Harlah PMII Momentum untuk Muhasabah

Jakarta, Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA-PMII) Achmad Muqowam mengatakan, bahwa peringatan harlah ke-62 Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) tahun 2022 ini sebagai momentum untuk muhasabah diri.

“Bahwa momentum harlah saya kira yang kita lihat, kita perhatikan adalah pada substansi muhasabah. Ada dimensi masa lalu kelahiran PMII, ada dimensi hari ini, dan saya kira ada dimensi perspektif ke depan,” ujarnya pada kegiatan Khataman Nasional Santunan Anak Yatim dan Tasyakuran Harlah Ke-62 PMII bertema Transformasi Gerakan Merawat Peradaban yang diselenggarakan di Aula PB PMII, pada Sabtu (16/4/2022) sore.
 
Lebih lanjut ia mengatakan bahwa para pelaku kepengurusan baik di tingkat PB, PKC, Cabang, Komisariat, dan Rayon boleh silih berganti. Tetapi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) harus berperan dalam tatanan kemahasiswaan, dan juga tatanan di luar kemahasiswaan.
 
“Karena itu saya kira muhasabah, refleksi, introspeksi harus kita lakukan agar kita bisa konsolidatif dengan tuntutan dinamika zaman, agar kita mampu menyesuaikan dengan tuntutan dinamika-dinamika organisasi dan keanggotaan,” jelasnya.
 
Selain itu menurutnya muhasabah juga diperlukan agar mampu berperan lebih ketika melihat peran-peran kelembagaan organisasi kemahasiswaan yang lain di dalam merespon dinamika kemasyarakatan, kebangsaan, dan keindonesiaan.
 
“Oleh sebab itu sahabat sekalian saya sangat mengharapkan di bulan Ramadhan di bulan  yang juga merupakan bulan yang sangat mulia ini, di mana ulang tahun PMII hari ini jatuh pada bulan ramadhan, saya kira ini momentum yang luar biasa. Saya mohon, saya minta kepada kita semua untuk kita ber-muhasabah pada dimensi spiritualitas, pada dimensi religiusitas,” imbuhnya.

Menurutnya dimensi dimensi spiritualitas dan religiusitas menumpuk pada momen harlah ke-62 PMII kali ini, karena bertepatan di bulan suci Ramadhan, bulan yang mulia.

“Refleksi harus dikaitkan dengan apa yang akan menjadi harapan, apa yang akan menjadi prospektif kita, apa yang menjadi perspektif kita, untuk merealisasikan realitas ke depan yang menjadi prospektif kita tersebut. Karenanya saya sangat berharap ini menjadi modal spiritual kita, modal religius kita, modal motivasi kita, modal dorongan kita agar kita semua bisa berperan terutama di dalam rangka memberikan pengabdian kita kepada agama, masyarakat, bangsa, dan negara,” pungkasnya.
 
Kontributor: Malik Ibnu Zaman Editor: Kendi Setiawan

Artikel ini di kliping dari www.nu.or.id sebagai kliping/arsip saja. Segala perubahan informasi, penyuntingan terbaru dan keterkaitan lain bisa dilihat di sumber.