Skip to content

emka.web.id

menulis pengetahuan – merekam peradaban

Menu
  • Home
  • Tutorial
  • Search
Menu

Anak dan Sekolah

Posted on April 17, 2022

Kliping Pemikiran Islam, Ditulis oleh Joko Priyono

Di banyak sudut jalan berhubungan dengan keberadaan fasilitas pendidikan, utamanya sekolah, anak-anak menjadi simbol yang perlu diperhatikan. Simbol itu berupa gambar dua anak dalam papan yang menyiratkan pesan kepada banyak orang berupa: “Hati-hati, banyak anak sekolah!”. Pesan bukan tanpa makna, tetapi ada pertanyaan akan ketersiratan posisi anak yang masing-masing sedang menggendong tas tersebut.

Penjelasan kita temukan dalam majalah Intisari, Juni 1966: “Gambar jang mengesankan anak-anak sedang bergegas takut terlambat, sehingga pusat perhatiannja hanja ditudjukan pada sekolah dan tak melihat kiri-kanan djalan. Maka si pengemudi harus hati-hati!”

Kalimat itu membawa pada permenungan dan penafsiran akan hubungan anak-anak dan sekolah. Ada masa sekolah merupakan tempat yang dirindukan anak-anak dalam waktu apa saja. Mereka terus terngiang akan aktivitas dan keseruan di dalam sekolah. Sekolah menjadi tempat berimajinasi dan melatih diri akan berbagai minat dan bakat yang termiliki oleh tiap siswa.

Konon, terkadang anak-anak merasa jengah maupun bosan berurusan dengan sekolah. Sekolah teranggap menjemukan. Anak-anak lebih mendapati suasana mendukung justru dengan hal-hal di luar sekolah, baik tempat bermain, pendidikan non formal, hingga berasyik-masyuk dalam dunia perselancaran internet. Para orang tua resah akan situasi tersebut. Terbayang-bayang akan ketakutan yang mungkin terjadi.
Baca juga:  Dari Taklid ke Talfiq: Mengupayakan Islam yang Lebih Humanis

Peran Sekolah

Kita diajak untuk menelusri lagi kehadiran sekolah. Ahli matematika yang menekuni isu sains, pendidikan, dan kebudayaan, Iwan Pranoto, menaruh bayangan akan sekolah bak berwisata. Pengakuannya dapat kita temukan dalam bukunya, Kasmaran Berilmu Pengetahuan (2019). Guru sebagai pemandu wisata bagi kehadiran tiap murid. Kita simak penjelasan lebih lanjut: “Selanjutnya, dalam berwisata, setiap wisatawan merasakan sendiri keindahan dan petualangannya dibmbui kesulitan sesuai kemampuannya. Analoginya, murid sendiri juga perlu mengalami, merasakan, dan menikmati keindahan ilmu pengetahuan lengkap dengan merasakan kesulitan belajar sebagai bumbu pengalamannya.”

Konon, anak-anak tumbuh dan berkembang salah satunya melalui kemampuan berimajinasi. Asupan bacaan, cerita, dongeng, hingga folklor menjadi bagian penting dalam membentuk jati diri. Di majalah Tempo edisi 25 Juni 1988, Ignas Kleden menulis kolom berjudul “Gizi dan Puisi”. Tulisan menyoal langkah pendidikan dalam mengajarkan anak akan aspek kekayaan kebudayaan baik secara nasional maupun daerah.

Penegasan yang tersampaikan: ”Dongeng, cerita rakyat, atau folklore umumnya masih mengalami nasib yang tak banyak bedanya dengan peruntungan bahasa-bahasa daerah. Sebagaimana halnya hubungan bahasa daerah dengan bahasa nasional belum dirumuskan dalam suatu kebijaksanaan kebudayaan nasional, demikian pun berbagai cerita rakyat dan dongeng-dongeng setempat belum mendapatkan tempatnya yang layak dalam kepustakaan bahasa Indonesia.”
Baca juga:  Menziarahi Manuskrip Islam di Barat

Literasi

Sekian waktu, pendidikan menghadapi perdebatan panjang terkait kurikulum hingga arah kebijakan urusan bahasa. Pernyataan Kleden mungkin masih perlu direnungi zaman ini dalam membaca realitas anak-anak dengan sekolah. Meski, secara jujur harus diakui bahwa anak-anak sekarang tak seperti dahulu katakanlah generasi 80-an maupun 90-an. Mereka sebagai anak kandung generasi digital, sejak lahir telah menjadikan teknologi terbaru sebagai genggaman.

