Prestasi Islam sebagai Semangat Menjalani Puasa Ramadhan

Oleh: Fauzan Hadi Ramadhan adalah seumpama ladang yang amat subur. Tentunya, kita semaikan benih yang baik dan bermutu yakni dengan shiyam dan qiyam yang kita laksanakan dengan sebaik-baiknya, yaitu shiyam dan qiyam yang dilandaskan pada keimanan dan pengharapan akan ridha dan ganjaran semata-mata dari Allah swt. Sebab hanya shiyam dan qiyam yang demikian sajalah yang akan membawa orang-orang yang beriman beroleh pengampunan dari Allah swt. Mari kita manfaatkan pula ladang yang subur ini dengan bertanam kebajikan dengan cara yang sebaik-baiknya. Sebab jika tidak dimanfaatkan dengan baik dan benar, ladang yang subur itu hanyalah akan mendatangkan rumput dan gulma yang tidak ada manfaatnya.
 
Shaum atau puasa dalam pengertian bahasa adalah imsak atau menahan diri. Sedangkan dalam pengertian syara’ adalah Al-imsaku an jami’il mufthirath atau menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa tersebut. Dan imsak atau menahan diri ini adalah merupakan kebutuhan setiap manusia. Ramadhan merupakan madrasah tempat jiwa dan raga kita diasah dan diasuh melalui kurikulum riyadhah atau latihan-latihan serius untuk berimsak atau menahan diri dari hal-hal yang tidak disukai oleh Allah swt demi mencapai ketaqwaan itu. Untuk mencapai taqwa tersebut, dalam madrasah yang bernama Ramadhan ini manusia yang beriman dituntut untuk berusaha sekuat kemampuannya untuk mencontoh Allah dalam sifat-sifat-Nya yang Agung. 
 
Bukankah Allah tidak makan, tidak minum dan tidak pula beranak dan diperanakkan oleh sebab dzat-Nya yang maha suci dari hubungan seksual? 
 
Seseorang yang berpuasa dari segi hukum syara’, dituntut untuk mencontoh Allah dalam ketiga hal tersebut, sebab ketiganya adalah merupakan kebutuhan yang sangat mendasar pada diri manusia. Sehingga bila manusia mampu untuk ber-imsak dan mengendalikan kebutuhan akan makan, minum, dan hubungan seksuual ini, maka kebutuhan-kebutuhan lain akan mudah dikendalikan, dan itu merupakan ciri dari orang-orang yang bertaqwa. Namun, dari segi hikmah yang lebih luas, di dalam madrasah Ramadhan yang suci ini kita juga dituntut untuk senantiasa berusaha dalam mencontoh keseluruhan dari sifat-sifat agung yang dimiliki-Nya. Maka benih-benih yang kita taburkan di ladang subur yang bernama Ramadhan ini hendaklah benih-benih yang dapat menumbuhkan sikap yang dilandasi sifat-sifat Allah swt. Sifat-sifat inilah yang diharapkan dapat menghiasi perilaku dan cara berpikir orang-orang yang berpuasa sehingga ketaqwaan yang diraihnya menjadi sempurna.
 
Allah maha berpengetahuan, maka seyogyanya orang-orang yang bertaqwa tidak lekas berpuas diri dengan sedikit ilmu yang dimilikinya. Allah maha pengasih dan penyayang, maha memberi, maka manusia yang berpuasa seyogyanya menyempurnakan ketaqwaannya dengan senantiasa menebarkan kasih sayang dan membuang kebencian serta sifat kikir terhadap sesama di sepanjang hayatnya. Allah juga maha lemah-lembut, maha indah dan yang perlu kita renungkan adalah bahwa Allah juga maha berkarya. Maka mari kita mencontoh sifat Allah yang maha berkarya ini sesuai kemampuan kita yakni dalam batas-batas kodrat yang telah diberikan-Nya. 
 
Hidup memang bukan sekedar menarik dan menghembus nafas. Tapi hidup adalah berkarya dan bekerja keras untuk memperoleh kesinambungan dan prestasi dunia dan akhirat. Bukankah Allah juga mencontohkan ini dengan sifat khaliq-Nya? Dia adalah sang khaliq, yaitu dzat yang maha berkreasi, dan Ia senantiasa pula berada dalam kesibukan sebagaimana dalam firman-Nya dalam Q.S. Ar Rahman [55] ayat 29: “Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.”

