Skip to content

emka.web.id

menulis pengetahuan – merekam peradaban

Menu
  • Home
  • Tutorial
  • Search
Menu

Dakwah Santun Kiai Mahfud

Posted on December 24, 2015

Kiai Mahfud adalah kiai kampung di Desa Bandungan, Kecamatan Pakong, Kabupaten Pamekasan, Madura. Sepulangnya dari pesantren sekitar tahun 1940-an, sebagaimana umumnya santri zaman itu, ia mendirikan sebuah masjid dan madrasah diniyah di kampungnya.

Madrasah diniyah dan masjid yang ia dirikan tentu masih sangat sederhana. Maklumlah karena memang ia bukan orang berpunya. Rumah saja tidak lebih dari sebuah gubuk reyot. Hanya karena bermodalkan keinginan mengabdi pada agama, ia tetap berusaha mendirikan sebuah lembaga pendidikan.

Nilai-nilai agama dalam kehidupan masyarakat di desanya bisa dikatakan masih rendah. Kesadaran beragama di sana masih sangat minim. Pendidikan umum pun apalagi. Sangat jarang orang bersekolah sampai lulus SMP, apalagi sampai perguruan tinggi. Melihat seorang yang baru menjadi pegawai negeri saja, kesan seakan luar biasa sudah terpancar.

Ketika Kiai Mahfud memulai dakwahnya, ia membangun sebuah masjid dan madrasah sore yang letaknya agak jauh dari tempat tinggalnya. Jarak sekitar 2-3 kilometer adalah jauh dalam hitungan masa itu, dimana kendaraan bermotor masih tidak banyak dimiliki orang. Setiap hari kalau waktu shalat hendak tiba ia berangkat menuju masjid dari rumahnya.

Seiring perjalanan melewati jalan setapak di antara persawahan-persawahan penduduk ia tidak jemu-jemu menyapa mereka yang masih awam bekerja seharian tak kenal waktu. Mereka sangat kurang terdidik secara agama. Islam mereka mungkin hanya syahadat saja. Shalat dan puasa mungkin masih belum mereka laksanakan, apalagi zakat dan boro-boro naik haji. Dalam pikiran mereka mungkin ada pikiran: “Orang sibuk cari nafkah untuk hidup, kok masih direpoti shalat.”

Terhadap mereka apakah Kiai Mahfud, yang wiridannya sepanjang tengah malam sampai subuh, ditambah lagi bakda subuh sampai dluha khusuk, menampakkan sikap benci? Memaki-maki dan menghardik mereka? Tidak-tidak. Ia bahkan selalu menyempatkan diri berbincang santai dengan mereka. Dalam perjalanan ia tidak segan untuk berhenti menyapa mereka sekadar hanya menyapa: “Banyak sekali pak panennya.” Bahkan adalah bukan pemandangan aneh jika ia bercengkrama dengan mereka sangat akrab sekali. Jika waktu shalat maka Kiai Mahfud dengan ramah pamit untuk shalat dahulu. Begitulah ia lakukan tiap hari tanpa kenal lelah.

Perilaku yang demikian ramah dan sopan, perangai yang baik dan santun, lama-kelamaan mengundang daya tarik sendiri bagi masyarakat yang setiap hari ia temui. Maka lambat laun sedikit demi sedikit banyak masyarakat yang ingin mengikuti perilaku Kiai Mahfud, dan berdatanganlah mereka ke masjidnya. Pertama-tama sedikit tapi lambat laun semakin banyak juga.

Tampaknya Kiai Mahfud berhasil dalam dalam dakwahnya menggugah kesadaran beragama masyarakat di desanya. Namun, dikatakan berhasil, ya memang relatif demikian, tapi jangan dikira mereka shalat dan ibadahnya sudah benar. Tidak. Mereka masih belum mengerti tata cara shalat, cara berwudhu dan sebagainya. Shalat mereka hanya “ikut-ikutan” saja. Banyak di antara mereka yang shalat tampa berwudhu.

