Skip to content

emka.web.id

menulis pengetahuan – merekam peradaban

Menu
  • Home
  • Tutorial
  • Search
Menu

Mereka Sakit, Tapi Mengapa tak Berobat?

Posted on April 20, 2022

Kliping Pemikiran Islam, Ditulis oleh Saifir Rohman

Jangan Anda kira seluruh perilaku pemuka Islam seratus persen sama dengan sunnah Rasulullah. Pada segmen-segmen tertentu, dengan alasan tertentu pula, sebagian mereka justru berbeda dengan Nabi. Lihatlah, ketika Abu Bakar sakit lantas ditawarkan  untuk berobat. Sahabat sekaligus mertua Nabi ini malah menjawab, “Sang tabib telah  melihat kondisiku. Aku pun bebas melakukan apa saja yang kumau!”

Abu Bakar hanyalah seorang dari sejumlah tokoh Muslim yang saat sakit menolak  diobati. Sejarah mencatat nama-nama lain seperti Abu Darda’, Abu Dzar, Rabi’ Ibn  Khutsaim, Ahmad bin Hanbal, dan lain-lain. Kendati cara maupun intensitas penolakan  mereka berbeda-beda, nyatanya mereka tidak berobat. Sekurang-kurangnya mereka  tak menyukai tindakan tersebut. Sementara itu, mustahil mereka tak tahu bahwa  Rasulullah sendiri berobat, pun memerintahkannya.

Kemusykilan ini yang barangkali mendorong al-Ghazali untuk mengelaborasi dan  menuliskan fenomena ini dalam Ihya ‘Ulum al-Din, tepatnya pada Kitab al-Tauhid wa  al-Tawakkul. Tujuannya tak lain untuk mengompromikan, mencari titik temu antara  tindakan mereka dan Sunah Rasul. Upaya utama yang mungkin ditempuh adalah  memahami alasan-alasan atau motif-motif di balik tindakan mereka.

Al-Ghazali menyebut setidaknya ada enam motif di balik sikap denial mereka yang  enggan berobat. Pertama, orang yang sakit termasuk kalangan mukasyafin, yakni  orang-orang disingkapkan “tabir” oleh Allah sehingga mereka dapat “tahu sebelum  kejadian”. “Weruh sak durunge winarah,” jika dalam istilah Jawa.
Baca juga:  Menggugat Perumahan Beridentitas Islami
Mereka diberi keistimewaan mengetahui sesuatu yang belum terjadi, tak terkecuali  ihwal ajal mereka sendiri. Informasi tentang hal itu boleh jadi diterima via mimpi,  terkaan dan dugaan kuat, atau bahkan dibeberkan langsung secara jelas dan nyata. Tak  pelak, mereka memilih tidak berobat lantaran sudah tahu ajalnya akan segera tiba, dan  obat-obatan bagi mereka kala itu sudah tak lagi berguna.

Abu Bakar berindikasi kuat tergolong ke dalam kalangan ini. Indikatornya adalah  peristiwa berikut. Suatu ketika Abu Bakar pernah mengklaim bahwa putrinya, Aisyah, memiliki dua saudari. Padahal ketika itu saudarinya hanya satu. Memang benar istri Abu  Bakar sedang hamil kala itu. Tetapi jenis kelamin yang dikandungnya masih belum jelas  laki-laki atau perempuan. Pernyataan Abu Bakar bahwa Aisyah memilik dua saudari  menjadi benar kala istrinya benar-benar melahirkan bayi perempuan.

Kedua, orang yang sakit itu sibuk memikirkan kondisinya. Dirinya telah didominasi rasa  takut akan nasIbn ya kelak serta pengawasan Allah terhadapnya. Dalam kondisi  sedemikian masygulnya, ia menjadi lupa akan sakitnya. Bagaimana mau berobat, wong, sakitnya saja dia lupa?

Salah satu tokoh yang berindikasi masuk golongan ini adalah Abu Dzar. Dikisahkan ia  sedang sakit mata. Ketika ditanya, “Mengapa tidak engkau obati?”

Dia menjawab, “Kedua mataku telah membuat aku sibuk,”
Baca juga:  Sa’idah binti Zaid
Ketika ditanya lagi, “Kenapa engkau tak mohon saja pada Allah agar kedua matamu disembuhkan?”

