah terpencil di Pasifik Selatan. Negara ini, yang dulunya merupakan salah satu negara terkaya di dunia, kini menghadapi tantangan ekonomi yang signifikan. Dalam upaya mencari solusi ekonomi, Nauru terlibat dalam kesepakatan yang berpotensi kontroversial terkait dengan “apel logam” berbentuk bola yang terletak di dasar laut.

Kisah ini bermula ketika harga semangka di Nauru mencapai $37 dolar AS, mencerminkan betapa sulitnya memperoleh sumber daya di pulau terpencil ini. Nauru pernah menjadi produsen fosfat yang kaya, tetapi setelah sumber daya tersebut habis, negara ini mencari cara lain untuk menghidupkan kembali ekonominya. Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan menjalin kemitraan dengan perusahaan bernama The Metals Company (TMC) untuk menambang nodul polimetalik di dasar laut.

Nodul polimetalik adalah gumpalan logam yang terbentuk selama jutaan tahun di dasar laut, khususnya di Zona Clarion Clipperton (CCZ) di Samudra Pasifik. Nodul ini mengandung nikel, kobalt, tembaga, dan mangan, yang merupakan logam penting untuk berbagai aplikasi industri, termasuk baterai kendaraan listrik. Dengan meningkatnya permintaan akan logam-logam ini, nodul polimetalik menjadi target yang menarik bagi perusahaan pertambangan.

Namun, pertambangan laut dalam memunculkan kekhawatiran lingkungan yang signifikan. Ekosistem laut dalam sangat rapuh dan belum sepenuhnya dipahami. Pertambangan nodul polimetalik dapat merusak habitat, mengganggu rantai makanan, dan melepaskan sedimen ke dalam air, yang berpotensi membahayakan kehidupan laut. Selain itu, ada kekhawatiran tentang dampak karbon dari pertambangan laut dalam, serta potensi konflik sosial dan ekonomi dengan masyarakat lokal.

Kerangka hukum internasional untuk pertambangan laut dalam diatur oleh Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS). UNCLOS menyatakan bahwa sumber daya di dasar laut internasional adalah “warisan bersama umat manusia” dan harus dikelola untuk kepentingan semua negara, dengan mempertimbangkan kebutuhan negara-negara berkembang. Otoritas Dasar Laut Internasional (ISA) dibentuk untuk mengatur kegiatan pertambangan di dasar laut internasional dan memastikan bahwa kegiatan tersebut dilakukan secara berkelanjutan dan adil.

Salah satu aturan utama dalam UNCLOS adalah bahwa perusahaan yang ingin menambang di dasar laut internasional harus disponsori oleh suatu negara anggota UNCLOS. Negara sponsor bertanggung jawab untuk memastikan bahwa perusahaan mematuhi semua peraturan dan melindungi lingkungan. Dalam kasus TMC, perusahaan tersebut disponsori oleh Nauru, yang menimbulkan pertanyaan tentang kemampuan negara pulau kecil ini untuk secara efektif mengawasi operasi pertambangan perusahaan besar.

Beberapa pihak mengkritik pengaturan sponsor ini, dengan alasan bahwa Nauru mungkin tidak memiliki sumber daya atau keahlian untuk secara efektif mengatur TMC dan memastikan bahwa perusahaan tersebut mematuhi semua peraturan lingkungan. Ada juga kekhawatiran tentang potensi “negara bendera kemudahan,” di mana perusahaan memilih untuk disponsori oleh negara dengan peraturan yang lemah untuk menghindari pengawasan yang ketat.

CEO TMC, Jared Barron, membantah bahwa Nauru tidak memiliki kendali efektif atas perusahaan tersebut. Dia berpendapat bahwa Nauru akan mendapatkan manfaat dari pekerjaan, peluang pelatihan, royalti, dan pajak yang dihasilkan oleh proyek pertambangan. Namun, para kritikus tetap skeptis, dengan alasan bahwa manfaat ekonomi bagi Nauru mungkin tidak sebanding dengan risiko lingkungan dan sosial.

