Skip to content

emka.web.id

writing knowledge, recording civilization

Menu
  • Home
  • Tutorial
  • Search
Menu
kereta maglev jepang

Kereta Maglev 500 KM/Jam: Proyek Gila 1.100 Triliun dari Jepang

Posted on January 3, 2026

Kalian pernah bayangin nggak sih ada kereta yang bisa lari kencang banget sampai 500 km per jam tapi nggak nyentuh rel sama sekali? Kedengarannya kayak film fiksi ilmiah ya, tapi ini beneran lagi dikerjain sama Jepang di bawah pegunungan Alpen mereka. Negara ini lagi jor-joran nuangin duit sekitar 11 triliun yen atau setara 73 miliar dolar cuma buat ngebangun jalur kereta peluru magnetik yang bakal jadi salah satu proyek kereta paling mahal sepanjang sejarah manusia.

Kalo proyek ini sukses, perjalanan dari Tokyo ke Osaka yang biasanya makan waktu lama bakal bisa ditempuh cuma dalam sejam-an aja, yang pastinya bakal ngebongkar ulang tatanan ekonomi Jepang. Tapi pertanyaannya, kenapa Jepang berani banget taruhan segede itu buat kereta yang bahkan nggak punya roda? Kita bakal ngebahas tuntas soal SC Maglev ini, mulai dari teknologinya yang ajaib sampai drama politik di baliknya yang bikin pusing tujuh keliling.

SC Maglev ini singkatan dari Superconducting Magnetic Levitation, simpelnya sih ini kereta yang mengapung, bukan menggelinding. Alih-alih pakai roda baja kayak kereta biasa, mereka pakai kekuatan magnet yang super kuat buat ngangkat badan kereta sekitar 10 cm di atas lintasannya. Karena nggak ada gesekan sama sekali antara roda dan rel, kereta ini bisa dipacu sampai kecepatan yang nggak masuk akal buat ukuran transportasi darat. Bayangin aja, kecepatan operasionalnya direncanain bakal stabil di 500 km per jam, jauh lebih kencang dibanding Shinkansen sekarang yang mentok di 300-an km per jam. Malah kalau kalian ngebaca catatan sejarahnya, prototipe kereta ini pernah mecahin rekor dunia di angka 603 km per jam pas lagi uji coba, gila banget kan? Teknologi ini butuh infrastruktur yang beda total, bukan pakai rel besi lagi tapi pakai dinding beton berbentuk parit yang isinya penuh sama kumparan magnet.

Cara kerjanya juga unik banget, kayak ada “jabat tangan magnetik” yang terus-menerus narik dan dorong kereta ini biar maju kencang. Magnet yang ada di kereta itu didinginkan sampai suhu ekstrem minus 269 derajat Celsius pakai helium cair biar bisa jadi superkonduktor. Nah, pas kereta mulai jalan, awalnya dia masih pakai roda karet kecil kayak pesawat buat ancang-ancang. Begitu kecepatannya sudah nyentuh 150 km per jam, kekuatan magnetnya baru jadi cukup kuat buat ngangkat seluruh badan kereta, rodanya masuk ke dalam, dan keretanya pun melayang terbang rendah. Sepertinya Jepang emang pengen nunjukin kalau mereka masih jadi raja teknologi di dunia transportasi. Tapi ngebangun jalurnya itu tantangan yang luar biasa berat karena rutenya nggak lewat pesisir kayak Shinkansen lama, tapi motong lurus nembus pegunungan Alpen Jepang yang isinya batu-batu keras.

Kalian harus tahu kalau sekitar 86% jalur dari Tokyo ke Nagoya itu isinya terowongan semua. Mereka benar-benar ngebongkar gunung buat bikin lubang lurus sepanjang 25 km di kedalaman 1,4 km di bawah tanah. Ini bakal jadi terowongan kereta terdalam dan terpanjang di Jepang. Kenapa harus se-ekstrem itu? Karena buat lari 500 km per jam, keretanya nggak boleh banyak belok-belok, jadi ya jalurnya harus lurus kayak ditembak laser. Masalahnya, pengerjaan proyek raksasa ini nggak mulus-mulus amat karena sempat kejegal drama lingkungan di Prefektur Shizuoka. Gubernur di sana sempat nolak ngasih izin karena takut terowongan ini bakal ngerusak aliran air sungai Oi yang jadi sumber kehidupan warga lokal. Gara-gara masalah ini doang, proyek yang harusnya beres tahun 2027 jadi molor jauh sampai tahun 2030-an atau bahkan 2040-an.

Selain masalah teknis dan lingkungan, biaya yang terus membengkak juga bikin banyak orang mulai ragu. Dengan jumlah penduduk Jepang yang makin menyusut dan budaya kerja dari rumah yang makin ngetren, apa iya nanti penumpangnya bakal sebanyak yang dibayangin? Ada yang bilang ini cuma proyek kebanggaan doang yang mungkin bakal rugi besar. Tapi buat pendukungnya, SC Maglev ini adalah asuransi buat Jepang kalau-kalau ada gempa bumi besar di jalur pantai, mereka masih punya jalur cadangan yang aman di pedalaman. Terlepas dari segala kontroversinya, kalau kita ngelihat kegigihan insinyur Jepang selama puluhan tahun ngebangun teknologi ini, kayaknya mereka nggak bakal berhenti gitu aja. Kita tinggal nunggu waktu aja sampai akhirnya bisa ngerasain gimana rasanya terbang rendah di atas tanah dengan kecepatan peluru.