Bisa saja, satu perkara serius adalah literasi, tradisi membaca dan menulis bkan lagi menjadi sebuah kebudayaan yang menjadi kesadaran kolektif. Kebudayaan yang berkembang tak lain adalah kekuatan perhatian terhadap aduio visual. Secara tidak sadar, kebudayaan itu membentuk pola, jati diri, hingga kecerdasan kolektif bahwa generasi saat ini terbentuk sebagai penonton. Situasi tersebut agaknya juga dialami oleh seorang pendidik, Bekti Satiani.

Dalam majalah Basis No. 11-12, 2017, esainya “Murid dan Buku” tampil di sana. Gagasannya lahir dari amatan dan pengalamannya yang mungkin di luar sana tak banyak yang memedulikannya. Ia menggambarkan anak-anak sekarang cenderung memperlakukan sebuah buku, dalam amatannya buku tulis dibiarkan saja. Mereka tak tergerak untuk disiplin mencatat, melipat-lipat, hingga terdapati sobekan di beberapa sisinya. Buku terlalu dimanja dan jauh dari arti dalam sesungguhnya kaitannya dengan pendidikan.
Baca juga:  Pilpres 2024: Akankah Politisasi Agama “Islam” Terulang Kembali?
Kemampuan membaca dan menulis memang tidak mungkin terjadi dengan sendirinya. Ia mesti dilatih, dibiasakan, dan disokong kesadaran kolektif. Anak-anak tidak bisa hanya dibuai akan kemegahan dan kemewahan perkembangan teknologi terhadirkan bagi umat manusia. Ia membutuhkan cerita dan pola asuh yang terus melatih dirinya: kemampuan intelektual, emosional, hingga spiritual untuk menghadapi zamannya.

Sekolah perlu mengembalikan dirinya sebagai tempat yang nyaman dan asyik bak saat berwisata. Demikian, anak-anak terus bergembira menuju ke sana dengan dibekali rasa ingin tahu, kemampuan bernalar, dan daya imajinasi dalam membaca realitas. Mereka tak butuh hukuman untuk mengantisipasi keterlambatan dalam kehadiran. Sebab, dengan sendirinya masing-masing akan paham apa yang mesti dilakukan untuk saat ini dan keesokan harinya.[]

Baca Juga

Artikel ini di kliping dari Alif.id sebagai kliping/arsip saja. Segala perubahan informasi, penyuntingan terbaru dan keterkaitan lain bisa dilihat di sumber.

