Tiga Kisah Viral tentang Mimpi Para Sufi dalam Kitab Nasaih al-‘Ibad dan Usfuriyyah

Kliping Pemikiran Islam, Ditulis oleh Rohmah Mutiati

Seringkali kita menganggap mimpi hanya sebatas bunga tidur, bener kan! Padahal dalam kitab-kitab ulama kita banyak sekali nasihat yang disampaikan melalui perantara mimpi seseorang yang sholeh. Pada tulisan ini kita akan meresapi nasihat penting yang disampaikan lewat mimpi tiga orang sholeh.

Abu Bakar asy-Syibli

Abu Bakar asy-Syibli merupakan salah satu tokoh sufi besar yang hidup di akhir abad ke-3 Hijriah di Baghdad. Dalam kitab naṣāi al-‘ibād karya Imam Nawawi al-Bantany, Ulama asal Jawa tersebut menukil suatu cerita mimpi Asy-Syibli.

Suatu ketika dalam mimpinya Asy-Syibli ditanya tentang keadaannya setelah meninggal. Maka Asy-Syibli menjawab “Allah bertanya padaku, wahai Abu Bakar (Asy-Syibli) apakah engkau mengetahui dengan apa Aku telah mengampunimu?” imam asy-Syibli menjawab: “dengan bagusnya amalku”, lalu Allah membalas “tidak”.

Kemudian asy-Syibli menjawab lagi “dengan keikhlasan ibadahku”, kembali Allah menjawab tidak. Asy-Syibli kembali menjawab “dengan haji, puasa dan sholatku”, dan kembali Allah menegaskan tidak. Asy-Syibli lalu menjawab “dengan hijrahku kepada orang-orang sholeh dan menuntut ilmu”, dan kembali Allah tegaskan bukan karena itu semua.

Asy-Syibli lalu berkata, “duhai Tuhanku, lalu dengan apa?”, maka Allah menjelaskan “apakah kamu ingat ketika engkau sedang berjalan di jalanan Baghdad lalu engkau menemukan anak kucing yang menggigil kedinginan dan berjalan sempoyongan, kemudian engkau ambil kucing tersebut karena kasihan dan engkau lindungi kucing tersebut dengan engkau masukkan kedalam pakaian?” Asy-Syibli lalu menjawab “ya, aku ingat itu”, lalu dengan tegas Allah berkata “dengan kasih sayangmu terhadap kucing itu maka aku mengasihimu”.
Baca juga:  Turki, Sekularisme dan Benturan Islamisme dan Politik Identitas
Imam Ghazali

Abu Hamid al-Ghazali merupakan ulama besar dalam sejarah umat muslim. Ulama yang meninggal pada tahun 1111 M ini telah menulis banyak karya dalam keislaman, mulai dari ilmu kalam, filsafat, ushul fikih dan lain sebagainya.

Selain cerita mimpi asy-Syibli, imam Nawawi al-Bantany dalam kitab naṣāi al-‘ibād juga mengutip cerita mimpi dari Imam Ghazali. Satu momen dalam mimpinya, Imam Ghazali ditanya “bagaimana perlakuan Allah terhadapmu?” Beliau menjawab “Allah membawaku kehadapan-Nya, lalu Allah berfirman kepadaku “lantaran apa Aku membawamu ke sisi-Ku?” aku (kata Imam Ghazali) menyebutkan semua amalku. Lalu Allah berfirman “Kami tidak menerimanya, sesungguhnya yang Kami terima darimu adalah pada suatu waktu ada seekor lalat hinggap pada wadah tintamu untuk meminumnya, padahaat saat itu dirimu sedang menulis, lalu kamu menghentikan aktifitas menulismu hingga lalat itu selesai meminumnya, kamu lalukan itu karena kasihan terhadap lalat tersebut” kemudian Allah memerintahkan “bawalah hamba-Ku ini ke surga”

Cerita Sayyidina Umar ra.

Dalam kitab al-Mawā’idh al-‘ufūriyyah, Syaikh Muhammad bin Abu Bakar mengutip satu cerita tentang Sayyidina Umar ra. Suatu waktu ketika Sayyidina Umar ra sedang berjalan di jalan desa, ia melihat seorang anak kecil yang sedang memainkan burung di tangannya. Melihat hal tersebut Sayyidina Umar ra merasa kasihan kepada burung tersebut, lalu ia membelinya dari anak kecil tersebut untuk dilepaskan.
Baca juga:  Miryam dan Cara Santri Menulis Puisi
Singkat cerita, tatkala Sayyidina Umar ra meninggal, banyak orang yang bermimpi ketemu Sayyidina Umar ra dan bertanya keadaannya, “apa yang Allah laukan kepadamu?” Umar menjawab “Allah telah mengampuni dan memaafkan kesalahanku”, lalu orang-orang tersebut bertanya “apakah karena kedermawananmu, atau keadilanmu, atau kezuhudanmu engkau mendapakan itu?”

Sayyidina Umar ra menjelaskan “ketika engka telah meletakkanku di kubur, dan menutupnya dengan tanah, dan engkau semua telah meninggalkanku sehingga aku sendirian, datang kepadaku dua malaikat yang menakutkan hingga membuat akalku hilang, menggigil sendi-sendiku karena ketakutan. Lalu keduanya memegangku dan mendudukkanku dan mereka akan bertanya kepadaku, maka saat itu aku mendengar seruan yang tidak terlihat sosok yang menyeru “kalian berdua tinggalkan hamba-Ku dan jangan kalian berdua menakutinya, karena sesungguhnya Aku telah merahmatinya dan aku telah memaafkan kesalahannya. Karena sesungguhnya ia telah mengasihi seekor burung di dunia, maka aku mengasihinya di akhirat”.

Ketiga cerita mimpi orang sholeh di atas memberi pelajaran berharga kepada kita. Pertama, sekecil apapun perbuatan kita di dunia ini, pasti Allah balas.  Kedua, mengasihi makhluk Allah adalah kunci utama keselamatan kita kelak di hari kiamat. Wallahu a’lam.

 

Artikel ini di kliping dari Alif.id sebagai kliping/arsip saja. Segala perubahan informasi, penyuntingan terbaru dan keterkaitan lain bisa dilihat di sumber.