Kiai Ali, seorang sahabat Kiai Mahfud adalah seorang santri pula yang waktu itu banyak membantu dalam kegiatan Kiai Mahfud. Kiai Ali pernah bercerita kepada penulis, bahwa masyarakat desa Bandungan saat itu banyak yang ikut shalat di masjid meskipun baru selesai ‘Nyabung Ayam’ tanpa berwudhu terlebih dahulu. Banyak pula di antara mereka yang tidak pakai sandal pun langsung masuk masjid dan shalat.

Melihat hal itu, Kiai Ali dengan dasar pengetahuannya akan tata cara shalat maka langsung saja marah-marah pada jamaah. Padahal Kiai Mahfud tidak pernah memarahinya, tidak pernah melarang para penduduk yang baru sadar itu. Ia terus saja memimpin jamaah. Baginya, mereka masih baru mendapatkan hidayah, imannya masih tipis sehingga mudah robek jika tidak hati-hati membinanya.

Lama kelamaan, Kiai Mahfud berhasil dalam meraih simpati masyarakat di desanya itu. Banyak orang mendaftarkan putranya dimasukkan di madrasah yang ia dirikan. Mereka masuk tampa persyaratan administratif apapun seperti masa sekarang. Segala umur boleh masuk ke madrasah tersebut, mulai dari yang baru umur 3 (tiga) tahun yang mengusap ingusnya saja tidak bisa sampai yang sudah “gerang” juga diterima.

Kondisi tersebut tidak bisa dibayangkan bagaimana mengaturnya, apalagi jumlahnya sangat banyak. Jika kita melihat sendiri mungkin hanya bisa bilang “Maa Syaa Allaah” saja. Namun Kiai Mahfud dengan sangat telaten mendidik mereka dengan penuh sabar. Tidak jarang ada di antara anak-anak yang masih di bawah umur itu minta digendong saat pelajaran. Ada juga yang suka gandoli kaki sang kiai saat menulis di papan dan banyak lagi pemandangan lucu yang akan bikin ketawa jika kita melihatnya sendiri. Kiai Mahfud memang sayang sekali pada santrinya, tidak pernah marah dan memukulinya. Bahkan kepada yang tidak mau menurut sekalipun. Tapi jika sampai anaknya yang melakukan kesalahan, seperti tidak mau mengaji atau shalat jamaah ia tidak segan-segan untuk bersikap keras kepada mereka.

Sore Kiai Mahfud mengajar di madrasahnya, malam ia mengajar Al-Qur’an di masjid. Begitulah sehari-hari ia lakukan dengan istiqamah. Ia tak kenal lelah mengabdi pada masyarakat dan agamanya.

Waktu itu, jangan dibayangkan bahwa masjid terang benderang seperti sekarang walaupun malam. Saat itu listrik belum masuk ke desanya. Penerangan masjid masih memakai lampu strongking dan cempluk saja. Juga bantuan cahaya bulan purnama setiap padhang bulan.

Pelan-pelan masyarakat desa Bandungan dididik oleh Kiai Mahfud. Banyak di antara mereka yang secara perlahan diajari tata cara ibadah mulai yang kecil-kecil. Semakin banyak di antara mereka yang sudah bisa berwudhu. Syahadat sudah bisa dilafalkan dengan baik. Niat shalat sudah bisa mereka hafal. Fatihah sudah bisa mereka baca. Tadarus Al-Qur’an dan Tahlil tiap malam Jum’at berjalan dengan baik. Demikianlah suasana keagamaan berjalan mengalami kemajuan.

Pembangunan madrasah dan masjid mendapatkan partisipasi masyarakat dengan baik. Kebanyakan dari mereka menyumbang tenaga dan bahan bangunan. Madrasah pun berdiri dengan relatif baik dari pada kondisi sebelumnya.

