Skip to content

emka.web.id

menulis pengetahuan – merekam peradaban

Menu
  • Home
  • Tutorial
  • Search
Menu

Ketika Agama Kehilangan Humor

Posted on December 25, 2012

Oleh Budi Kleden

Agama-agama tampaknya terlampau berkonsentrasi pada hal-hal serius. Agama-agama disibukkan dengan pengaturan ibadat yang tepat dan pengawasan atas perilaku moral manusia yang benar. Agama-agama juga terlampau serius untuk memberi hati bagi hal-hal yang ringan dan lucu dalam hidup. Padahal, sejatinya humor itu penting dan boleh disebut sebagai salah satu tanda orang-orang yang diselamatkan.

Humor dan tertawa yang menjadi reaksinya adalah ungkapan kelepasan, pembebasan. Itulah pula inti dari keimanan. Iman tidak dapat dipisahkan dari pembebasan dan pembebasan tidak dapat dilepaskan dari kegembiraan. Orang yang yakin akan pembebasannya adalah orang yang bergembira dan mewartakan kegembiraan.

Orang yang beriman meyakini bahwa hidupnya jauh lebih kaya daripada apa yang dapat diaturnya sendiri, bahwa makna dirinya jauh lebih dalam daripada apa yang direfleksikannya, bahwa martabatnya jauh lebih luhur daripada apa yang dapat dikumpulkan dan dibanggakannya sendiri. Dia meyakini kebesaran Tuhan yang rela menyapa dan mengangkatnya dari kerapuhan dan keterbatasan. Iman yang sejati selalu bermuara pada kedermawanan dalam mengampuni kesalahan dan keluasan hati menerima perbedaan.

Sebuah gugatan

Tak Ada Santo dari Sirkus adalah sebuah gugatan terhadap hilangnya humor dalam agama-agama. Aku, si tokoh utama di dalam novel Seno ini, mengisahkan pengalamannya yang berkaitan dengan sirkus dari dua masa dan di tempat berbeda. Kisah masa kecil yang diceritakan dalam alur mundur mempertemukan kita dengan dunia sirkus yang memadukan kejenakaan dan musik. Paduan ini dihadirkan kembali pada masa dewasa saat sang tokoh utama berkisah tentang petualangannya sebagai seorang tenaga sukarela untuk perdamaian di sebuah kota tanpa nama.

Kedua masa dan dunia berbeda ini menghadirkan sirkus dalam dua sisi yang berlawanan. Kekaguman pada sirkus si tokoh utama pada masa kecil sepertinya dipertaruhkan saat dia mesti mengalami bahwa sirkus, seperti semua hal lain di dalam kehidupan orang dewasa, dapat disalahgunakan. Cinta dan keterikatan warga dengan kelompok sirkus pertama yang artistik dan berselera tinggi, kemudian dihancurkan oleh kelompok sirkus kedua yang mengutamakan atraksi-atraksi kekerasan dan bergaya militer.

Atas nama nasionalisme, orang-orang yang mengandalkan kekerasan ini menjebak warga dalam rasa benci dan amarah terhadap para seniman yang sebelumnya sudah lekat di hati warga. Yang tersisa dalam diri si tokoh utama adalah kepandaian meniup klarinet. Kepandaian inilah yang membawanya bergabung dengan para relawan perdamaian.

Ternyata di sini pun, di kota yang memiliki kebanggaan karena menjadi tempat istimewa dalam petualangan Paulus, sang santo agung dalam tradisi kekristenan, si aku dalam Tak Ada Santo dari Sirkus, menghadapi masalah yang sama. Sirkus di mata sejumlah pegiat perdamaian yang berusia muda dan kreatif dipandang sebagai sarana perdamaian karena meluluhkan kepongahan manusia dan meleburkan semua orang dalam kegembiraan yang sama. Namun, di sisi lain sirkus dianggap sebagai sarana pencemaran kekudusan oleh jemaat yang dogmatis dan pemimpin para relawan yang sudah mapan.

Ketika menghadapi pertentangan karena sirkus, si pencerita sebagai tokoh utama merasakan dorongan kuat untuk menuruti contoh ibunya, berdoa kepada santo yang berspesialisasi sirkus. Tradisi Katolik memang mengenal tujuh ribuan santo dan santa yang dihormati dan dimintai intervensinya untuk beragam kebutuhan.