Dia pun menjawab, “Aku  memohon sesuatu yang lebih penting dari kedua mataku.”

Ketiga, ada kalanya orang tak berobat lantaran meragukan khasiat obat. Tetapi di sini  harus dipastikan dari mana keraguan itu muncul. Sebab, boleh jadi keraguan itu muncul  bukan karena obat itu memang tidak mujarab, melainkan karena minimnya  pengetahuan yang bersangkutan mengenai dunia obat dan pengobatan. Untuk itu,  urusan obat dan pengobatan idealnya memang diserahkan kepada otoritas kesehatan,  karena merekalah pihak yang paling kompeten di bidang ini.

Pada bagian ini al-Ghazali melancarkan kritik pada kalangan yang cenderung meng gebyah-uyah. Misalnya mereka dapati obat “A” terbukti tak manjur, maka kemudian mereka akan berkesimpulan bahwa semua obat dari “A” sampai “Z” tidak manjur.  Akhirnya, mereka menjauhi semua jenis obat dan pengobatan. Sampai titik ini, terang  sekali bahwa al-Ghazali menekankan sikap ilmiah dalam menghadapi penyakit.

Keempat, sebagian mereka sengaja ingin berlama-lama dalam sakit dengan motif  beroleh ganjaran, baik ganjaran sakit itu sendiri maupun ganjaran atas kesabaran  menjalani sakit sebagai ujian. Oleh kalangan ini, sakit dipandang sebagai medan melatih  diri, sejauh mana ia mampu bersabar menghadapi ujian. Alasan ini cukup kuat lantaran  memang banyak hadis berbicara mengenai ganjaran bagi orang sakit.
Baca juga:  Interupsi (Belajar) Itu Bernama Pandemi
Kelima, ada hamba yang sengaja tidak berobat lantaran takut sakitnya lekas hilang. Ia  adalah hamba yang bergelimang dosa. Dia takut akan dosa-dosanya, juga tak kuasa  untuk menebusnya. Ia beranggapan, sakit dalam rentang waktu yang lama akan  menjadi kafarat bagi dosa-dosanya yang tak terbilang.

Keenam, ada kalanya seorang hamba merasa khawatir sebab semasa sehat cenderung  menyalahgunakan nikmat. Bahkan sampai pada taraf melampaui batas. Sedangkan  sakit, sekurang-kurangnya, dapat meredam kecenderungan-kecenderungan itu. Maka  ketika sakit, ia sengaja tak berobat lantaran takut kembali sehat, lalu kembali  terjerumus dalam keburukan-keburukan tadi.

Al-Ghazali menyitir hadis qudsi, “Kefakiran adalah penjaraku. Sakit adalah belengguku. Aku menawan siapa saja yang Ku-cintai dari kalangan makhluk-Ku.” Ketika sakit  membelenggu seseorang untuk congkak dan bermaksiat, adakah kiranya kebaikan lain  yang melebihinya?

Secara faktual, tindakan mereka memang berbeda dengan Sunah Nabi. Namun  demikian, berbeda di sini bukan berarti bertentangan. Dengan adanya motif-motif atau  alasan-alasan tadi, mereka yang tidak berobat alih-alih bertentangan Sunah Nabi, justru  menjadi terpuji.

Tetapi, ada dua hal yang mesti diingat. Pertama, memilih tidak berobat sejatinya adalah  tindakan alternatif. Disebut alternatif sebab pada mulanya atau kaidah umumnya,  orang sakit, sekurang-kurangnya, dianjurkan berobat. Kedua, alasan-alasan itu bersifat  personal-subjektif sehingga tak serta-merta dapat melegitimasi tindakan serupa dalam  konteks yang berbeda.

Baca Juga

Artikel ini di kliping dari Alif.id sebagai kliping/arsip saja. Segala perubahan informasi, penyuntingan terbaru dan keterkaitan lain bisa dilihat di sumber.

