Perihal Allah Sebagai Tuhan

Kliping Pemikiran Islam, Ditulis oleh Muakhor Zakaria

“Mengapa banyak orang Indonesia mengaku Islam, tapi sesembahannya selalu saja hilir-mudik antara tuhan dan dewa-dewi, antara timur dan barat?” (Hafis Azhari, penulis buku Pikiran Orang Indonesia)

Konon, setelah kita mati dan pindah ke alam kubur, akan muncul duo malaikat Munkar-Nakir yang mengajukan soal-soal yang harus dijawab dengan baik, sebagaimana kita menjawab soal ujian untuk kenaikan kelas. Malaikat itu akan bertanya: 

“Man rabbuka?”

“Ma dinuka?”

“Man nabiyyuka?” 

dan seterusnya.

Sebagai orang Indonesia yang senang memahami agama dalam konteks apa, siapa, kapan dan di mana, mungkin akan mudah menjawabnya berdasarkan hafalan yang dipersiapkan di alam dunia: Allah adalah tuhanku, Islam adalah agamaku, dan Muhammad adalah nabiku. Tetapi kemudian, Malaikat mencecar dengan pertanyaan yang lebih tendensius: Bagaimana kamu bisa masuk Islam? Kenapa kamu menjadikan Allah dan Muhammad sebagai tuhan dan nabimu? Apakah kamu paham Allah itu dari kata apa? Apakah kamu juga tahu sejarah hidup nabimu, Muhammad?

Oleh karena itu, melalui artikel ini, perlu dijelaskan mengenai kata “Allah”, dan dari mana sumbernya hingga umat Islam menjadikan “Allah” sebagai tuhannya? Namun, kiranya pembaca perlu berhati-hati, sebab yang akan saya jelaskan adalah perihal tinjauan sejarah bahasa mengenai kata “Allah”, bukan soal Dzat Allah yang memang manusia memiliki keterbatasan mengenai ilmu tentang hakikat kebenaran-Nya.

Ada ulama yang mengatakan bahwa kata “Allah” tidak memiliki kata asal (murtajal), seperti kata bumi atau langit yang bukan berasal dari kata ‘la’ dan ‘ngit’, atau ‘bu’ dan ‘mi’. Beda dengan kata membumi atau selangit, yang dapat dipisahkan dari asal katanya (bumi dan langit) dan mendapat imbuhan ‘mem’ dan ‘se’. Karena kata Allah tidak berasal dari sumber manapun (jamid), maka seluruh huruf adalah kebulatan yang utuh, tak bisa dipisah-pisahkan alias tak memiliki asal-usul yang pasti.

Ulama dan filosof muslim Ibnu Arabi (w. 543 H) dan Ar-Razi (w. 606 H) berpendapat, jika Allah memiliki kata dasar, berarti kata itu adalah turunan. Sedangkan nama Allah itu sudah ada sejak awal (qadim) dan tidak memiliki asal muasal.
Baca juga:  Bikin Gaduh dan Menjadi Esktrimlah, agar Diajak Bargaining
Ada juga pendapat yang mengacu dari surah al-Anam, ayat 3: “Dialah Allah di langit dan di bumi.” Ayat ini mengisyaratkan bahwa Allah itu berasal dari kata sifat dari Sang Khalik (Pencipta) yang bisa dihubungkan dari kata asalnya ‘al-Ilah’ yang berarti Tuhan yang disembah. Sehingga, ayat tadi bisa kita terjemahkan, “Dialah Sang Tuhan yang disembah di langit dan di bumi.”

Jika kita pahami bahwa kata itu tidak memiliki asal kata, maka artinya menjadi rancu, “Dialah Allah, di langit dan di bumi.” Padahal, keberadaan Allah bukan di atas langit dan bukan pula di permukaan bumi.

Ibnul Qayyim juga berpendapat bahwa kata Allah berasal dari kata ‘al-Ilah’ (Sang Tuhan yang disembah) yang diikuti juga oleh pendapat para muridnya, kecuali beberapa orang saja yang berbeda pendapat. Jadi, kata Allah sudah meliputi semua makna dari asma’ul husna dan sifat-sifat Tuhan yang mulia.

Jika kita memahami kata Allah adalah kata turunan, lalu apa asal usul dari kata Allah tersebut?

Para ulama seumumnya berpendapat bahwa asal kata Allah adalah ‘al-Ilah’ yang merupakan turunan dari kata, ‘aliha-ya’luhu’ (madli dan mudlari), yang artinya beribadah atau menyembah. Sedangkan, kata dasarnya (masdar) adalah ‘ilah’ yang bisa diartikan sebagai pelaku (fa’il) tetapi juga bisa menjadi obyek perbuatan (maf’ul). Jadi, isim maf’ul dari kata tersebut adalah ‘ma’luh’ yang berarti Dzat yang disembah.