Sayangnya, tidak ada yang secara khusus datang dari dunia sirkus. Saat telah menjadi dewasa, kebutuhan yang sama pun mencuat. Namun, sekali lagi di sini khazanah religius tradisional tidak menyediakan penolong istimewa ”dari dunia sirkus sendiri. Santo-santo yang tahu apa yang terjadi di belakang tenda-tenda sirkus”.

Akrobatik berisiko

Mengangkat tema seperti ini bukanlah sebuah hal mudah. Dibutuhkan akrobatik imaginasi ahli sirkus dan kelenturan bahasa seorang pelawak untuk mengusung persoalan ini dalam isi dan bentuk sastra yang serius serentak jenaka. Seno berusaha, tetapi belum sepenuhnya berhasil.

Kecermatan pengamatan, kepekaan menangkap getaran batin dan pengetahuan yang luas mengenai dunia sirkus, musik, serta tradisi keagamaan yang dimiliki dan dimanfaatkan penulis novel ini memang sangat membantu membuat pelukisan yang detail. Hal ini tampaknya perlu dalam sebuah novel yang hampir tidak mengenal dialog. Hanya di dalam tiga bab terakhir dari 17 bab kita membaca beberapa dialog.

Persoalannya, pelukisan yang cermat itu gampang berubah menjadi sebuah analisis serius yang memudarkan kejenakaan. Bahaya ini diperbesar oleh penyimpangan dalam sejumlah penulisan kata dan kalimat dari kaidah tata bahasa baku.

Sirkus memang mengandalkan kejutan, tetapi kejutan yang sudah direncanakan matang dan mengusung makna. Sejumlah kesalahan penulisan di dalam novel ini tampaknya merupakan kelalaian dalam pengeditan yang perlu diperhatikan.

Tidak mudah memasukkan humor dan kejenakaan sirkus ke dalam agama. Bukan perkara mudah pula menulis karya sastra yang membawa dalam bentuknya pesan kejenakaan yang dipadukan dengan keilahian. Maka, pantaslah apabila orang berdoa agar diberikan rasa humor yang benar.

Thomas Morus (1478-1535), politisi dan santo berkebangsaan Inggris, disebut sebagai penulis doa tentang humor yang dapat pula dipakai untuk sirkus: ”Tuhan, berikanlah aku pencernaan yang baik dan juga sesuatu untuk dicernakan. Anugerahkanlah aku kesehatan tubuh beserta kesadaran untuk memeliharanya. Tuhan, berikanlah aku jiwa yang tidak kenal kejenuhan, yang tidak tahu menggerutu, mengeluh, dan mendesah. Jangan biarkan aku terlalu banyak dibebani kecemasan akan egoku yang selalu merasa kurang diperhatikan. Tuhan, berikanlah aku rasa humor. Anugerahkanlah aku rahmat untuk menikmati lelucon sehingga aku dapat sedikit merasakan kebahagiaan di dalam hidup ini dan dapat meneruskannya kepada orang lain!”