Kesimpulannya, proyek SC Maglev ini adalah pertaruhan harga diri dan masa depan teknologi Jepang yang luar biasa mahal. Walaupun penuh hambatan mulai dari masalah geologi yang rumit sampai drama politik lokal, Jepang sepertinya sudah nggak mungkin balik kanan karena duit yang keluar sudah terlalu banyak. Kalau ini berhasil, wajah ekonomi mereka bakal berubah total, tapi kalau gagal, ini bakal jadi pelajaran paling mahal dalam sejarah transportasi dunia. Kita doakan saja semoga inovasi ini bisa benar-benar bermanfaat buat banyak orang nantinya. Sampai ketemu di bahasan seru lainnya ya rekan-rekanita.

Terbaru

  • Testing Goose on Omarchy Linux (App & CLI): The Open-Source Solution for Daily Task Automation
  • GNOME Founder Attacks Omarchy Founder as “Lazy, Racist, Ignorant”
  • Why I Stopped Using Plain Command Line Docker and Use Portainer 3.0 To Make My Home Projects Fun Again
  • Why I Switched to a Proper Firewall Box with OPNSense for My Homelab Stuff
  • Fixing Windows Error 0x80070005 Hyper-V Export Access Denied Error the Right Way
  • Fixing Hyper V Export Errors and Building a Better Virtual Machine Setup (error 0x80070002, 0x80070005)
  • Fixing the Dreaded Windows Audio Service Stuck on Stopping Error
  • Windows SIM Error, Unknown error 0xc1420127
  • How I’m Building a Cat Breeding Management App with Python Qt6 + Microsoft Litebox, in 1 Week
  • Why Windows Keeps Nuking Your GPU Drivers (And How to Take Back Control)
  • Why I Finally Ditched Mainstream Windows Cleaners (And Why I Use ‘Kudu’ Instead)
  • AI Made Everything Faster, Including Bad Decisions
  • Raspberry Pi Desktop Available of PC and Mac, Based on Debian 13
  • Why I Stopped Yelling at My PC When Error; Getting Windows 11 Voice Isolation and Access to Actually Work
  • Berobat Kanker ke Malaysia: Berapa Biayanya dan Apa Saja yang Perlu Disiapkan?
  • Stop Sending Every Prompt to the Biggest AI Model You Can Find
  • Stop Building AI Agents from Scratch: My Pick for the Best Native Windows Setup
  • Jev Is Faster and Cheaper, But I Still Recommend Clef. Here’s Why.
  • Weird XCP-NG Bug or Feature? Enable Maintenance Mode = Host Not Enough Memory
  • Vinix OS: Another OS That Want to Beat Linux, Try it!
  • Trying NVX, An Ultra-Light Micro-VM Sandbox from Microsoft
  • Learning NocoDB from Scratch: Creating a Simple Greenhouse App
  • How RHEL 10.2 Quietly Turned Into an Absolute Security Beast
  • Grab Videos from Anywhere with ReClip (Can Running Locally)
  • Jumped onto Ubuntu 26.04 LTS? Here’s How to Add a New User Account
  • Tutorial Cara Install WPS Office di Linux (Alternatif Microsoft Office)
  • Tutorial Upgrade Server Ubuntu 24.04 LTS ke Ubuntu 26.04 LTS dengan Aman
  • Inilah Alasan kenapa akun TikTok dibatasi tidak bisa klaim koin dan masalah pembatasan lainnya?
  • Apa penyebab gagal kirim SMS ke 89888 padahal pulsa masih ada?
  • Mengenal Donghua: Kenapa Animasi dari Tiongkok Ini Lagi Naik Daun Banget
  • Canonical: Ubuntu coming soon to Snapdragon X2 Series platforms
  • Finally, wolfSSL adds post-quantum algorithms!
  • How to Run Gemma Embedding Models Using Docker
  • Deploy Nginx Rootful Container with Podman
  • How to Sandboxing Browser on Linux Desktop with Flatpak
  • Prompt AI: Impressionist Portrait Art of a Woman
  • Prompt AI: Stylish Man Walking Double Exposure Photo
  • Trying Nemotron 3.5 Super VL: NVIDIA’s Open Multimodal Model Built for Agents That Actually See and Act
  • Pruna AI Release their Qwen-Image 2.1 LoRA Adapter, 6x Faster than Regular Qwen
  • The Rise and Fall of the Coding Holy Grail: Is Stack Overflow Just AI Fuel Now?
  • Reza Auditore kena meme jadi Duta Besar Israel? Cek faktanya biar nggak kemakan shitpost netizen
  • Alternatif Situs Batoto: Update Oktober 2026
  • ERROR? Inilah Cara Cek Status PIP Oktober 2026 Pakai NISN dan NIK yang Benar
  • Ini Syarat Pendaftaran & Tips Lolos Seleksi Magan Nasional Batch 3 2026
  • ITS Buka Rekrutmen Dosen Baru (Tetap Non PNS), Ini Formasi & Syaratnya

©2026 emka.web.id | Design: Newspaperly WordPress Theme