Tafsir Surah Al-Qariah (Bagian 1)

Kliping Pemikiran Islam, Ditulis oleh Rizal Mubit

Nama Surah Al-Qariah menurut ulama hanya Al-Qariah saja. Tidak ada nama lain. Sebagian surah lain memiliki nama lebih dari satu. Nama surah itu ada yang diangkat dari ayat pertama seperti surah Al-Qariah ini. Ada juga yang diangkat dari kandungannya. Ada juga yang kita ketahui langsung dari Al-Qur’an seperti Al-Fatihah yang punya nama lain Sab’ul Matsani. Ada juga penamaan khusus yang diberikan oleh rasul dan sahabat-sahabat beliau.

Surah ini berbicara tentang kiamat. Walaupun ada pengulangan uraian tentang kiamat, tetapi pengulangan yang ditemukan dalam Al-Qur’an pasti mengemukakan sesuatu yang berbeda dengan yang lain. Jadi selalu ada hal baru yang dikemukakan. Yang kedua, pengulangan yang kita temukan dalam Al-Qur’an dapat dimengerti karena memang Al-Qur’an ini bukan kitab ilmiah seperti buku-buku ilmiah. Al-Qur’an adalah kitab dakwah.

Kalau ada orang yang menyusun skripsi, tesis, atau disertasi, penulisnya tidak mengulangi pembahasan satu bab dengan bab lain. Tetapi kalau kitab dakwah yang hidup di tengah masyarakat dan berinteraksi dengan masyarakat, berdialog dengan masyarakat, maka bisa saja isinya mengulangi uraian persis seperti seorang ayah yang menasehati anaknya. Jika keesokan harinya belum salat, si ayah perlu lagi mengulangi perintah lagi. Jika anaknya yang dijelaskan kepadanya suatu persoalan yang belum dimengerti, dia perlu diberi penjelasan yang sama tetapi dengan contoh-contoh lain. Begitulah Al-Qur’an dalam pengulangan-pengulangan uraiannya yang bertema sama tetapi ada hal-hal baru dalam redaksinya. Atau ada tambahan yang menyangkut tema tertentu.
Baca juga:  Mbah Maimoen Zubair: Motif Nabi Isa Diturunkan Kembali ke Muka Bumi Adalah untuk Menikah
Surah Al-Qariah ini merupakan surah Makiyyah. Oleh sementara ulama dikatakan, dia adalah wahyu ke-30. Terdiri atas sebelas ayat; tiga puluh kata; seratus lima puluh dua huruf. Al-Qari’ah adalah nama lain dari hari kiamat, seperti Al-Haqqah, At-Tammah, As-Sakhkhah, Al-Ghasyiyah, dan lain-lainnya.

Kata اَلْقَارِعَةُۙ – ١ terambil dari kata qara’a yang artinya mengetuk. Kata qari’ah dimaknai dengan ketukan dengan suara. Ada huruf ta’ marbuthah di dalam kata Qariah menunjukkan luar biasanya suatu kejadian. Seperti kata alim-allamah yang berarti orang yang memiliki ilmu yang sangat luas. Sehingga kata qariah adalah ketukan yang sangat luar biasa kerasnya sehingga memekakan telinga. Ada pula pendapat yang menyebutkan bahwa kiamat diberi nama Al-Qoriah karena sangkakala Israfil. Maksudnya, ketika malaikat Israfil meniup terompet, maka semua makhluk kaget luar biasa. Suaranya begitu dahsyat. Setelah itu, banyak manusia meninggal sebab suara terompet tersebut.

Bila digambarkan dengan suatu rumah yang runtuh maka ada suara ketukan yang keras. Maka, kehancuran alam raya menimbulkan suara keras seperti ketukan yang dahsyatnya memekakan suara. Karena suara ini orang-orang seperti kaget dan meneriakkan

مَا الْقَارِعَةُ ۚ – ٢

 

وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا الْقَارِعَةُ ۗ – ٣

Dan tahukah kamu apakah hari Kiamat itu?

Kata wamaa adraaka berarti sesuatu yang tak dapat dijangkau oleh nalar. Sehingga kiamat adalah kejadian yang luar biasa. Tidak ada yang benar-benar tahu seperti apa hakikatnya.
Baca juga:  Delapan Syarat Menjadi Orang Baik Menurut Al-Qur’an
 

يَوْمَ يَكُوْنُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوْثِۙ – ٤

Pada hari itu manusia seperti laron yang beterbangan

Pada hari itu seolah-olah manusia seperti laron yang berterbangan mendekati cahaya. Tetapi ini hanyalah gambaran kecil. Kejadian nyatanya lebih dahsyat dari yang digambarkan. Manusia tak tahu arah, tindih menindih satu sama lain. Bukan hanya itu, manusia yang durhaka juga disiksa.

Terdapat tiga pendapat di kalangan ulama dalam menafsirkan makna Farasy pada ayat ini. Pertama, maknanya ialah belalang-belalang kecil yang beterbangan dan saling bercampur-baur antara satu dengan lainnya. Kedua, maknanya ialah sejenis burung kecil atau serangga kecil, bukan nyamuk dan bukan pula lalat. Ketiga, maknanya ialah sesuatu yang berjatuhan dan bertebaran di sekitar api, baik berupa nyamuk ataupun serangga-serangga kecil lainnya.

Imam Al-Maraghi dalam tafsirnya mengatakan bahwa Farosy adalah jenis serangga yang mengelilingi lampu saat malam. Biasanya, Farosy ini dibuat perumpaan untuk sesuatu yang tidak tahu pada akibat dari suatu perbuatan. Maksud ayat empat Surat Al-Qariah di atas menurut Al-Maraghi, manusia kelak berada dalam kekagetan maha dahsyat. Sehingga mereka lari berhamburan. Mereka bingung, tidak tahu apa yang akan mereka lakukan.

Sumber:

Sumber:

Tafsir Marah Labid karya Syekh Nawawi Al-Banteni

Tafsir Al-Misbah karya Muhammad Quraish Shihab
Baca juga:  Kiai Ahsin Sakho: Setelah Ramadhan, Dzikir kepada Allah Harus Ditingkatkan
Tafsir Al-Maraghi karya Mustafa Al-Maraghi

Tafsir Al-Qur’anil Adzim karya Ibnu Katsir

 

 

Artikel ini di kliping dari Alif.id sebagai kliping/arsip saja. Segala perubahan informasi, penyuntingan terbaru dan keterkaitan lain bisa dilihat di sumber.