Budi Kleden, Dosen Teologi dan Sastra pada STFK Ledalero, Maumere, Flores

Terbaru

  • Daftar Sekarang! Beasiswa S2 di Italia dari IYT Scholarship 2026 Sudah Dibuka
  • Sejarah Hantavirus dan Perkembangannya Sampai ke Indonesia
  • Kementerian Pendidikan: Mapel Bahasa Inggris Wajib di SD Mulai 2027!
  • Ketua Fraksi PKB MPR-RI: Kemenag Respon Cepat Pendidikan Santri Ndolo Kusumo Pati yang Terdampak
  • Viral Video Sejoli Di Balai Kota Panggul Trenggalek, Satpol PP Janji Usut
  • Video Viral Wakil Wali Kota Batam Tegur Keras Pasir Ilegal
  • LPDP Buka Peluang Beasiswa S3 Prancis 2026, Simak Syaratnya!
  • Inilah Panduan Lengkap dan Aturan Main Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) SMA dan SMK Negeri Jawa Tengah Tahun 2026
  • Inilah Syarat dan Cara Daftar MOFA Taiwan Fellowship 2027
  • RESMI! Inilah Macam Jalur di SPMB Sekolah Tahun Ajaran 2026
  • Ini Loh Rute Terbaru TransJOGJA Per Mei 2026, Jangan Salah Naik!
  • Inilah Jadwal Operasional MRT Jakarta Per Mei 2026, Berubah Dimana?
  • Inilah Syarat dan Mekanisme Seleksi Siswa Unggul ITB Jalur Talenta (OSN, Seniman, Hafidz, Atlet dll) 2026/2027
  • Inilah Daftar Saham Farmasi di BEI Per Mei 2026, Pilih Mana?
  • Kesehatan Mental Itu Penting: Inilah Isi Chat Terakhir Karyawan Minimarket Sukabumi Bundir
  • Inilah Kampus Swasta Terbaik Jurusan Farmasi di Area Malang Raya
  • Cara Login EMIS 4.0 Kemenag Terbaru 2026 Pakai Akun Lembaga dan PTK Guru Madrasah Aktivasi
  • Survei Parpol Terbaru: Gerindra Unggul, PDIP Ketiga, PKB 5%
  • PKB Resmi Jalin Kerjasama dengan Institut Teknologi & Sains NU Kalimantan
  • Inilah Urutan Terbaru Pangkat TNI Angkatan Darat! (Update 2026)
  • Inilah Panduan Lengkap Operator Sekolah Mengelola SPTJM e-Ijazah dan Menghindari Kesalahan Fatal Data Kelulusan
  • Inilah Syarat dan Penilaian Seleksi Siswa Unggul ITB Jalur UTBK
  • Download Video Viral Guru Bahasa Inggris? Awas Berisi Virus!
  • PKB Minta Kasus C4bul Pendiri Ponpes Pati Tidak Ada Ampunan & Tuntutan Maksimal
  • Inilah Kronologi Video Viral Preman vs Sopir Di Sumedang
  • Ini Alasan UKP Pariwisata Disindir Konten Kreator Drone Gunung Rinjani
  • Inilah Kronologi Viral Video Dugaan Asusila Pegawai Disdik Pasuruan di Mobil Dinas
  • Polisi Polda Sumut Resmi Dipecat: Dari Video Viral Sampai Sidang Etik Ini Kronologinya
  • ASUS ExpertBook Ultra: Produk Flagship yang Cerminkan Kepemimpinan ASUS di Pasar Global
  • Inilah Tahapan dan Syarat Pendaftaran Beasiswa Garuda 2026 Gelombang II (25 Mei – 25 Juni 2026)
  • How to build a high-performance private photo cloud with Immich and TrueNAS SCALE
  • How to Build an Endgame Local AI Agent Setup Using an 8-Node NVIDIA Cluster with 1TB Memory
  • How to Master Windows Event Logs to Level Up Your Cybersecurity Investigations and SOC Career
  • How to Build Ultra-Resilient Databases with Amazon Aurora Global Database and RDS Proxy for Maximum Uptime and Performance
  • How to Build Real-Time Personalization Systems Using AWS Agentic AI to Make Every User Feel Special
  • Testing Baidu Ernie 5.1, ultra-efficient thinking mode to solve your most complex coding and reasoning challenges with ease
  • How to Evaluate AI Logic Performance Using DeepSeek V4 Flash Think and Gemini 3.1 Flash Light in Complex Reasoning Tests
  • How to Build Your Own Content Factory Using the New Google NotebookLM Intelligence Updates
  • How to Use DFlash for Blazing Fast AI Text Generation on Gemma 4 26B
  • How to Optimize Your AI Agent Using Compiled Knowledge Layers to Replace Traditional RAG Systems
  • Apa itu Spear-Phishing via npm? Ini Pengertian dan Cara Kerjanya yang Makin Licin
  • Apa Itu Predator Spyware? Ini Pengertian dan Kontroversi Penghapusan Sanksinya
  • Mengenal Apa itu TONESHELL: Backdoor Berbahaya dari Kelompok Mustang Panda
  • Siapa itu Kelompok Hacker Silver Fox?
  • Apa itu CVE-2025-52691 SmarterMail? Celah Keamanan Paling Berbahaya Tahun 2025

©2026 emka.web.id | Design: Newspaperly WordPress Theme