Kenangan Ngaji Selama Ramadan di Pondok Pesantren Fadlun Minalloh

Kliping Pemikiran Islam, Ditulis oleh Ahmad Zuhdy Alkhariri

Setelah 7 tahun lebih saya benar-benar merindukkan ngaji di pondok pesantren Fadlun Minalloh bertepatan di Wonokromo, kecamatan Pleret, kabupaten Bantul. Selama 3 tahun pada momen-momen Ramadan biasannya hampir setiap hari jadwal ngaji pasti tidak pernah absen mulai dari ngaji bandongan ustadz perkelas sore, tadarusan ba’da maghrib, ngaji bandongan romo kyai ba’da tarawih, dan ngaji bandongan romo kyai subuh. Itu semua dilakukan sebagai bentuk rasa kehausaan ilmu serta mendapatkan pahala di bulan Ramadan.

Bahkan sehabis sekolah para santri menyempatkan nderes (belajar) agar ketika jadwal membaca ngaji berjalan lancar. Apalagi bisa membuat senang ustadz ketika lancar membacanya. Rasanya tidak hanya seneng saja, tetapi sangat bahagia sekali. Saya misalnya pada kelas 2 MAN Wonokromo (sekarang MAN 3 Bantul) selalu nderes soal arab gundul yang ditulis oleh ustadz Rofik. Walaupun memiliki perasaan susah, namun setidaknya pembelajaran ngaji Ramadan ini menguras tenaga pikiran, perbuatan. Sampai saya memasuki kelas 3 MAN kesulitan-kesulitan ngaji menjadi terbiasa menjalankannya. Selain kegiatan kelas, di Fadlun sendiri menggelar ngaji bandongan khusus yang ngajar pak kyai ba’da terawih.

Yang membuat saya terkagum tidak hanya dihadiri oleh santriwan-santriwatinya, alumni sampai santri kalong ikut meramaikannya dalam suasana gembira. Hingga membuat perasaan romo  kyai Katib Masyhudi yang memberikan apresiasi luar biasa terhadap murid-muridnya, “alhamdulillah sampeyan-sampeyan diwenei pangkat ngaji kaleh gusti Allah Swt iku luar biasa ampuhe, mergane ngaji ngene iki supayane isoh ngerteni isine al-Qur’an, ora gur moca-moco wae“ (alhamduliiah sampeyan-sampeyan diberikan pangkat ngaji oleh Allah swt itu luar biasa ampuhnya, karena ngaji seperti ini suoaya bisa tahu isinya al-Qur’an, tidak cuman baca-baca saja). “ ujarnya .
Baca juga:  Sadar Kematian Bisa Datang Kapan Saja
Kata-kata itu selalu diucapkan awal pembukaan ngaji, pertengahan, dan akhiran. Seakan-akan saya dihipnotis dalam dokrin yang mengantarkan kebarokahan pengetahuannya. Room kyai juga tak henti-hentinya menceritakan pengalaman ngajinya selama 20 tahun . kata-kata yang paling saya ingat kira-kira bunyinya seperti ini “aku kie mondok mung 2 bulan tok, tapi ngajiku 20 tahun mas mbk, dadi masa mudaku entek nggo ilmu, ( “ aku ini nyantri cuman 2 bulan saja, tapi ngajiku 20 tahun mas mbk, jadi masa mudaku habis buat ilmu “).  Dulu saya berfikir ini mustahil karena habis setiap para kyai nyantri selama 8 tahun, 10 tahun, atau sampai akhir hayatnya. Tapi seorang room kyai bisa membuktikkan bahwa nyantri bertahun-tahun tidak berpengaruh jika dirinya tidak bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu agama.

Benar-benar merasa kangen dalam gengaman kenangan ngaji yang sudah menjadi perjalananku demi meluaskan pengetahuan agama. Begitu pula ketika saya keluar dari pesantren manfaat yang diberikan room kyai sangat membekas meskipun tidak sampai lancar membaca kitab kuning. Setiap sorenya ngaji teori-teori nahwu, kemudian melucur di masjid Wonokromo sambil menunggu berbuka puasa. Dilanjutkan sholat magrhib berjama’ah dan pulang ke pondok. Ada juga yang memilih untuk berbuka di angkringan spesial dekat dengan pondok. Ba’da magrhib selalu taddarusan buat kelompok yang dibagi oleh pengurus pondok.
Baca juga:  Racun tidak Membuat Syekh Al-Munawi Berhenti Menebar Ilmu
Saya bersama teman-teman sudah terbiasa melakukan aktivitas ngaji di Fadlun Minalloh. Mereka cenderung santai dan menikmati masa-masa mudanya. Saya juga heran ada santri yang santai ketika ngaji dia bisa menjawab pertanyaa-pertanyaan ustadz. Bayangan saya setiap santri berbeda-beda dalam memahami gaya pembelajarannya. Sampai saat ini saya sangat mengingat kenangan-kenangan ngaji selama Ramadhan di Fadlun Minalloh setiap harinya. Ciri khas yang melambangkan pengaruh santri di masyarakat kelak. Pengaruh yang tidak membawa manfa’at justru mendatangkan cahaya islami kental kearifan lokal.

Kita bisa lihat perjuangan para ‘ulama zaman dahulu benar-benar menjadikan Ramadhan sebagai bulan pendidikan masyarakat sekitar. Jihad terbesar yang seharusnya diterapkan di setiap momen-momen spesial. Kita tidak perlu perang seperti Nabi Muhammad saw memerangi kaum Quraisy yang dinamakan perang badar. Cukup dengan mengikuti kegiatan ngaji sudah melambangkan perang melawan kebodohan seperti perkataan room kyai Katib Masyhudi “ora sah melu perang koyok jamane kanjang nabi, awakdewe ngaji kitab wes cukup dijenengi jihad fisabilillah, imam malik wae dawuh “golek ilmu ngaji kitab ngene kie ganjarane luweh gede dibanding sholat fardhu “ ( “tidak perlu ikut perang seperti halnya di zaman Nabi Muhammad saw, kita ngaji kitab itu sudah cukup yang namannya jihad fisabilillah, imam malik berkata “ mencari ilmu dalam artian ngaji kitab seperti ini pahalannya lebih besar dibanding melakukan sholat fardhu “).  Maka dari itu saya juga mengajak pentingnya ilmu pesantren diajarkan melalui khazanah-khazamah pengetahuannya. Sehingga seorang santri berfikir secara universal dalam penerapan nasehat-nasehat romo kyai Katib Masyhudi dari kalangan santri dan alumni sekalipun khususnya di bulan Ramadhan ini. Dan juga merupakan tradisi santri Fadlun Minalloh yang banyak diikuti pondok pesantren sekitarnya.
Baca juga:  Ngaji Kepada Gus Baha: Sujud sebagai Identitas Hamba Allah

Artikel ini di kliping dari Alif.id sebagai kliping/arsip saja. Segala perubahan informasi, penyuntingan terbaru dan keterkaitan lain bisa dilihat di sumber.