Selain kekhawatiran tentang pengaturan sponsor, ada juga pertanyaan tentang bagaimana keuntungan dari pertambangan laut dalam akan dibagi secara adil. UNCLOS menyatakan bahwa keuntungan harus didistribusikan untuk kepentingan semua negara, dengan mempertimbangkan kebutuhan negara-negara berkembang. Namun, mekanisme untuk mendistribusikan keuntungan ini masih belum jelas.

Selain itu, pemerintahan Trump mengeluarkan perintah eksekutif yang membuka jalan bagi AS untuk mengejar mineral laut dalam tanpa persetujuan dari ISA. Langkah ini telah dikritik oleh komunitas internasional, yang berpendapat bahwa hal itu melanggar hukum laut internasional. Amerika Serikat bukanlah anggota UNCLOS dan berpendapat bahwa mereka tidak terikat oleh peraturannya.

Kisah Nauru dan nodul polimetalik menyoroti kompleksitas dan tantangan pertambangan laut dalam. Sementara pertambangan laut dalam dapat menawarkan sumber daya baru untuk memenuhi permintaan logam yang meningkat, hal itu juga menimbulkan kekhawatiran lingkungan dan sosial yang signifikan. Penting untuk memastikan bahwa kegiatan pertambangan laut dalam diatur secara efektif dan dilakukan secara berkelanjutan dan adil.

Masa depan pertambangan laut dalam masih belum pasti. ISA sedang dalam proses mengembangkan peraturan untuk pertambangan laut dalam, tetapi belum jelas kapan peraturan ini akan selesai. Sementara itu, beberapa perusahaan telah mengumumkan rencana untuk mulai menambang di dasar laut internasional, yang meningkatkan kemungkinan konflik lingkungan dan hukum.

Pada akhirnya, keputusan apakah akan menambang nodul polimetalik atau tidak akan bergantung pada penimbangan yang cermat dari manfaat dan risiko. Penting untuk mempertimbangkan dampak lingkungan, sosial, dan ekonomi dari pertambangan laut dalam, serta untuk memastikan bahwa kegiatan tersebut dilakukan secara berkelanjutan dan adil.

