Nusron Wahid: Puasa Ramadhan itu Transaksi Manusia dengan Allah

Jakarta, Bulan Ramadhan merupakan salah satu bulan yang dimuliakan oleh Allah. Di dalamnya terdapat ibadah puasa yang menjadi kewajiban setiap umat Islam di manapun berada. Puasa merupakan suatu transaksi antara manusia dengan Allah.

Hal tersebut dikatakan Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Nusron Wahid dalam video yang diunggah oleh YouTube Official Menara Kudus dilihat pada Jumat (15/4/2022) malam.

Menurut dia, keutamaan orang yang berpuasa amat banyak. Salah satunya akan diangkat derajatnya oleh Allah. “Orang yang berpuasa insyaallah derajatnya akan diangkat oleh Allah serta semua dosa-dosanya diampuni,” ujarnya. 

“Kenapa diampuni oleh Allah? Karena sudah berpuasa. Selain itu, puasanya dengan menggunakan model transaksi, yaitu transaksi imanan wahtisaban. Puasanya menggunakan iman serta wahtisaban menggunakan itung-itungan,” jelas Nusron. 

“Jadi puasa itu ihtisaban. Nah, ihtisaban itu dari kata hasiba yang memiliki makna transaksi. Jadi puasa itu transaksi, tetapi transaksinya hanya kepada Allah Ta’ala,” lanjut alumnus Madrasah Qudsiyyah Kudus ini.

Mantan Ketua Umum Gerakan Pemuda (GP) Ansor itu kemudian mengutip perkataan dari seorang dai yang menyatakan bahwa iman seseorang juga perlu diberikan booster selama Ramadhan.

“Kata Ust Das’ad Latif, yang namanya Ramadhan itu booster keimanan. Jadi yang di-booster itu tidak hanya vaksin saja. Akan tetapi, iman pun perlu di-booster supaya menjadi lebih baik,” tandasnya.

Dalam video itu, Nusron Wahid juga mengatakan bahwa hendaknya semua kader NU harus siap jika suatu saat dipanggil untuk berkhidmah di NU.

“Karena kita sebagai kader NU kita tidak boleh menolak jadi apapun. Jadi anggota saja siap, apalagi menjadi pengurus. Pokoknya tidak boleh menolak, harus siap kalau dipanggil untuk kepentingan Nahdlatul Ulama,” tegasnya.

Mantan Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) itu kemudian mengutip salah satu bait dalam kitab Alfiyah ibnu Malik yang berbunyi, “Wama yalil mudhafa ya’ti khalafa # ‘anhu fil i’rabi idza ma hudzifa”.

“Kita sebagai kader NU ibarat mudhaf ilaih. Namanya mudhaf ilaih itu harus selalu siap menjadi mudhaf. Kapan itu, ketika mudhaf-nya sudah tidak ada, maka mudhaf ilaih-nya harus siap-siap menjadi mudhaf,” jelas Nusron Wahid.

Kontributor: Ahmad Hanan Editor: Musthofa Asrori

Artikel ini di kliping dari www.nu.or.id sebagai kliping/arsip saja. Segala perubahan informasi, penyuntingan terbaru dan keterkaitan lain bisa dilihat di sumber.