Kurikulum Berbasis Cinta atau KBC itu sebenarnya adalah sebuah pendekatan pendidikan di madrasah yang mengedepankan sisi kemanusiaan. Singkatnya, KBC adalah sistem yang memosisikan murid bukan lagi sebagai objek pasif yang cuma harus patuh, melainkan subjek yang perlu ditumbuhkan empati, rasa hormat, dan kasih sayangnya dalam ekosistem belajar yang aman.
Kalau kita bedah secara lebih teknis, KBC ini nggak cuma soal jargon “sayang murid” aja, ya. KBC punya landasan yang cukup kuat, yaitu menggeser paradigma disiplin dari yang sifatnya ancaman atau hukuman fisik menjadi kesadaran internal. Nilai agama dalam KBC juga nggak dipandang sebagai doktrin yang menakutkan, tapi lebih ke proses menanamkan rasa cinta kepada Allah dan sesama manusia. Intinya, madrasah pengen bikin lingkungan yang “Aman dan Menghargai”. Kalau di sekolah kalian masih banyak perundungan atau guru yang hobinya marah-marah tanpa alasan, kayaknya ruh KBC-nya belum masuk tuh.
Fondasi dari KBC ini sebenarnya berdiri di atas dua pilar utama: Pembiasaan Spiritual & Karakter (buat batinnya) dan Pembiasaan Sistem & Budaya (buat aturan mainnya). Nah, supaya kurikulum ini nggak cuma jadi pajangan di dokumen sekolah, ada beberapa langkah atau praktik harian yang kira-kiranya harus diterapkan secara konsisten:
- Ibadah yang Menghidupkan Rasa
Praktik ibadah kayak Salat Dhuha atau doa bareng nggak boleh cuma jadi ritual “gugur kewajiban”. Di KBC, guru bakal ngajak kalian buat refleksi setelahnya. Contohnya, guru mungkin tanya, “Gimana rasanya setelah berdoa tadi?” atau “Tadi pas doa, apa yang kalian syukuri?”. Tujuannya biar ibadah itu nyambung sama akhlak nyata ke teman sebangku, nggak cuma berhenti di sajadah. - Penerapan Disiplin Positif
Langkah ini fungsinya buat ngehapus budaya kekerasan. Disiplin positif itu fokusnya membangun kesadaran dari dalam diri murid sendiri, bukan karena takut dihukum. Tekniknya biasanya “koneksi sebelum koreksi”. Jadi, kalau ada murid yang bikin salah, gurunya bakal nenangin emosi si anak dulu, baru deh dibahas logikanya. Kalau salahnya numpahin air, ya konsekuensi logisnya ngepel, bukan malah disuruh lari keliling lapangan yang nggak nyambung sama sekali. - Membangun Budaya Anti-Bully
Madrasah harus punya sistem yang jelas buat menutup celah perundungan. Biasanya dilakukan lewat rutinitas “Cek Suasana Kelas” tiap pagi buat ngelihat kondisi emosi kalian. Madrasah juga wajib punya kanal laporan yang aman, jadi kalau ada masalah, penyelesaiannya lewat mediasi dialogis, bukan adu kekuatan atau siapa yang paling jago. - Latihan Toleransi dan Empati secara Terstruktur
Cinta dalam KBC itu sifatnya inklusif, bukan cuma buat kelompok sendiri. Praktiknya bisa lewat diskusi kelompok yang anggotanya acak-acak atau tugas refleksi tentang cara menghargai perbedaan. Guru juga sering-sering ngadain sesi “Apresiasi Teman”, di mana kalian diajak buat muji usaha temen, bukan cuma hasilnya doang. - Aksi Nyata Cinta Lingkungan
Cinta lingkungan di KBC itu landasannya religius. Kayak contoh kecilnya, wudu hemat air yang cuma pakai satu botol aja. Hal-hal kayak piket kelas juga dimaknai sebagai ibadah kebersihan dan bentuk rasa syukur karena sudah dikasih fasilitas belajar, bukan sekadar tugas rutin yang ngebosenin. - Refleksi Rutin sebagai Penutup
Tanpa refleksi, pengalaman belajar kalian kayaknya bakal lewat gitu aja tanpa makna. Biasanya di KBC ada jurnal syukur mingguan atau sesi 3 menit di akhir kelas buat jawab pertanyaan, “Pelajaran baik apa yang kita dapat hari ini?”. Ini penting banget buat nyadarin proses belajar yang sudah dilalui. - Sinergi dengan Orang Tua
Iklim cinta di madrasah bakal hancur kalau di rumah pola asuhnya malah main fisik atau kasar. Makanya, guru dan orang tua harus sering komunikasi yang sifatnya sejuk, nggak cuma lapor pas murid nakal doang. Ada kelas parenting juga supaya apa yang diajarkan di sekolah tetap sinkron sama yang ada di rumah.
Rasanya, KBC ini memang bukan soal seberapa megah gedung madrasahnya, tapi lebih ke seberapa konsisten kita semua menerapkan nilai Panca Cinta (Cinta Allah, Ilmu, Lingkungan, Diri/Sesama, dan Tanah Air) dalam interaksi sehari-hari. Kuncinya cuma satu: konsisten. Kalau cuma semangat di awal doang, ya hasilnya nggak bakal kelihatan. Jadi, buat kalian yang ada di lingkungan madrasah, yuk mulai pelan-pelan ubah kebiasaan kecil kita supaya suasana belajar jadi lebih adem dan bermakna. Kuranglebihnya begitu gambaran teknis dari Kurikulum Berbasis Cinta ini.
Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk menyimak ulasan ini, rekan-rekanita. Semoga bermanfaat untuk kita semua!