Skip to content

emka.web.id

menulis pengetahuan – merekam peradaban

Menu
  • Home
  • Tutorial
  • Search
Menu

Selamat Jalan Ki Slamet Gundono

Posted on January 6, 2014

Slamet Gundono, seniman dengan latar belakang santri ini yang mempunyai banyak bakat dan kemampuan. Ia adalah dalang, pemusik, pemain teater, dan pemain film.
Slamet lahir di Slawi, Tegal, Jawa Tengah, 19 Juni 1966. Nama asalnya cuma Gundono, namun guru SD-nya menambahkan nama Slamet di depannya, yang disandangnya hingga kini dan rupanya telah menjadi nama keberuntungannya. Ayahnya, Ki Suwati, adalah seorang dalang. Begitu pula dengan saudara ayahnya, yaitu Ki Gunawan Suwati. Slamet dengan demikian memiliki tradisi seni yang kuat.

Masa sekolahnya dilalui di Pesantren Lebaksiu hingga setingkat Sekolah Menengah Atas (Aliyah). Sebagai anak seorang dalang, minatnya pada wayang telah tumbuh sejak kecil, dan hal ini tak pernah padam bahkan terus bersemayam meski ia belajar di pesantren. Ini menunjukkan bahwa pesantren tidaklah anti-seni dan bahkan memberikan tempat pada minat dan bakat seni. Kelak latar belakang pesantren ini memperkaya wawasan seninya.

Seusai menjalani pendidikan di pesantren, Slamet melanjutkan ke IKJ, tapi ia tidak betah dan kemudian pindah ke jurusan pedalangan di STSI Surakarta, Jawa Tengah. Kota yang masih banyak memberi tempat pada seni tradisi, wayang khususnya, ini memberikan banyak inspirasi kepadanya.

Wayang yang digelutinya menempatkannya sebagai pelaku seni tradisi, tetapi ketika tradisi di situ diperlakukannya sebagai suatu yang dinamis dan terus bergerak, bukan kaku dan beku, maka seni yang ditampilkannya muncul sebagai suatu yang inovatif. Itulah wayang suket yang kini telah menjadi trade mark keseniannya.

Wayang suket, sebagaimana namanya, adalah wayang yang terbuat dari rumput. Ini saja menunjukkan sifat kesederhanaan sekaligus kepraktisannya, untuk ditampilkan kapan saja dan di mana saja. Demikianlah mulanya. Pada 1997, di Riau, Slamet diharuskan mementaskan wayang, padahal wayang dan gamelan tak mudah didapatkan di daerah tersebut. Dengan segala keterbatasan, ia ingat semasa kecil sering memainkan wayang dari rumput. Maka ia pun mengambil rumput, mengolah, dan membentuknya dengan beragam tokoh, lalu memainkannya dengan iringan musik mulut. Lakonnya ketika itu “Kelingan Lamun Kelangan”. Itulah pertunjukan wayang suket-nya yang pertama.

Sepulang dari Riau, ia mengembangkan lebih lanjut wayang suket dan mendirikan “Komunitas Wayang Suket” sekaligus nama padepokan seninya. Kini wayang suket-nya tidak hanya pentas di sekitar Surakarta, tapi merambah ke berbagai daerah, bahkan telah diundang untuk tampil di mancanegara. Wayang suket memang telah menjelma menjadi pertunjukan teater yang berbasis wayang atau pertunjukan wayang dengan basis teater modern.

Tentu saja sebagaimana “inovator”, permainan wayang suket Slamet yang banyak keluar dari pakem itu mendapat cibiran. Ia misalnya tidak menampilkan tokoh-tokoh dari wiracarita Mahabarata atau Ramayana saja, tapi juga tokoh-tokoh yang aktual dalam kehidupan sehari-hari. Ia juga tak berbusana sebagaimana umumnya dalang, memakai beskap, blangkon, dan keris, tapi menggunakan baju biasa, sering malah dengan dada terbuka, dan ikat kepala atau kadang-kadang menggunakan topi koboi. Lalu durasi pertunjukannya yang sangat bebas, bisa sangat singkat 15 menit, bisa juga panjang hingga berjam-jam. Ia bisa bermain sendirian, bertiga atau bahkan bisa dengan 15 orang. Slamet memang bukan sekadar “seniman penerus”, tapi juga “seniman pencipta”.

Wayang suket hadir memenuhi kerinduan masyarakat akan suatu media wayang, yang tak sepenuhnya seperti dalam bentuk konvensionalnya di masa lalu, tapi tak bisa juga meninggalkan wayang itu sama sekali. Itulah romantisme masyarakat urban, yang pada hakikatnya agragris, demikian pendapat Slamet mengenai kedudukan wayang suket-nya.

