Pertolongan Pertama saat Penderita Epilepsi Kambuh

Jakarta, Epilepsi adalah gangguan pada sistem saraf pusat akibat pola aktivitas listrik yang berlebihan di otak. Hal ini menyebabkan penderitanya mengalami kejang secara berulang-ulang pada sebagian atau seluruh tubuh. Seringkali orang dibuat bingung bagaimana cara melakukan pertolongan pertama pada pasien kejang.

Dokter Heri Munajib dari Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) menjelaskan cara pertolongan pertama ketika kejang terjadi.

“Pertolongan pertama ketika kita ketemu orang yang sedang kejang, penolong harus bersikap tenang. Itu yang paling penting. Karena kalau dia panik, juga tidak membantu banyak,” ujarnya pada tayangan Epilepsi, Stigma, dan Puasa Ramadhan, diakses Senin (18/4/2022).

Kemudian langkah selanjutnya adalah menjauhkan pasien dari benda-benda berbahaya, karena serangan, epilepsi bisa timbul di mana-mana, bisa ketika belanja di pasar, ketika nyetir, ketika main-main, bisa di mana pun. Saat pasien epilepsi jatuh di tengah jalan, harus dipinggirkan.

“Kemudian dihitung lama kejangnya berapa menit. Kalau lebih dari lima menit saran saya hubungi rumah sakit atau dibawa ke rumah sakit. Karena kalau lebih dari lima menit ada kemungkinan dia kejangnya lebih memanjang. Kemudian kalau terjatuh dimiringkan, hindari kepalanya dari benturan,” ungkapnya.

Menurut Heri Munajib yang paling penting jangan memasukkan sesuatu ke dalam mulut. Dirinya mengatakan sering menemui pasien kejang dimasukkan air, lalu tersedak dan air itu masuk ke dalam paru-paru, akhirnya terjadi infeksi paru.

“Jadi kalau orang kejang biarkan sampai kejangnya dia berhenti. Kalau epilepsi biasanya 1-3 menit, jangan dimasukkan sesuatu ke dalam mulut, baik itu orang dewasa maupun anak-anak. Saya sering sekali menerima pasien epilepsi terutama anak-anak, pasien kejang ibunya panik, ketika terjadi epilepsi dimasukkan sendok, dimasukkan kayu. Untuk apa?” tanyanya.

Ia mengimbau agar tidak memasukkan sendok atau kayu kepada pasien epilepsi yang sedang kambuh. Memang penderita epilepsi sering tergigit lidahnya, tetapi tubuh punya respons adaptif ketika mulai tergigit dia langsung ketarik. Tidak ada ceritanya penderita epilepsi itu lidahnya terpotong atau tergigit sampai putus.

“Kalau kita paksa pakai kayu, kita paksa pakai sendok, gigi ini bisa patah, begitu patah masuklah ke paru-paru. Kan ini jadi komplikasi. Itu seringkali. Jadi saya itu kasihan kepada pasien-pasien yang seharusnya hanya epilepsi saja, tapi karena ketidaktahuan terhadap serangan, dimasukkanlah ke mulut sehingga giginya patah, dan masuk ke paru-paru,” ujarnya.

Sering juga ditemui penderita epilepsi yang kejangnya menghentak-hentak tanah, sering dipegang tangannya. Menurutnya hal tersebut merupakan sesuatu yang salah.

“Saya sering menemui pasien yang sedang kejang-kejang dipegang tangannya erat-erat malah jadi patah. Lah ini kan salah sebenarnya kalau seperti ini, kalau setelah kejang nafasnya tidak normal segera dibawa ke rumah sakit, bisa jadi karena serangan epilepsinya yang memanjang,” pungkasnya.
 
Kontributor: Malik Ibnu Zaman Editor: Kendi Setiawan

 

Artikel ini di kliping dari www.nu.or.id sebagai kliping/arsip saja. Segala perubahan informasi, penyuntingan terbaru dan keterkaitan lain bisa dilihat di sumber.