Murid-Murid Imam Syafi’i (3): Abu Ibrahim al-Muzanni, Sang Pembela Mazhab Syafi’i

Kliping Pemikiran Islam, Ditulis oleh M Jauharil Ma’arif Annur

Al-Muzanni adalah santri senior Imam Syafi’i di Mesir. Ia mengaji kepada Imam Syafi’i sejak berumur 9 tahun. Nama aslinya adalah Ismail bin Yahya, tetapi sebutan Muzanni lebih populer untuknya. Nama Muzanni sendiri dinisbatkan kepada nama nenek moyangnya, Muzainah binti Kalb.

Al-Muzanni lahir pada tahun 175 Hijriyyah di Gaza, Palestina. Selain kepada Imam Syafi’i, ia juga berguru kepada Nuaim bin Hammad dan ulama lain pada masanya. Murid-muridnya yang masyhur antara lain adalah Ibnu Khuzaimah, at-Thohawi, Zakariya as-Saji, Ibnu Jauso dan Ibnu Abi Hatim.

Al-Muzanni adalah sosok ulama yang zuhud, alim, ahli berdebat, orator ulung, penyampaiannya mendalam, kata-katanya membius, dan pemikirannya cemerlang. Soal keahliannya dalam berdebat ini, gurunya, Imam Syafi’i  berkomentar: “Seandainya al-Muzanni berdebat dengan setan, niscaya ia akan mengalahkannya.”

Dalam hal zuhud, al-Muzanni sudah berada pada level “Top Markotop”. Dikisahkan bahwa ketika ia ketinggalan sholat berjamaah, ia akan sholat sebanyak 25 rakaat untuk mengganti keutamaan sholat jamaah. Ia juga gemar memandikan jenazah. Ketika ditanya alasan kesukaannya memandikan jenazah, ia menjawab: “Aku memandikan jenazah supaya hatiku menjadi lembut dan lentur.”

Amr bin Utsman pernah mengungkapkan kekagumannya terhadap kezuhudan al-Muzanni: “Aku belum pernah melihat seseorang yang lebih tekun dan istiqomah beribadah daripada al-Muzanni. Ia menghormati ilmu dan ulama melebihi siapapun. Ia menerapkan aturan ketat zuhud pada dirinya sendiri, akan tetapi sangat meringankan aturan tersebut pada orang lain.”
Baca juga:  Ulama Banjar (44): Dr. KH. Idham Chalid
Al-Muzanni adalah salah satu murid kebanggaan Imam Syafi’i. Di saat Imam Syafi’i berada di penghujung ajal, ia termasuk murid yang diajak berdialog dan bermusyawarah untuk terakhir kalinya. Ia jugalah yang memandikan sang guru sebelum dikebumikan.

Al-Muzanni adalah murid Imam Syafi’i yang paling banyak mengarang kitab. Karangannya yang bisa terdeteksi sekitar 9 buah kitab. Kitab tersebut yaitu al-Jami’ al-Kabir, al-Jami’ as-Shoghir, al-Mantsur, al-Masail al-Mu’tabaroh, at-Targhib fi al-Ilm, Kitab al-Watsaiq, Kitab al-’Aqorib, Kitab Nihayah al-Ikhtishor dan al-Mukhtashor al-Muzanni. Kitab yang disebut terakhir adalah karya monumentalnya karena kitab inilah yang menjadi dasar Mazhab Syafi’i hingga bisa berkembang pesat seperti sekarang ini.

Al-Muzanni bisa dikatakan sebagai Core of the core, intinya inti Mazhab Syafi’I (tentunya setelah Imam Syafi’i). Kalau kita lihat genealogi (silsilah keilmuan) dalam Mazhab Syafi’i, maka kita akan menemukan fakta bahwa hampir semua kitab induk Mazhab Syafi’i (seperti Nihayatul Mathlab, al-Hawi al-Kabir, Bahru al-Madzhab, al-Lubab, dan al-Khulashoh) bermuara pada kitab Mukhtashor­-nya al-Muzanni. Oleh sebab itu, Tak heran, ketika ditanya mengenai al-Muzanni, Imam Syafi’i menjawab: “Ia (al-Muzanni) adalah nashir (pembela) mazhabku.”

Dalam mengarang kitab mukhtashor-nya, al-Muzanni tidak hanya mengerahkan seluruh kemampuan fisiknya saja, melainkan juga menjalani ritual tirakat yang luar biasa. Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa ketika menulis setiap satu permasalahan, al-Muzanni akan melakoni shalat 2 rakaat dan begitu seterusnya sampai ia merampungkan karya fenomenalnya ini. Mungkin karena lakon tirakatnya inilah, kitab al-Muktahor bisa dianggap salah satu mahakarya terbesar dari murid-murid Imam Syafi’i.
Baca juga:  Ulama yang Mulai Serius Belajar di Usia Tua (3): Imam Abu Fattah al-Muni’i
Al-Muzanni menghembuskan nafas terakhir pada 24 Ramadhan 264 Hijriyyah. Peristirahatan terakhirnya berada di samping orang yang paling ia hormati, sang guru, Imam Syafi’i. Tepatnya di daerah Abageyah, Mesir. Dikisahkan dari sebagian masyarakat Mesir bahwa setelah al-Muzanni dikuburkan, pusaranya didatangi banyak burung. Ketika mereka ingin mengusir para burung itu, Rabi’ bin Sulaiman mengatakan: “Jangan kalian usir burung-burung itu! Karena kejadian ini belum terjadi lagi semenjak kewafatan sang sufi agung, Dzinnun al-Misri.”

Anak didik Imam Syafi’i ini menutup usia pada umur 89 tahun. Ia adalah sang pembela Mazhab Syafi’i dan meninggalkan banyak keteladan yang patut dicontoh. Ia adalah bukti bahwa fakih dan ahli ibadah adalah hal yang harus menjadi satu kesatuan, bukan malah dipisahkan. Allahumma infa’na bi ‘ulumihi wa barokatihi…

Amin.

Referensi:

  1. As-Subki, Tajuddin. 2019. Thobaqot as-Syafi’iyyah al-Kubro. Kairo: Dar al-Faruq.
  2. Ad-Dimasyqi, Abu al-Falah. 1988. Syadzarat adz-Dzahab. Beirut: Dar Ibnu Katsir.
  3. As-Syairozi, Abu Ishaq. 1981. Thobaqot al-Fuqoha’. Beirut: Dar ar-Roid al-Arabi.
  4. Al-Ubadi, Abu al-Ashim. Tt. Thobaqot al-Fuqoha, as-Syafi’iyyah. Alexandria: Maktabah al-Baladiyyah.

Artikel ini di kliping dari Alif.id sebagai kliping/arsip saja. Segala perubahan informasi, penyuntingan terbaru dan keterkaitan lain bisa dilihat di sumber.