Karakter lain dari Slamet adalah permainan mandolinnya, yang sederhana tapi memikat. Sambil memainkan instrumen itu, ia bersenandung dengan suaranya yang kecil melengking dengan lirik bahasa Jawa dan logat Tegal ngapak-ngapak-nya, logat Jawa pesisiran. Dengan cara ini ia seperti menampilkan lagi “musik rakyat” yang dulu disenandungkan di pinggir kali dan tengah sawah atau semacam ilir-ilir yang dulu dinyanyikan di langgar-langgar kecil. Hal ini bisa dipersaksikan melalui album musiknya, Kangen Barjanzi (2007), sebuah sajian musik gambus Jawa yang tak sekadar “mengarabkan” tapi mengolah yang universal, yang Arab, atau “yang asing” itu menjadi sesuatu yang lokal. Tampak di sini kedekatannya dengan budaya setempat plus pengetahuan dan pengalaman keagamaannya sebagai santri telah membentuk seni yang akulturatif tersebut.

Di albumnya yang lain, Tuhan Maha Dalang (2008), instrumennya ini dipadukan dengan instrumen-instrumen modern lain, dan membentuk musik yang ia sebut “rock religius”. Seperti syair yang dilantunkannya, campur baur Jawa dan Arab, musik ini juga bersilangan antara gambus, rock, dan karawitan.

Karya lain yang perlu disebut di sini dalam kaitan dan jejak Slamet sebagai santri itu adalah Wayang Nglindur-nya yang mementaskan lakon “Serat Cebolek” yang berkisah tentang riwayat mereka yang suaranya terbungkam. Alkisah suatu hari seorang santri memamerkan kehebatan pesantrennya yang mengajarkan kekebalan. Klaim ini ditimpali oleh santri lain yang membanggakan pesantrennya yang mengajarkan ilmu cepat kaya. Mereka kemudian memutuskan untuk bekerja sama. Saat itu datang santri dari Pesantren Mbah Mutamakkin. Ia ingin ikut bergabung, tapi ditolak karena tak bisa melatunkan ayat-ayat al-Qur’an. Hikayat Mutamakkin yang berat ini diolah Slamet menjadi renyah dan menjadi permenungan untuk mengolah agama menjadi sesuatu yang indah dan damai. Slamet telah mementaskan Hikayat Mutamakkin, penyebar Islam esoteris ini, beberapa kali dan dalam beberapa versi.

Melalui wayang suket-nya, Slamet telah memainkan banyak lakon. Selain “Kelingan Lamun Kelangan”, ia juga pernah menghadirkan, antara lain, “Sukesi atau Rahwana Lahir”, “Limbuk Ingin Merdeka”, dan “Bibir Merah Banowati”. Lakon-lakon Slamet enak dan segar sebagai suatu tontotan dan renyah sebagai suatu tuntunan. Dalam banyak pementasannya, di antara guyonannya yang kocak, ia memang menyelipkan kritik-kritiknya kepada kekuasaan yang zalim, eksploitasi ekonomi, kefanatikan agama, dan lain-lain.

Slamet yang berpenampilan nyentrik dan urakan, dengan tubuh tambunnya turut bermain dalam film Opera Jawa (2006) garapan Garin Nugroho dan membacakan serpihan cerita dari Serat Centhini yang diterjemahkan Elizabeth Inandiak. Ia juga turut bermain dalam Opera Diponegoro yang diolah koreografer terkemuka Sardono W. Kusumo dan Passage Through The Gong juga garapan Sardono, yang pentas berkali-kali. Ia pernah berkolaborasi dengan Mugiyono (koreografer) dan Dedek Wahyudi (komposer) pada Chan Mu International Festival 1995 di Seoul dan Indonesia Dance Festival (IDF) 1996 di Jakarta. Sepanjang kariernya, ia berulang kali pentas di luar negeri, antara lain di Jepang, Belanda, Jerman, Inggris, dan Australia.

Sebagai seniman, Slamet Gundono telah meraih banyak penghargan nasional maupun internasional, di antaranya Prince Clauss Award (2005). Sebelumnya pada 2004 ia menjadi fellow di UCLA Asia Pacific Performance Exchange (APPEX).

