Katib ‘Aam PBNU Ungkap Cara Menjadi Muslim yang Baik

Jakarta,

Katib `Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Said Asrori menjelaskan cara untuk menjadi Muslim yang baik. Kiai Said Asrori kemudian mengutip sebuah hadits yang diriwayatkan Sahabat Abdullah bin Amr. 

Di dalam hadits tersebut, dikisahkan bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah tentang bagaimana Muslim atau orang Islam yang baik. Lalu dijawab oleh Rasulullah bahwa menjadi orang Islam yang baik adalah dengan cara memberikan makanan dan membacakan salam. 

“Artinya, ciri-ciri orang Islam yang baik adalah yang selalu memberikan sedekah makanan kepada yang membutuhkan. Dalam hal ini adalah keluarga, saudara, dan tetangga sehingga apabila kita diberi rezeki dari Allah jangan sampai kita melupakan saudara dan tetangga kita agar kita menjadi orang Islam yang baik,” jelas Kiai Said Asrori dalam tayangan Ngaji Fiqih Bersama KH. Ahmad Said Asrori: Bagaimana Menjadi Muslim yang Baik? diakses  , Ahad (17/4/2022). 

Kiai Said Asrori memaknai ungkapan Rasulullah yakni membacakan salam sebagai upaya Muslim untuk memberikan rasa aman, serta menciptakan situasi dan kondisi yang selamat. Dengan kata lain, perintah membacakan salam seperti yang disampaikan Nabi Muhammad itu, bermakna bahwa Muslim harus berupaya keras agar tidak mencelakakan orang lain. 

“Kita berupaya keras agar tidak mencelakakan orang lain, baik kepada orang yang dikenal, maupun orang-orang yang tidak dikenal. Ini menjadi tanda-tanda menjadi orang Islam yang baik,” ungkap Kiai Said.

Di bulan Ramadhan ini, Kiai Said Asrori mengajak umat Islam untuk lebih berupaya keras menunaikan sedekah dan memberikan rasa aman kepada orang lain. Hal ini bertujuan agar orang-orang di sekitar, baik yang dikenal maupun tidak, akan merasa nyaman dan tenteram dalam menjalankan ibadah puasa. 

“Ramadhan adalah bulan mulia. Marilah kita selalu berupaya dengan keras menambah kebaikan-kebaikan kita atau amal shaleh kita yang harus didasari dengan keimanan, keikhlasan yang kuat. Semoga kita menjadi orang-orang yang baik di sisi Allah, orang-orang yang baik menurut Rasulullah, dan orang-orang yang baik menurut sekitar kita,” pungkas Kiai Said Asrori. 

Makruh mengucapkan salam

Meskipun mengucapkan salam menjadi salah satu dari ciri menjadi Muslim yang baik, tetapi ada beberapa kondisi umat Islam dihukumi makruh untuk mengucapkan salam, walaupun hukum asal mengucapkan salam adalah sunnah. Hal itu dijelaskan Imam An-Nawawi dalam kitabnya Al-Adzkar An-Nawawi yang menyebutkan enam kondisi yang dimakruhkan untuk mengucapkan salam. 
 
Pertama, salam kepada orang yang sedang kencing atau sedang bersetubuh dan semacamnya. Kedua, salam kepada orang yang sedang tidur atau mengantuk. Ketiga, salam kepada orang yang sedang shalat atau azan. Keempat, salam kepada orang yang berada di kamar mandi. 

Kelima, salam kepada orang yang sedang makan, dan kebetulan sedang mengunyah makanannya. Namun, jika tidak sedang mengunyah makanan, maka diperbolehkan salam dan wajib bagi orang yang tidak mengunyah untuk menjawab salam. Keenam, salam pada saat khutbah Jumat. Karena pada saat khutbah Jumat semua orang diwajibkan untuk diam. 

Jika masih ada yang mengucapkan salam pada saat khutbah, Imam Nawawi menyebutkan beberapa pendapat. Pertama, pendapat yang menyebutkan tak perlu menjawabnya, karena kewajiban diam saat khutbah lebih penting daripada menjawab salam. 

Kedua, pendapat yang menyebutkan salah satu dari orang yang hadir diwajibkan menjawab salam. Jika lebih dari satu orang yang menjawab maka tidak boleh. Ini berlaku bagi pendapat yang mengatakan bahwa diam pada saat khutbah itu sunnah, bukan wajib.

Pewarta: Aru Lego Triono Editor: Kendi Setiawan

Artikel ini di kliping dari www.nu.or.id sebagai kliping/arsip saja. Segala perubahan informasi, penyuntingan terbaru dan keterkaitan lain bisa dilihat di sumber.