Terbaru

  • Inilah Alasan Kenapa Kolom Komentar YouTube Kalian Sering Menghilang Secara Misterius!
  • Cara Kelola Auto-Posting Semua Media Sosial Kalian Pakai Metricool
  • Studi Kasus Sukses Instagram Maria Wendt Dapat 12 Juta View Instagram Per Bulan
  • ZenBook S16, Vivobook Pro 15 OLED, ProArt PX13, dan ROG Zephyrus G14, Laptop Bagus dengan Layar OLED!
  • Caranya Ngebangun Website Directory dengan Traffic Tinggi dalam Seminggu!
  • Cara Mengembangkan Channel YouTube Shorts Tanpa Wajah
  • Inilah Cara Menghitung Diskon Baju Lebaran Biar Nggak Bingung Saat Belanja di Mall!
  • Cara Jitu Ngebangun Bisnis SaaS di Era AI Pakai Strategi Agentic Workflow
  • Inilah Rincian Gaji Polri Lulusan Baru 2026, Cek Perbedaan Jalur Akpol, Bintara, dan Tamtama Sebelum Daftar!
  • Inilah 5 Channel YouTube Membosankan yang Diam-diam Menghasilkan Banyak Uang
  • Inilah Cara Pakai Google Maps Offline Biar Mudik Lebaran 2026 Nggak Nyasar Meski Tanpa Sinyal!
  • Inilah Alasan Mahkamah Agung Tolak Kasasi Google, Denda Rp202,5 Miliar Resmi Menanti Akibat Praktik Monopoli
  • Inilah Cara Daftar dan Syarat SPMB SMK Boarding Jawa Tengah 2026, Sekolah Gratis Sampai Lulus!
  • Inilah Daftar Sekolah Kedinasan 2026 untuk Lulusan SMK, Bisa Kuliah Gratis dan Berpeluang Besar Langsung Jadi CPNS!
  • Inilah Pajak TER: Skema Baru PPh 21 yang Nggak Bikin Pusing, Begini Cara Hitungnya!
  • Inilah Jadwal Resmi Jam Buka Tol Jogja-Solo Segmen Prambanan-Purwomartani Saat Mudik Lebaran 2026
  • Inilah Cara Mendapatkan Witherbloom di Fisch Roblox, Rahasia Menangkap Ikan Paling Sulit di Toxic Grove!
  • Kenapa Indomart Point Bisa Kalahkan Bisnis Kafe?
  • Inilah Cara Mendapatkan Rotten Seed di Fisch Roblox, Lokasi Rahasia di Toxic Grove Buat Unlock Toxic Lotus!
  • Inilah Cara Zakat Crypto Kalian Bisa Jadi Pengurang Pajak Berdasarkan Aturan Resmi Pemerintah!
  • Inilah Perbandingan Airwallex vs Payoneer 2026: Jangan Sampai Profit Kalian Ludes Gara-Gara Biaya Admin!
  • Inilah Roadmap 7 Tahap Bangun Bisnis Digital dari Nol Biar Nggak Cuma Putar-Putar di Tempat!
  • Inilah Cara Tetap Gajian dari YouTube Meski View Masih Ratusan, Penasaran?
  • Inilah Alasan Akun TikTok Affiliate GMV 270 Juta Kena Banned Permanen!
  • Inilah Bahaya Astute Beta Server APK, Jangan Sembarang Klik Link Download FF Kipas 2026!
  • Inilah Bahaya Nonton Film di LK21 dan IndoXXI, Awas Data Pribadi dan Saldo Rekening Kalian Bisa Ludes!
  • Inilah Kronologi & Video Lengkap Kasus Sejoli Tambelangan Sampang Viral, Ternyata Gini Awal Mulanya!
  • Inilah Alasan Kenapa Koin Nego Neko Shopee Nggak Bisa Dipakai Bayar Full dan Cara Rahasia Dapetinnya!
  • Inilah Cara Menjawab Pertanyaan Apakah di Sekolahmu Sudah Ada IFP/PID dengan Benar dan Profesional
  • Inilah Fakta Isu Roblox Diblokir di Indonesia 2026, Benarkah Akan Ditutup Total?
  • How to Add a Password to WhatsApp for Extra Security
  • How to Recover Lost Windows Passwords with a Decryptor Tool
  • How to Fix Python Not Working in VS Code Terminal: A Troubleshooting Guide
  • Game File Verification Stuck at 0% or 99%: What is it and How to Fix the Progress Bar?
  • Why Does PowerPoint Underline Hyperlinks? Here is How to Remove Them
  • How to Create Consistent Characters and Cinematic AI Video Production with Seedance
  • How to Find Your Next Viral Product Using PiPiAds AI Like a Pro!
  • Create Your Own Netflix-Style Documentaries Using AIQORA in Minutes!
  • How to Build a Super Chatbot with RAG Gemini Embbeding & Claude Code
  • How to Do Professional AI Prompting in Nano Banana 2
  • Apa itu Spear-Phishing via npm? Ini Pengertian dan Cara Kerjanya yang Makin Licin
  • Apa Itu Predator Spyware? Ini Pengertian dan Kontroversi Penghapusan Sanksinya
  • Mengenal Apa itu TONESHELL: Backdoor Berbahaya dari Kelompok Mustang Panda
  • Siapa itu Kelompok Hacker Silver Fox?
  • Apa itu CVE-2025-52691 SmarterMail? Celah Keamanan Paling Berbahaya Tahun 2025

©2026 emka.web.id | Design: Newspaperly WordPress Theme