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=TacQgNeoPMM

Terbaru

  • Beli HP Bekas Flagship Oppo? Ini 3 Rekomendasi Terbaik yang Masih Gahar di 2026
  • Cuma 1 Jutaan! Ini 4 Rekomendasi HP POCO yang Performa Tetap Gila di 2026
  • Inilah Rekomendasi Laptop 5-6 Jutaan Paling Worth It di Pertengahan 2026, Spek Mewah Harga Ramah!
  • Inilah Deretan Smartphone Snapdragon 8s Gen 4 yang Bikin Kompetisi HP Menengah Atas Makin Panas!
  • Mengenal Otak di Balik AI: Apa Itu LLM dan Manfaatnya dalam Keseharian Kita Menurut Sebastian Raschka
  • Inilah Rahasia Spasi FF Salin Biar Nickname Kalian Makin Keren dan Unik Tanpa Aplikasi Tambahan
  • Rekomendasi HP Kamera Bagus 2-6 Jutaan Bulan Juli 2026
  • Cuma 2 Jutaan! Ini 6 Rekomendasi HP Paling Worth It Buat Multitasking dan Gaming Ringan
  • Rumor Galaxy Z Flip8 Jadi Seri Terakhir: Mengapa Samsung Mungkin Berhenti Bikin HP Lipat Clamshell?
  • Inilah Cara Registrasi Kartu SIM Pakai Verifikasi Biometrik Mulai 1 Juli 2026, Gak Bisa Lagi Pake Nomor Bodong!
  • Jangan Asal Lap! Inilah Cara Membersihkan Layar TV LED yang Benar Agar Tidak Rusak
  • Realme Narzo 100x 5G Segera Rilis: Baterai 8.000mAh, Layar 144Hz, dan Sertifikasi Militer
  • Waspada Penipuan Akun Mobile Legends: Kenali Pentingnya Marketplace Resmi dan Status PSE
  • Review DJI Osmo Pocket 4P: Kamera Saku Lensa Ganda yang Bikin Kamera Pro Kelihatan Ribet!
  • Samsung Bisa “AirDrop” ke iPhone? Cek Cara Pakai Fitur Quick Share Terbaru Ini!
  • Vivo X Fold 6 Bakal Masuk Indonesia? Speknya Gila, Baterai 7.000 mAh & Kamera 200 MP!
  • Bocoran iPhone Air 2: Akhirnya Apple Nggak Cuma Jual Tipis, Tapi Juga Baterai Awet dan Kamera Oke!
  • Google Search Console rilis fitur Social Media Property, bisa pantau TikTok & Instagram
  • Hati-hati! 22 Platform Digital Terancam Diblokir Pemerintah, Cek Daftar Hotel dan Maskapainya di Sini
  • Baterai 7.000mAh & Standar Militer, Inilah Moto G77 Power
  • Inilah Cara Shopee dan Meta Bikin Kalian Makin Gampang Dapat Cuan Afiliasi Instagram Tanpa Ribet
  • Gila Sih! Vivo Rilis HP Baterai 8.000 mAh di 2026, Nggak Perlu Ribet Bawa Powerbank Lagi?
  • Infinix Hot 70 vs Tecno Spark 50: Pilih Baterai Jumbo 7000 mAh atau Fast Charging 45W di Harga 2 Jutaan?
  • Gak Perlu HP Mahal buat Pake AI: Intip Fitur Canggih di Samsung Galaxy A37 dan A57 yang Bikin Hidup Lebih Gampang
  • Bocoran Galaxy Unpacked Juli 2026: Z Fold 8 & Z Flip 8 Bakal Fokus ke On-Device AI, Makin Canggih atau Cuma Gimmick?
  • Duel Tablet 2 Jutaan: ADVAN Tab Sketsa 3 vs itel VistaTab 30GT, Mana yang Lebih Worth It buat Kerja?
  • Review Asus ExpertBook PM5 G2: Laptop Bisnis Rasa AI, Ringan tapi Gak Kaleng-kaleng
  • Review Redmi Pad 2 9.7 4G: Tablet Murah yang Bisa Pakai Kartu SIM, Worth It Nggak?
  • Review JBL Quantum Series: Inilah Alasan Kenapa Audio Berkualitas Bisa Bikin Kamu Menang Main Game
  • Review Vivo Y500: HP Baterai Jumbo 8.100mAh yang Bikin Nggak Perlu Cari Colokan Lagi!
  • Deploy Nginx Rootful Container with Podman
  • How to Sandboxing Browser on Linux Desktop with Flatpak
  • How to Hardening Journald on Linux Server (Fedora/AlmaLinux)
  • Block Bad USB on Linux Server with USBGuard
  • How to Secure NetworkManager on Fedora/AlmaLinux
  • How to Automate Your Entire SEO Strategy Using a Swarm of 100 Free AI Agents Working in Parallel
  • How to create professional presentations easily using NotebookLM’s AI power for school projects and beyond
  • How to Master SEO Automation with Google Gemini 3.1 Flash-Lite in Google AI Studio
  • How to create viral AI video ads and complete brand assets using the Claude and Higgsfield MCP integration
  • How to Transform Your Mac Into a Supercharged AI Assistant with Perplexity Personal Computer
  • Mengenal Karakter Shio Kambing: Antara Kreativitas Tanpa Batas dan Tantangan Emosional
  • Mengenal Weton Tulang Wangi: Keistimewaan Spiritual dan Makna di Balik Kepekaan Intuisi dalam Tradisi Jawa
  • Mengenal Pasangan Ideal Shio Naga: Siapa yang Paling Cocok dan Siapa yang Harus Dihindari?
  • Panduan Memilih Sepeda Hybrid yang Tepat: Tips Praktis buat Pemula agar Nggak Salah Beli
  • Prediksi Keberuntungan 22 Juli 2026: Mengapa Cancer, Taurus, dan Leo Berpeluang Besar Meraih Kelimpahan Finansial?

©2026 emka.web.id | Design: Newspaperly WordPress Theme