Gang Kecil dan Secuplik Kisah Pembelajaran Toleransi

Pembelajaran hidup bisa didapat dari mana pun, dari siapa pun dan dari peristiwa apa pun. Seperti pembelajaran yang saya dapat dari sebuah gang kecil. Gang yang diberi tanda nama “Melati 4”, ada sekitar 16 kepala keluarga yang tinggal di gang kecil ini. Ya, gang kecil, namun banyak pelajaran hal-hal besar darinya.
 
Sebagai orang yang hidup di kompleks perumahan, tentu saja orang-orang yang menghuni gang kecil ini heterogen. Mereka tinggal dengan berbagai karakter dan identitas: suku, agama, dan kepribadian berbeda-beda. Ada suku Jawa, Batak, Sunda. Ada yang berasal dari Kupang, Solo, Sulawesi, hingga Manado. Agamanya pun beragam, ada Islam, Katolik, dan Kristen. Jadi, sudah mirip gado-gado komposisi lengkap.
 
Meski beragam, namun setiap orang di gang kecil ini memiliki nilai toleransi yang tinggi. Misalnya, ketika pengajian rutin khusus orang Islam, tetangga-tetangga yang non-Muslim tidak sungkan turut membantu menyediakan tikar dan keperluan lainnya, bahkan mereka juga ada yang membuat kue khusus untuk acara pengajian. Ketika perayaan Natal pun, kami yang Muslim menghormati dan menghargai perayaan hari besar keyakinan tetangga-tetangga kami dengan hal yang sama.
 
Dari keberagaman ini pula, anak-anak yang hidup di lingkungan ini pelan-pelan belajar tentang agama dan perbedaan keyakinan. Proses ini tak instan, namun kebiasaan yang dijalankan di lingkungan yang beragam dan saling menghargai ini membuat mereka turut serta belajar kalau mereka hidup dengan perbedaan-perbedaan yang tak harus menjadikan mereka menjauh, tapi bagaimana menjadikan keragaman itu pengalaman untuk belajar toleransi.
 
Sebagaimana kisah yang terjadi pada anak saya dan teman akrabnya: Apta dan Cristin. Rekan perempuan sepermainannya ini berasal dari keluarga Kristen yang taat. Hampir setiap Minggu (sebelum pandemi) keluarga ini pergi ke gereja. Saat Natal pun di rumah Cristin terpajang pohon Natal sebagai bagian merayakan hari besar mereka.
 
Suatu hari Apta, anak saya yang berusia 6 tahun itu penasaran dengan pohon Natal cantik yang terpajang rapi di ruang tamu Cristin dan meminta kami membelikan dan dipajang di rumah kami. “Bunda-Bunda, Mas Apta mau beli pohon Natal kayak Cristin, bagus lho Bunda. Beliin ya, please, please,” ujarnya dengan mimik memelas ala-ala dia.
 
Permintaan sederhana, yang perlu strategi khusus untuk menjawabnya. Kami pun pelan-pelan menata kata, menjelaskan tentang pokok keragaman ini. “Gini Mas Apta, pohon Natal itu kan dipajang karena Dedek Cristin merayakan Natal. Mas Apta agamanya apa?,” tanyaku.
 
“Islam,” jawabnya.
 
“Dedek Cristin agamanya apa?,” pertanyaanku berlanjut, kebetulan soal agama ini pernah saya jelaskan ketika Mas Apta shalat Jumat di Masjid, sementara saya meminta Cristin pulang dulu ketika Apta mau sembahyang Jumat. Dan, saya menjelaskan kalau Cristin tidak shalat Jumat karena agamanya Kristen, sementara Apta Islam.
 
“Kristen,” jawab Mas Apta mengingat apa yang pernah saya jelaskan dulu.
 
“Iya, benar. Kalau Islam kan Hari Rayanya Idul Fitri, yang Mas Apta takbiran `Allahu Allahu Akbar` kemarin itu. Lha kalau Kristen hari rayanya Natal, makanya ada Pohon Natal di rumah Dedek Cristin,” ucapku memaparkan perbedaan antara dia dan Cristin.
 
“O, gitu ya Bunda, ya udah Mas Apta nggak minta beli pohon Natal,” jawabnya.
 
Tidak hanya masalah pohon Natal, banyak sekali hal-hal soal perbedaan agama antara dia dan Cristin yang seringkali memantik pertanyaan di benak anak saya ini. Terkadang soal shalat, soal ngaji, dan juga puasa.
 
Suatu hari saat dia belajar puasa Ramadhan sementara Cristin makan jajan. Dia spontan nyletuk, “Tin, kamu nggak puasa ya, kok makan jajan?”
 
Mendengar pertanyaan itu, saya langsung menjelaskan kalau ajaran agama Cristin, tidak ada puasa Ramadhan. “Tapi dalam Islam ada kewajiban puasa Ramadhan, jadi nggak boleh mengolok-olok Cristin ketika makan jajan saat Mas Apta puasa Ramadhan, ya,” pintaku yang dibalas anggukan kecil oleh Apta.
 
Perbedaan agama ini seringkali membuatku terheran-heran juga. Suatu hari, Kak Josua (kakak Cristin) bermain di ruang depan tempat saya mengajar ngaji. Dia memegang iqro` dan tiba-tiba mengajarkan Apta membaca Iqro` huruf tunggal. “A” “Ba” “A” “Ba” “A”.
 
Ternyata Kak Josua, yang memang terkenal cerdas dan mudah mengingat seringkali mendengar anak-anak mengaji di rumah saya. Cristin pun bisa shalawat yang seringkali dia dengar dari tontonan Upin-Ipin.
 
Dari kisah-kisah di lingkungan gang kecil ini, semoga kita bisa belajar bahwa sejatinya perbedaan-perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Hidup terasa lebih indah ketika kita sanggup memahami dan menghargai keanekaragaman itu.   
 
Nidlomatum MR, praktisi Homeschooling

Artikel ini merupakan hasil kerja sama antara dan UNDP

Artikel ini di kliping dari www.nu.or.id sebagai kliping/arsip saja. Segala perubahan informasi, penyuntingan terbaru dan keterkaitan lain bisa dilihat di sumber.