Dalam cara mengajar, Kiai Mahfud secara tidak sadar melakukan apa yang dinamakannya sebuah kaderisasi. Meskipun tentu dirinya tidak bisa mengatakan “kaderisisasi”. Kiai Mahfud tidak mengerti hal itu. Yang ada dalam benaknya bagaimana kegiatan yang ia mulai ini barjalan untuk selanjutnya.

Ia mulai mendidik beberapa di antara masyarakat dan santrinya secara intensif. Madrasah dan Masjid ia serahkan pada kedua menantunya, Kiai Sholeh. Begitu juga pelatihan memimpin Tahlil dan kegiatan keagamaan lainnya pada orang-orang tertentu di antara masyarakat. Harapannya agar kegiatan-kegiatan tersebut tidak mati sepeningga dirinya.

Sekitar tahun 1979, Kiai Mahfud meninggal dunia. Banyak orang bersedih menangis mengiringi kepergiannya. Masyarakat seakan kehilangan seorang pengayom dalam kehidupannya. Sang guru telah tiada.

Demikianlah Kiai Mahfud hidup dalam perjuangan meninggal dengan meninggalkan kesan baik yang mendalam. Sekiranya sya’ir yang sudah terkenal di kalangan pesantren cocok baginya: Waladatka ummuka ya ibna adama bakiyan. Wa An-naasu haulaka yadl-hakuna sururan. Fajhad linafsika an takuna idza bakau. Fi yaumi mautika dlahikan masruran (Engkau Lahir wahai anak Adam dalam keadaan menangis. Sedang orang-orang di sekitarmu tertawa bahagia. Maka berusahalah dirimu agar ketika kelak mereka menangisi kematianmu. Engkau sendiri tertawa bahagia [karena melihat surga]). Untuk beliau…. Al-Fatihah. (Ahmad Nur Kholis)