     Maka janganlah seseorang yang berpuasa menjadikan ibadah puasanya menjadi sisi yang berlawanan terhadap semangat kerja, daya kreasi dan kesibukan berkarya. Cobalah buka lembaran sejarah dan kita akan menemukan bahwa beberapa prestasi besar yang dicapai Rasulullah saw dan generasi-generasi setelah beliau justru diraih dalam bulan Ramadhan. Kemenangan besar dalam perang badar (2 H./624 M.) yang dahsyat itu terjadi pada bulan Ramadhan. Beliau juga sukses menguasai kembali Kota Makkah (8 H./630 M.) juga pada bulan Ramadhan. Dan sepeninggal beliau, di tahun 91 H./710 M. Daulah Islam mengukuhkan kekuasaannya di bumi Andalusia atau Spanyol melalui kemenangan perang yang berkecamuk dalam bulan Ramadhan. Kemenangan Shalahuddin Al-Ayubi dalam perang salib (584 H./1188 M.) juga pada bulan Ramadhan. Demikian pula kemenangan pasukan Islam melawan bala tentara Tartar dari Mongolia (658 H.) juga diraih dalam bulan Ramadhan, sampaipun proklamasi kemerdekaan bangsa kita juga dikumandangkan pada bulan Ramadhan. Maka sebagian fakta-fakta sejarah ini cukuplah sebagai alasan untuk tidak menjadikan Ramadhan sebagai alasan bermalas-malasan sehingga mandeg segala daya cipta dan semangat untuk berkarya.   
 
Kembali kepada tujuan utama puasa sebagai pembentuk ketaqwaan jiwa. Bahwa taqwa, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Ghazali ra. adalah kemenangan dari sebuah perang besar terhadap kecenderungan hawa nafsu yang senantiasa mengajak kepada pelanggaran-pelanggaran terhadap larangan Allah. Namun kita pun menyadari bahwa untuk menaklukkan hawa nafsu ini bukanlah perkara yang mudah. Sebab nafsu adalah bagian yang melekat pada diri manusia. Ia adalah makhluk Allah yang merupakan bagian dari fitrah manusia. Maka tujuan perang besar ini sama sekali bukan untuk membinasakan lawan, karena nafsu itu sendiri tentu tidak bisa dibinasakan. Oleh sebab itu tujuan perang besar ini adalah untuk menjinakkan hawa nafsu tersebut agar menjadi nafsul muthma’innah untuk kemudian dapat dikendalikan dengan sebaik-baiknya dalam rangka meraih ketaqwaan dalam perjalanan kita untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
 
Seorang yang berpuasa hendaklah dapat bertahan dari semua bujukan nafsu itu sebab semua itu dapat mengurangi bahkan menghapus seluruh pahala dari ibadah puasa. Inilah suatu kesia-siaan yang harus kita hindari sebagaimana Rasulullah saw juga pernah mengingatkan kita akan hal ini dalam sabda beliau yang berbunyi: 
 
“Betapa banyak orang-orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan balasan apa pun kecuali lapar dan dahaga.” (HR. Ibnu Majah no.1690 dan Syaikh Albani berkata, “Hasan Shahih”)
 
Dalam hadits lain yang diriwayatkan, beliau mengingatan pula bahwa:
 
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan palsu atau kotor, maka Allah tidak peduli apakah orang itu tidak makan atau tidak minum (dalam arti berpuasa) dan banyak orang yang berpuasa tetapi tidak mendapat pahala kecuali dapat lapar dan dahaga saja.” (HR. Bukhari no.1804).
 
Oleh karena itu, perang besar yang bernama puasa ini bukan sekedar masalah kekuatan fisik untuk menahan lapar, dahaga dan syahwat seksual semata, tetapi juga memerlukan energi besar untuk memunculkan kebijaksanaan dalam menjaga hati, perkataan, pandangan, pendengaran, maupun anggota tubuh lainnya hati agar tidak cenderung kepada pebuatan yang mungkar. Dengan kata lain bahwa puasa tidak terbatas pada aktifitas lahiriyah semata, tapi juga aktifvtas bathiniyah yaitu menjaga kebersihan hati dan pikiran dari kecenderungan kecenderungan yang mazmumah. Bila nafsu telah tunduk dan takluk, terlindunglah hati dan perbuatan dari kemungkaran. Jika setiap karya yang kita usahakan dilandasi dengan prinsip ketaqwaan dan pengabdian kepada Allah, maka sudah tentu prestasi yang kita capaipun akan membuahkan kesejahteraan bagi seluruh ummat manusia di dunia dan akhirat.
 
Penulis adalah Mahasiswa Magister Institut PTIQ Jakarta-PKU Masjid Istiqlal

Artikel ini di kliping dari www.nu.or.id sebagai kliping/arsip saja. Segala perubahan informasi, penyuntingan terbaru dan keterkaitan lain bisa dilihat di sumber.