Muhammad Iqbal, Rasionalitas Mistik, dan Kemajuan Peradaban Islam

Kliping Pemikiran Islam, Ditulis oleh Rojif Mualim

Sebagai umat muslim sejati, apakah tuan dan puan merasakan stagnasi peradaban Islam, atau malah justru merasakan kemunduran peradaban Islam. Kalau memang iya, perasaan itu sangat sejalan dengan apa yang telah dirasakan oleh seorang pembaharu abad 20, Muhammad Iqbal namanya.

Dari kegelisahannya membuatnya melihat dengan jeli dan tajam atas potret kemunduran peradaban umat Islam, terutama di masanya dan masa silam. Namun, di sisi lain Iqbal punya statmen yang agak menarik, katanya, umat Islam lemah dan mundur karena takdir, tetapi Barat maju juga karena takdir, kalau begitu halnya mengapa tidak kau sendiri menjadi pencipta takdirmu?

Di sisi lain, ia juga meyakini bahwa, sejarah menjadi sebuah pergerakan progresif. Ia memiliki argumentasi teologis terdahap keberlanjutan alam semesta. Bumi tidak sekali jadi, Tuhan selalu sibuk. Secara kontinyuitas menciptakan sesuatu yang baru di muka bumi dan alam semesta ini. Oleh sebab itu, Ijtihad baginya sangat diperlukan sebagai gerak aktif dalam Islam. Sebagai upaya menghadapi aksi Tuhan. Merespon Tuhan. Memenuhi undangan Tuhan.

Iqbal juga menegaskan kembali tentang konsep Alquran mengenai alam empiris. Menurutnya akal punya peran sentral. Rasio menjadi fakultas untuk mendapatkan kebenaran. Termasuk kebenaran dalam menjalani perjalanan kehidupan ini. Kebenaran membangun peradaban Islam itu sendiri.

Ia meyakini, bahwa peran inteleklah yang mampu mendapatkan kebenaran yang lebih tinggi. Meski ulama tasawuf seperti Al Ghozali tampak memisakahkan, mempertentangkan antara rasio dengan intuisi, tapi Iqbal melihat intuisi sebagai kelanjutan rasio, dalam tatarannya lebih tinggi, Iqbal justru meyakini rasio dan intuisi tidak dapat dipisahkan. Jadi, Iqbal sangat berupaya untuk mengembalikan kembali tasawuf sebagai metode-sah pencarian kebenaran dalam Islam. Sehingga peradaban Islam akan kembali seperti sediakala, mampu mengikuti perkembangan zaman dan melahirkan kemaslahatan umat seluruh dunia.
Baca juga:  Sabilus Salikin (95): Ajaran dan Adab Murid Pengikut Tarekat Khalwatiyah
Sehingga, gagasan rasionalitas mistik ini hadir sebagai upaya rekounstruksi pengalaman religius masing-masing individu atau insan muslim. Sebab, tanpa adanya gagasan rekonstruksi ini, insan muslim tidak akan luruh oleh peradaban yang datangnya dari barat dan dari timur Islam itu sendiri, yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Hal itu kiranya penting untuk melihat kembali gagasan mistik Islam, yang selama ini diikuti dan diyakini oleh sebagian umat Islam secara taqlid buta.

Lalu apa makna sebenarnya rasionalitas Mistik itu? Menurut Raha Bistara (2022) Rasionalitas Mistik adalah suatu usaha merasionalisasikan mistik yang dilakukan oleh Iqbal dalam merekonstruksi gagasan mistik yang selama ini gagal dipahami oleh sebagian umat Islam.

Manusia hidup dengan pengetahuan, sementara pengetahuan pengetahuan secara definitif ialah buah pikiran yang masuk lewat seluruh panca indera manusia, pengetahuan kalau kita bagi ada 3 jenis pengetahuan yakni pengetahuan rasio, sains, dan batin, ketiganya memiliki ruang lingkupnya masing-masing, punya cara kerja masing-masing.