Sumber: NU Online

Terbaru

  • Inilah Arti Move WA dalam Bahasa Gaul yang Sering Muncul di Aplikasi Kencan dan Media Sosial
  • Inilah realme C100, Smartphone dengan Baterai Titan 8000mAh Pertama yang Garansi Awet Sampai 7 Tahun!
  • Inilah Cara Mengatasi Third Party Software Is Interfering With Roblox yang Sering Muncul Tiba-Tiba
  • Inilah Penyebab Data Seluler Tidak Bisa Digunakan Padahal Sudah Aktif dan Solusi Praktis Mengatasinya
  • Inilah Kenapa Canva Error 503 Tidak Bisa Dibuka Hari Ini dan Cara Mengatasinya Sampai Layanan Kembali Normal
  • Inilah Cerita Hangat di Balik Muscab PKB Kebumen: Dari Urusan Dapur Hingga Strategi Pemenangan 2029!
  • Inilah Kronologi dan Identitas 4 WNI yang Disandera Perompak Somalia di Kapal MT Honour 25
  • Inilah Alasan PKB Kaji Ulang Ambang Batas DPRD Biar Sejalan Sama Putusan MK
  • Inilah Jadwal Pengumuman Hasil TKA SD dan SMP 2026 dan Cara Cek Skor Kalian Secara Online
  • Inilah HP Gaming Vivo Terbaik 2026 yang Paling Gahar, Main Game Berat Nggak Pake Ngelag!
  • Inilah Potensi Pajak Selat Malaka yang Bikin Rame, Ternyata Gini Cara Mainnya Biar Nggak Melanggar Hukum Internasional
  • Inilah Alasan Kenapa Sinkhole Sering Muncul di Indonesia dan Cara Mengenali Tanda-Tandanya Supaya Kalian Tetap Aman
  • Inilah Program PJJ 2026 untuk Anak Tidak Sekolah, Cara Mudah Masuk SMA Tanpa Harus ke Kelas Tiap Hari!
  • Inilah Program SPMB 2026 PJJ Khusus Anak Tidak Sekolah, Solusi Buat yang Pengen Balik Belajar!
  • Inilah Cara Kuliah di Al-Azhar Mesir Lewat Jalur Kemenag 2026, Lengkap dengan Syarat dan Jadwalnya!
  • Inilah Jadwal Lengkap Jalur Mandiri Unud 2026, Persiapkan Diri Kalian Sebelum Menyesal!
  • Inilah 8 Universitas Swasta Terbaik di Indonesia Versi THE Asia University Rankings 2026 yang Bisa Jadi Pilihan Kuliah Kamu
  • Inilah Jadwal Terbaru SSU ITB 2026 yang Diperpanjang, Lengkap dengan Syarat dan Rincian Biayanya!
  • Inilah 10 Jurusan Kuliah Paling Dicari Perusahaan Tahun 2026, Cek Daftarnya Biar Nggak Salah Pilih!
  • Inilah Cara Daftar Beasiswa Tut Wuri Handayani 2026, Kesempatan Emas Buat PNS Kemendiktisaintek Tingkatkan Karier!
  • Inilah Ketentuan Lengkap TKA Susulan 2026 SD dan SMP, Cek Syarat dan Jadwal Resminya Di Sini!
  • Inilah Kurikulum Berbasis Cinta Madrasah: Panduan Lengkap dan Link Download PDF Terbaru 2026
  • Inilah Kronologi Mencekam Kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL di Bekasi Timur yang Bikin Jalur Kereta Lumpuh Total
  • Inilah Alasan Kenapa Hari Libur dan Tanggal Penting Selalu Ditulis Pakai Warna Merah di Kalender
  • Inilah Cara Daftar Jalur Prestasi Politeknik PU Semarang 2026, Kesempatan Kuliah di Kampus Kementerian PU!
  • Inilah Cara Cek Bansos PKH dan BPNT 2026 Lewat HP, Lengkap dengan Jadwal Cair dan Besaran Dananya!
  • Inilah Alasan Kemdiktisaintek Bakal Tutup Banyak Jurusan Kuliah yang Nggak Relevan dengan Industri
  • Inilah Status Libur Hari Pendidikan Nasional 2026 dan Sejarah Penting di Baliknya
  • Inilah Daftar Libur Mei 2026 yang Bikin Full Senyum, Siapkan Rencana Liburan Kalian Sekarang!
  • Inilah Daftar Universitas Terbaik di Jepang Versi THE Asia University Rankings 2026, Kampus Mana yang Jadi Incaran Kalian?
  • How to Transform Your Windows 11 Interface into a Sleek and Modern Aesthetic Masterpiece
  • How to Understand Google’s New TPU 8 Series for Massive AI Training and Inference
  • How to Level Up Your PC Gaming Experience with the New Valve Steam Controller and Its Advanced Features
  • Is it Time to Replace Nano? Discover Fresh, the Terminal Text Editor You Actually Want to Use
  • How to Design a Services Like Google Ads
  • How to set up your own OpenClaw autonomous AI agent to manage your work and digital life efficiently
  • Xiaomi MiMo-V2.5-Pro Full Test: How to Build Incredible AI-Powered Projects with A Trillion-Parameter Guide for Young Developers!
  • NVIDIA Nemotron 3 Omni is Released!
  • How to use Google Veo 3 for free and generate high-quality AI videos without any expensive subscriptions or complex software
  • How to build professional AI projects that turn your GitHub portfolio into a job magnet
  • Apa itu Spear-Phishing via npm? Ini Pengertian dan Cara Kerjanya yang Makin Licin
  • Apa Itu Predator Spyware? Ini Pengertian dan Kontroversi Penghapusan Sanksinya
  • Mengenal Apa itu TONESHELL: Backdoor Berbahaya dari Kelompok Mustang Panda
  • Siapa itu Kelompok Hacker Silver Fox?
  • Apa itu CVE-2025-52691 SmarterMail? Celah Keamanan Paling Berbahaya Tahun 2025

©2026 emka.web.id | Design: Newspaperly WordPress Theme