Pernah nggak sih kalian bayangin kalau Indonesia dan Malaysia, yang katanya serumpun, dulu hampir perang besar-besaran? Ini bukan cuma saling sindir di internet, tapi beneran kirim pasukan ke hutan. Periode 1963-1966 jadi masa paling panas yang nyaris ngubah nasib Asia Tenggara selamanya. Yuk, kita bedah ceritanya.
Cerita ini bermula di awal tahun 1960-an. Waktu itu, suasana dunia lagi hangat-hangatnya pasca perang dunia, dan banyak negara baru aja lepas dari penjajahan. Di bawah Presiden Soekarno, Indonesia ngelihat dirinya bukan cuma sebagai negara merdeka biasa, tapi sebagai kekuatan besar yang punya tanggung jawab buat mimpin Asia Tenggara supaya bebas dari campur tangan Barat. Soekarno punya visi yang anti banget sama kolonialisme. Nah, masalahnya muncul ketika Inggris, yang waktu itu masih punya pengaruh kuat di utara (Malaya, Singapura, Borneo), punya rencana lain.
Inggris ngerasa cara lama menjajah udah nggak relevan, jadi mereka ngebikin strategi baru dengan membentuk sebuah negara federasi bernama Malaysia. Bagi Inggris, ini solusi politik biar mereka bisa pulang dengan tenang tapi tetap ninggalin pengaruh. Tapi bagi Soekarno? Wah, ini bendera merah banget. Bung Karno ngelihat ini sebagai taktik licik atau “Neokolonialisme” (penjajahan gaya baru). Menurut pandangan kami, kecurigaan Soekarno ini sebenernya cukup beralasan kalau dilihat dari kacamata geopolitik saat itu. Beliau takut kalau Malaysia cuma bakal jadi negara boneka yang ngebuat Inggris tetap bisa ngontrol kawasan ini dan ngancam kedaulatan Indonesia.
Ketegangan makin menjadi-jadi karena Soekarno sebenernya punya mimpi tentang Indonesia Raya, sebuah penyatuan bangsa-bangsa Melayu dalam satu kekuatan yang mandiri. Rencana pembentukan Federasi Malaysia yang digagas Perdana Menteri Tunku Abdul Rahman pada 1961 jelas nabrak visi ini. Situasi bener-bener meledak waktu ada pemberontakan di Brunei pada Desember 1962. Rakyat di sana, dipimpin Azari, nolak gabung sama Malaysia. Inggris langsung ngirim pasukan Gurkha buat numpas pemberontakan itu. Di sini, Soekarno secara terang-terangan ngasih dukungan ke pemberontak, dan hubungan Jakarta-Kuala Lumpur pun langsung retak parah.
Sebenernya, sempet ada usaha damai lewat pertemuan di Manila tahun 1963. Soekarno, Tunku Abdul Rahman, dan Presiden Filipina sepakat buat minta PBB ngecek dulu: bener nggak sih rakyat di Sabah dan Sarawak mau gabung Malaysia? Janjinya sih manis, Indonesia bakal hormatin hasilnya. Tapi, belum juga tim PBB selesai kerja dan ngumumin hasil resminya, Inggris dan Malaya malah main serobot. Pada 31 Agustus 1963, mereka nekat memproklamasikan berdirinya Federasi Malaysia. Bagi Soekarno, ini jelas pengkhianatan. Janji di Manila dianggap angin lalu aja sama mereka.
Dari sinilah keluar slogan legendaris yang mungkin sering kalian denger di buku sejarah: “Ganyang Malaysia”. Indonesia resmi ngumumin kebijakan konfrontasi. Menariknya, Bung Karno milih istilah “konfrontasi” dan bukan “perang”. Jadi secara teknis, kita nggak pernah deklarasi perang resmi. Tapi di lapangan? Perang bayangan terjadi. Pasukan Indonesia mulai nyusup diam-diam ke hutan Borneo, ngelakuin perang gerilya, nyerang pos-pos perbatasan, dan ngerusak jalur logistik. Tujuannya buat mecah konsentrasi Malaysia yang waktu itu militernya masih terbatas dan sangat bergantung sama Inggris, Australia, dan Selandia Baru.
Konflik ini nggak cuma di hutan, tapi juga nyampe ke kota. Yang paling bikin geger adalah insiden bom di MacDonald House, Singapura, pada Maret 1965 yang newasin warga sipil. Rasanya situasi udah di ujung tanduk banget. Tapi, di balik semangat Ganyang Malaysia yang berapi-api, kondisi dalam negeri Indonesia justru lagi babak belur. Ekonomi hancur, inflasi gila-gilaan, dan harga kebutuhan pokok naik drastis karena duit negara habis buat biayai konfrontasi. Rakyat makin susah, dan politik di Jakarta makin panas antara TNI, Nasionalis, dan PKI.
Titik baliknya terjadi pasca peristiwa G30S pada 1965. Kekuasaan beralih dari Soekarno ke Soeharto. Nah, Pak Harto punya pandangan beda. Beliau ngelihat kalau konfrontasi ini cuma ngabisin energi dan duit, padahal “PR” di dalam negeri numpuk banget, terutama soal ekonomi dan stabilitas. Akhirnya, lewat diplomasi diam-diam yang kemudian diresmikan di Perjanjian Bangkok pada 1966, konfrontasi resmi dihentikan. Uniknya, dari konflik yang nyaris jadi perang terbuka ini, setahun kemudian justru lahir ASEAN. Para pemimpin sadar kalau mau maju, tetangga nggak boleh ribut melulu.
Jadi, apa yang bisa kita pelajari? Sejarah konfrontasi ini ngasih pelajaran mahal bahwa ego politik dan sisa-sisa kolonialisme bisa dengan mudah ngebuat saudara serumpun saling angkat senjata. Untungnya, arah sejarah berubah menuju perdamaian, yang akhirnya ngebangun stabilitas kawasan sampai hari ini. Buat rekan-rekanita sekalian, semoga tulisan ini bisa nambah wawasan kalian tentang betapa kompleksnya hubungan kita dengan tetangga. Terima kasih sudah membaca sampai akhir, mari kita jaga perdamaian yang sudah susah payah dibangun ini.