Sebagian lain ada yang berpendapat bahwa asal katanya adalah ‘laaha- yaliihu’ yang artinya ‘tersembunyi’. Pendapat ini mengisyaratkan bahwa nama Allah merupakan Dzat yang tersembunyi dari semua makhluk ciptaan-Nya.
Kesepakatan ulama
 Pada prinsipnya, para ulama bersepakat bahwa kata Allah adalah nama untuk Tuhan semesta alam (Rabbul Izzati). Kata ‘ilah’ sendiri dipakai untuk semua yang dianggap sebagai Tuhan, kemudian di depannya diberi penambahan huruf ‘alif’ dan ‘lam’ (al-ma’rifat), sehingga menjadi ‘al-ilah’ untuk menunjukkan Dzat tertentu. Lalu, huruf hamzah kata ‘ilah’ dibuang, maka jadilah kata Allah. Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa lafal ‘Allah’ yang berasal dari kata ‘al-ilah’ itu dimaksudkan sebagai nama Dzat Yang Maha Esa, Mahakuasa, dan Mahapencipta, Dzat yang wajib mengada (al-wujud).
Baca juga:  Gus Dur dan GUSDURian
Dalam kitab “Fathul Mu’in”, Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibari

memiliki pendapat yang tak jauh berbeda, bahwa Allah adalah Dzat yang wajib mengada, dan berasal dari kata ‘ilahun’. Kata itu kemudian dimakrifatkan dengan ‘al’, lalu huruf hamnzahnya dihilangkan, maka jadilah ‘Allah’. Ia kemudian digunakan untuk sebutan nama Dzat yang paling berhak disembah (fil-ma’budi bihaqqi). Ia adalah nama yang agung (ismul a’zham), sehingga yang selainnya tak layak dipanggil dengan sebutan “Allah”.

Bahkan, seorang profesor dari Universitas Chicago, Fazrul Rahman menegaskan dalam bukunya (Ensiklopoedi Hukum Islam):  “Allah itu nama Tuhan yang sesungguhnya, dan merupakan totalitas nama Tuhan yang mencakup semua nama yang lain.”
Pra dan pasca Islam
Sebelum kedatangan Islam, banyak orang Arab terdahulu yang memakai nama ‘Abdullah’, termasuk ayah dari Nabi Muhammad Saw. Sejak dahulu kala, ia sudah mengandung arti ‘hamba Allah’. Bukti-bukti arkeologis, gereja-gereja dan kuburan tua sebelum datangnya Islam, baik di Yaman hingga Yordania, sering ditemukan berbagai inskripsi bertuliskan “Allah”, misalnya di Yordania Utara (Umm Jimal). Di era kerajaan Himyar dan Aksum juga banyak dijumpai nama-nama Nasrani yang menggunakan kata “Abdullah”. Seorang jenderal beragama Kristen, yang bernama Abdullah bin Abi Bakar yang wafat di Najran sejak 523 Masehi, terungkap mengenakan cincin bertuliskan “Allahu Rabbi” (Allah adalah Tuhanku).

Berbagai kajian sejarah dan arkeologi menunjukkan kata “Allah” sudah ada jauh sebelum Islam lahir pada abad ketujuh di Mekah, dan dipakai sebagai nama Tuhan oleh berbagai kelompok agama (baik monotheis maupun politheis) di wilayah Arab dan Timur Tengah. Memang ada banyak nama untuk menyebut kata Tuhan. Seorang budak dari Ethiopia, Bilal bin Rabah, menolak segala azimat, benda pusaka, maupun dewa-dewi yang dipersekutukan dengan Tuhan. Baginya keprcayaan pada Manat, Hubal, Latta maupun Uzza begitu njelimet tak karuan. Ia menyederhakan kepercayaannya pada kekuatan di balik semua tingkah-polah dewa-dewi itu, lalu menyebut kata Tuhan sebagai “Ahad” yang berarti “Yang Esa” atau “Yang Maha Tunggal”.
Baca juga:  Kampus Sekuler, Kampus Religius?
Pada masa itu, sebenarnya kata “Allah” sudah dipakai oleh penganut Kristen di wilayah Arab, seperti Koptik, Maronite, Melkite dan lain-lain. Selain itu, penganut Kristen Malta, Babisme di Iran, Yahudi Mizrahim sejak era biblikal di Timuir Tengah, juga menggunakan kata “Allah” sampai sekarang.

Ada sebagian pendapat ulama mengatakan, bahwa kata “Allah” muncul secara spontanitas (murtajal) dan diucapkan oleh banyak masyarakat Arab. Meski tidak sedikit ilmuwan dan sejarawan Arab, berpendapat bahwa kata “Allah” merupakan bentuk kepadatan dari ‘al’ (dalam bahasa Inggris, ‘the’), dan ada juga yang berpendapat dari kata ‘lah’ yang berarti agung. Adapun mereka yang berpendapat bahwa kata tersebut adalah gabungan dari ‘al’ dan ‘ilah’ berarti mengandung makna “the God”, yang artinya “Tuhan yang itu”.

Yang tak kalah menarik, kata “Allah” juga ditemui dalam bahasa lainnya seperti rumpun Semitik yang usianya jauh lebih tua dari bahasa Arab, seperti bahasa Hebrew dan Aram. Dalam bahasa Aram dikenal “Elah”, “Elaha” atau “Alaha”. Di dalam Bibel Hebrew, juga tertulis kata “Eloah”, “Elohim” dan “El”.

Jadi, masyarakat Arab yang beragama Yahudi dan Kristen waktu itu (termasuk Arab non-Yahudi dan Kristen) hingga saat ini, banyak yang menggunakan kata “Allah” untuk menyebut nama Tuhan yang disembah, Pencipta dan Pemelihara semesta alam.

Di dalam Alquran, kata “Allah” yang universal itu tertulis sebanyak 2697 kali, kata “Rabb” tertulis sebanyak 839 kali, sedangkan kata “ilah” sebanyak 147 kali.  Wallahu a’lam. (*)

Artikel ini di kliping dari Alif.id sebagai kliping/arsip saja. Segala perubahan informasi, penyuntingan terbaru dan keterkaitan lain bisa dilihat di sumber.