Maka Iqbal dalam hal ini ingin mengintegrasikan seluruh cabang pengetahuan yang dimiliki oleh manusia agak berfungsi dengan seimbang dan tepat sasaran dalam membangun peradaban Islam itu sendiri. Karena, Iqbal melihat kemunduran umat manusia, khususnya Islam disebabkam karena ketidak seimbangan manusia dalam memfungsikan daya manusia yang dimiliki setiap insan itu. Ia melihat dan sikap esketis.
Baca juga:  Pada Mulanya adalah Surat: dari Imam asy-Syafi’i hingga RA Kartini
Maka, dari situlah Iqbal melahirkan sebuah perspektif kebaruan, yakni Rasionalitas Mistik, ia menjadi gagasan Iqbal sebagai sumbangan untuk perkembangan umat Islam dunia. Menjadi buah gagasan tertinggi yang dapat menyingkap simbol-simbol Tuhan secara rasional. Karena, para filsuf terdahulu seperti Schimmel dan Nasr ia meninggalkan panca-indera dan akal. Rasionalitas Mistik menjadi unsur terpenting dalam kedirian insan muslim. Sehingga ia mampu bertanggung jawab atas tugasnya yakni sebagai Kholifah fil ard.

Dengan menanamkan rasionalitas Mistik dalam khudi (ego) insan muslim,  maka membuat ia akan mampu berbuat kebaikan, karena ada dorongan, kecenderungan ke arah sana, atau istilah lain dorongan melioristik. Gagasan rasionalitas Mistik menjadi pengintegrasi antara sufisme kultural dan Islam rasional. Membuat ia kreatif, karena ketiga unsur kedirian mereka hidup dan saling terintegrasi dengan baik.

Sebab, tradisi rasionalitas mistik memang tidak bisa dilepaskan dalam religiusitas umat muslim dan berkat rasionalitas mistik insan muslim bisa menangkap Realitas Mutlak (Raha Bistara, 2022:126)

Agama datang membawa syariat, yang tidak sekedar menuntut pengamalan jasmani, atau penalaran akal, tetapi lebih-lebih penghayatan rohani dan karena itu pula Islam menghubungkan manusia dengan Allah melalui segala sesuatu yang terbentang di alam raya ini.

Selembar daur kering yang jatuh dari pohonnya, rumput-sumput hijau yang segar atau yg layu, suara Guntur yang menggelegar, bahkan kehadiran semua wujud hendaknya menjadi “jangkar-jangkar emosi” untuk menyadarkan dan menghubungkan manusia dengan Tuhannya. Ketika itulah manusia mencapai kesempurnaan wujudnya.

Orang bijak pernah berkata “wahai manusia. Engkau adalah alam yang besar, luas dan dalam. Berikanlah kepada alam materi, sedikit dari akalmu agar dia berakal, sedikit dari hatimu agar dia berperasaan, sedikit dari gerakmu agar dia pun bergerak”. Engkau adalah Kholifah yang dianugerahi ilmu serta kemampuan berekspresi dan mencipta melalui akalmu, Roh, dan perasaanmu, maka jangan abaikan itu.
Baca juga:  Tradisi Penyusunan Kitab Arba’in
Beberapa pakar menyimpulkan, ada daya-daya pokok manusia, potensi yang dimiliki manusia, yang bila diasah dan diasuh dengan baik akan melahirkan kemampuan yang luarbiasa. Daya fisik melahirkan ketrampilan, daya pikir melahirkan ilmu dan teknologi, Kalbu melahirkan kepekaan, imajinasi, serta iman, daya hidup dapat menyesuaikan diri dengan segala tantangan sehingga mampu mengatasinya. Pakar lain mengatakan sebagai Intelektual Questiont, Intelektual Emotional, intelektual Spiritual, intelektual Adversity.

Semuanya itu harus cocok tempat dan waktunya. Ada kamar-kamarnya. Sungguh keliru jika anda masuk kamar tidur untuk makan, mandi di ruang tamu, misalnya, dst. Ajaran Islam sendiri mengajarkan tentang keseluruhan (kaffah). Ajaran Islam satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, representasinya, ya rukun Islam itu.

Sebagai pungkasan, saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca. Buku ini memuat pemikiran Iqbal atas kegelisahannya terhadap kemunduran Islam yang diracik ulang oleh seorang anak muda yang cukup elegan di bidangnya. Racikan dan kemasannya pun baik, buku ini seperti membaca cerita ringan tetapi secara tidak sadar memberikan solusi atas masalah keberagamaan kekinian.

 

Judul Buku : Rasionalitas Mistik dalam Filsafat Khudi Muhammad Iqbal

Pengarang : Raha Bistara

Penerbit : Sulur Pustaka

Cetakan, Tahun terbit : Pertama, 2022

Dimensi buku : 164 hlm.

ISBN : 978-623-5294-06-3

 

Artikel ini di kliping dari Alif.id sebagai kliping/arsip saja. Segala perubahan informasi, penyuntingan terbaru dan keterkaitan lain bisa dilihat di sumber.