Sumber: NU Online

Terbaru

  • Inilah 6 Langkah Tembus 5.000 Follower di X, Gini Caranya Supaya Akun Kalian Nggak Stuck Lagi!
  • SEO LinkedIn: Inilah Alasan Kenapa LinkedIn Ads Lebih Efektif Buat Bisnis B2B Dibanding Platform Lain
  • Inilah Alasan Kenapa Kolom Komentar YouTube Kalian Sering Menghilang Secara Misterius!
  • Cara Kelola Auto-Posting Semua Media Sosial Kalian Pakai Metricool
  • Studi Kasus Sukses Instagram Maria Wendt Dapat 12 Juta View Instagram Per Bulan
  • ZenBook S16, Vivobook Pro 15 OLED, ProArt PX13, dan ROG Zephyrus G14, Laptop Bagus dengan Layar OLED!
  • Caranya Ngebangun Website Directory dengan Traffic Tinggi dalam Seminggu!
  • Cara Mengembangkan Channel YouTube Shorts Tanpa Wajah
  • Inilah Cara Menghitung Diskon Baju Lebaran Biar Nggak Bingung Saat Belanja di Mall!
  • Cara Jitu Ngebangun Bisnis SaaS di Era AI Pakai Strategi Agentic Workflow
  • Inilah Rincian Gaji Polri Lulusan Baru 2026, Cek Perbedaan Jalur Akpol, Bintara, dan Tamtama Sebelum Daftar!
  • Inilah 5 Channel YouTube Membosankan yang Diam-diam Menghasilkan Banyak Uang
  • Inilah Cara Pakai Google Maps Offline Biar Mudik Lebaran 2026 Nggak Nyasar Meski Tanpa Sinyal!
  • Inilah Alasan Mahkamah Agung Tolak Kasasi Google, Denda Rp202,5 Miliar Resmi Menanti Akibat Praktik Monopoli
  • Inilah Cara Daftar dan Syarat SPMB SMK Boarding Jawa Tengah 2026, Sekolah Gratis Sampai Lulus!
  • Inilah Daftar Sekolah Kedinasan 2026 untuk Lulusan SMK, Bisa Kuliah Gratis dan Berpeluang Besar Langsung Jadi CPNS!
  • Inilah Pajak TER: Skema Baru PPh 21 yang Nggak Bikin Pusing, Begini Cara Hitungnya!
  • Inilah Jadwal Resmi Jam Buka Tol Jogja-Solo Segmen Prambanan-Purwomartani Saat Mudik Lebaran 2026
  • Inilah Cara Mendapatkan Witherbloom di Fisch Roblox, Rahasia Menangkap Ikan Paling Sulit di Toxic Grove!
  • Kenapa Indomart Point Bisa Kalahkan Bisnis Kafe?
  • Inilah Cara Mendapatkan Rotten Seed di Fisch Roblox, Lokasi Rahasia di Toxic Grove Buat Unlock Toxic Lotus!
  • Inilah Cara Zakat Crypto Kalian Bisa Jadi Pengurang Pajak Berdasarkan Aturan Resmi Pemerintah!
  • Inilah Perbandingan Airwallex vs Payoneer 2026: Jangan Sampai Profit Kalian Ludes Gara-Gara Biaya Admin!
  • Inilah Roadmap 7 Tahap Bangun Bisnis Digital dari Nol Biar Nggak Cuma Putar-Putar di Tempat!
  • Inilah Cara Tetap Gajian dari YouTube Meski View Masih Ratusan, Penasaran?
  • Inilah Alasan Akun TikTok Affiliate GMV 270 Juta Kena Banned Permanen!
  • Inilah Bahaya Astute Beta Server APK, Jangan Sembarang Klik Link Download FF Kipas 2026!
  • Inilah Bahaya Nonton Film di LK21 dan IndoXXI, Awas Data Pribadi dan Saldo Rekening Kalian Bisa Ludes!
  • Inilah Kronologi & Video Lengkap Kasus Sejoli Tambelangan Sampang Viral, Ternyata Gini Awal Mulanya!
  • Inilah Alasan Kenapa Koin Nego Neko Shopee Nggak Bisa Dipakai Bayar Full dan Cara Rahasia Dapetinnya!
  • How to Avoid Problematic Windows Updates: A Guide to System Stability
  • What is Microsoft Visual C++ Redistributable and How to Fix Common Errors?
  • What is the 99% Deletion Bug? Understanding and Fixing Windows 11 File Errors
  • How to Add a Password to WhatsApp for Extra Security
  • How to Recover Lost Windows Passwords with a Decryptor Tool
  • How to Automate Any PDF Form Using the Power of Manus AI
  • How to Training Your Own YOLO26 Object Detection Model!
  • How to Build a Full-Stack Mobile App in Minutes with YouWare AI
  • How to Create Consistent Characters and Cinematic AI Video Production with Seedance
  • How to Find Your Next Viral Product Using PiPiAds AI Like a Pro!
  • Apa itu Spear-Phishing via npm? Ini Pengertian dan Cara Kerjanya yang Makin Licin
  • Apa Itu Predator Spyware? Ini Pengertian dan Kontroversi Penghapusan Sanksinya
  • Mengenal Apa itu TONESHELL: Backdoor Berbahaya dari Kelompok Mustang Panda
  • Siapa itu Kelompok Hacker Silver Fox?
  • Apa itu CVE-2025-52691 SmarterMail? Celah Keamanan Paling Berbahaya Tahun 2025

©2026 emka.web.id | Design: Newspaperly WordPress Theme