Terbaru

  • Hasil Benchmark Xiaomi Pad 8 Global Bocor! Siap-siap Masuk Indonesia Nih
  • KAGET! Ressa Rizky Rossano Akui Sudah Nikah & Punya Anak
  • Inilah Kronologi Ledakan Bom Rakitan SMPN 3 Sungai Raya, Kubu Raya Kalbar
  • Cara Mengatasi Error 208 BCA Mobile
  • Hapus Sekarang! Inilah Hornet, App LGBTQ Tembus Indonesia, Hati-hati
  • Berapa Lama Sih Ngecas HP 33 Watt? Ini Dia Penjelasannya!
  • Cara Cek Saldo Hana Bank Lewat SMS
  • Update Sistem Google Februari 2026: Apa yang Baru dan Perlu Kalian Tahu?
  • Membership FF Bulanan & Mingguan: Berapa DM yang Harus Kalian Siapkan?
  • Maksimal Ngecas HP Berapa Kali Sehari? Boleh 2 Kali Nggak, Sih?
  • Cara Mengatasi Error “Try Again, Open in Another App”
  • Sideload Android: Cara Pasang APK Tanpa Google Play Store (Panduan Lengkap 2026)
  • iPhone Jadi Kamera Vintage Modular? Proyek Kickstarter Ini Bikin Kagum!
  • Cara Mengatasi Video Nest Cam Bermasalah dan Video Hilang
  • iTunes Masih Jadi Rajanya Music? Ini Faktanya!
  • Google Home Smart Button Makin Canggih: Kini Otomatisasi Lebih Fleksibel!
  • F1: The Movie Raih Grammy! Tak Terduga, Kalahkan Bintang Country Ternama
  • Blokir Situs Judi Online: Lindungi Diri & Keluarga dari Dampak Negatif
  • Belanda Larang Anak di Bawah 16 Tahun Gunakan Media Sosial: Ini Detailnya!
  • Gemini Live Mendapat Desain Ulang ‘Floating UI’ yang Super Keren!
  • Galaxy S26 Kehilangan Magnet Qi2? Kebocoran Terbaru Bikin Penasaran!
  • DCT Coin: Crypto Legitim atau Penipuan? Bedah Tuntas, Harga & Fakta Penting!
  • Apple Rilis Update Terbaru untuk iOS, macOS, watchOS & Lainnya!
  • Paket Super Seru Telkomsel: Aplikasi Apa Saja yang Bisa Digunakan?
  • Deus Ex: Human Revolution GRATIS di Android! Buruan Download Sebelum Hilang!
  • Apa Bedanya Thigh, Wing, dan Drumstick di McDonald’s? Yuk, Kupas Tuntas!
  • OpenAI Luncurkan Codex App untuk macOS: Kode Jadi Lebih Mudah!
  • Dana Kaget Wealth Plan: Untung atau Mitos? Review Jujur & Cara Daftarnya!
  • Desain Sony WF-1000XM6 Bocor: Desain Baru, Performa Lebih Gahar!
  • Cara Pinjam 5 Juta di Pegadaian: Mudah, Cepat & Aman! (2024)
  • How to Run Qwen (14B) on AMD MI200 with vLLM
  • How to Enable New Run Dialog in Windows 11
  • How to Disable AI Features in Firefox 148
  • Git 2.53: What’s New?
  • Linux From Scratch Ditches Old System V init
  • Cara Membuat Podcast dari PDF dengan NotebookLlama dan Groq
  • Tutorial Membuat Sistem Automatic Content Recognition (ACR) untuk Deteksi Logo
  • Apa itu Google Code Wiki?
  • Cara Membuat Agen AI Otomatis untuk Laporan ESG dengan Python dan LangChain
  • Cara Membuat Pipeline RAG dengan Framework AutoRAG
  • Apa itu Spear-Phishing via npm? Ini Pengertian dan Cara Kerjanya yang Makin Licin
  • Apa Itu Predator Spyware? Ini Pengertian dan Kontroversi Penghapusan Sanksinya
  • Mengenal Apa itu TONESHELL: Backdoor Berbahaya dari Kelompok Mustang Panda
  • Siapa itu Kelompok Hacker Silver Fox?
  • Apa itu CVE-2025-52691 SmarterMail? Celah Keamanan Paling Berbahaya Tahun 2025
Beli Morning Star Kursi Gaming/Kantor disini: https://s.shopee.co.id/805iTUOPRV
Beli Pemotong Rumput dengan Baterai IRONHOOF 588V Mesin Potong Rumput 88V disini https://s.shopee.co.id/70DBGTHtuJ

©2026 emka.web.id | Design: Newspaperly WordPress Theme