Skip to content

emka.web.id

menulis pengetahuan – merekam peradaban

Menu
  • Home
  • Tutorial
  • Search
Menu

Bagaimana Nabi Ibrahim Memaknai Sakit?

Posted on April 17, 2022

Kliping Pemikiran Islam, Ditulis oleh Saifir Rohman

Barangkali, Ibrahim As. adalah Muslim pertama yang mempertautkan urusan penyakit dengan keimanan. Kala itu, ia sedang dalam konfrontasi dengan para penyembah berhala. Setelah menggugah mereka dengan pertanyaan-pertanyaan kritis semisal “Apakah patung-patung itu mendengar seruan kalian?”, “Apakah mereka bisa mendatangkan manfaat dan mudarat bagi kalian?”, Ibrahim pun mulai mempromosikan Tuhannya. Dalam promosinya itu muncullah kata “sakit”. Tepat saat Ibrahim berkata, “Dan jika aku sakit, maka Dia-lah yang Menyembuhkan” (QS. Al-Syu’ra [26]: 80).

Jika diurai, proposisi kondisional yang digunakan Ibrahim di atas tersusun dari dua klausa. Klausa pertama berbunyi, “Jika aku sakit”. Sedang klausa kedua bunyinya, “Maka Dia-lah yang menyembuhkan.”. Pada klausa pertama, kata “sakit” dinisbatkan pada dirinya. Sementara dalam klausa kedua, kata “menyembuhkan” ia sandangkan kepada Tuhan. Secara sederhana, kita bisa menginterupsinya dengan sebuah pertanyaan. Bukankah sudah maklum bahwa penyakit dan kesembuhan sama-sama dari Tuhan, sehingga semestinya keduanya dinisbatkan pada subyek tunggal saja, yakni Allah Ta’ala?

Untuk menjawab kemusykilan ini para mufasir menawarkan beberapa kemungkinan. Ada yang menganggap bahwa penggunaan diksi tersebut dimaksudkan sebagai bentuk adab Ibrahim terhadap Tuhannya. Ibn Katsir, al-Qurthubi, dan al-Sam’ani adalah tiga dari sekian mufasir yang berpendapat demikian. “ Ulama telah sepakat bahwa yang

menyebabkan sakit dan yang menyembuhkan adalah Allah Swt. Lantas apa lagi maksud pilihan diksi itu kalau bukan karena adab?”, hujah al-Sam’ani dalam Tafsir al-Sam’ani.

Pendapat al-Nasafi tak jauh beda dengan yang sebelumnya. Dalam Madarik al-Tanzil wa Haqaiq al-Takwil, ia mengatakan bahwa Nabi Ibrahim tak berkata, “Kalau Dia membuatku sakit”, lantaran secara utuh kalimat itu ia maksudkan sebagai bentuk ungkapan syukur. Dalam syukur, tidak wajar menisbatkan hal yang sifatnya mudarat pada Tuhan.
Baca juga:  Musik sebagai Media Tawasul
Pendapat ini memicu pertanyaan baru. Bila memang tak wajar menisbatkan hal-hal yang mudarat kepada Tuhan, bagaimana dengan kematian? Nyatanya, dalam ayat selanjutnya, Nabi Ibrahim justru secara eksplisit menisbatkan kata “mematikan” kepada Tuhan, dengan mengatakan “Dan Dia-lah yang mematikan kemudian menghidupkanku”, (Qs. Al-Syu’ara [26]: 81).

Di sinilah ulama memberi batasan bahwa agar bisa disebut mudarat (dlarar) suatu perkara haruslah bisa dirasakan. Berdasarkan teori ini, kematian tak memenuhi syarat untuk disebut mudarat lantaran ia tidak bisa dirasa. Beda halnya dengan sakit. Jika ada yang bilang bahwa mati itu menyakitkan, barangkali yang dimaksud bukanlah kematian itu sendiri, melainkan sakratulmaut atau penyakit yang mengantarkan pada kematian.

Ditambah lagi ada semacam kredo bahwa bagi jiwa-jiwa yang telah purna ilmu dan akhlaknya, menyatu dengan jasad adalah penderitan semata. Sedangkan berpisah darinya-yang itu berarti mati-adalah sumber kebahagiaan. Walhasil, sah-sah saja verba “mematikan” dinisbatkan kepada Tuhan. Sebab sekali lagi, kematian bukanlah mudarat.

Sementara itu, al-Razi dalam Mafatih al-Ghaib juga menawarkan beberapa sudut pandang. Salah satunya, karena pada galIbn ya penyakit itu timbul akibat kecerobohan manusia dalam hal mengonsumsi makanan atau minuman dan lain sebagainya.

Dengan merujuk beberapa penafsiran tersebut, sama sekali tak ada kesan bahwa pernyataan Ibrahim di atas menjustifikasi arogansi semisal penolakan frontal terhadap tindakan-tindakan medis. Alih-alih mendukung, ayat tersebut justru menjelaskan bahwa penyakit seringkali adalah akibat kesembronoan pola hidup kita. Sebagaimana banyak bencana di luar tubuh manusia juga terjadi akibat ulah manusia.
Baca juga:  Musik sebagai Media Dakwah: Tembang Macapat, Tembang Jawa, dan Dakwah Wali Songo
Hal ini selaras dengan tesis dari dunia kesehatan yang menyatakan bahwa pola hidup seseorang nyaris selalu berbanding lurus dengan kualitas kesehatannya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut bahwa pola makan yang tidak sehat dan kurangnya aktivitas fisik adalah faktor utama resiko kesehatan global. Disebutkan pula bahwa merokok, konsumsi alkohol, pola makan yang buruk dan kurangnya aktivitas fisik merupakan perilaku yang menjadi faktor risiko utama yang juga identik dengan penyakit-penyakit kronis seperti kardiovaskuler, kanker, penyakit pernapasan, dan diabetes.

Paduan antara ayat Allah yang terkatakan melalui lisan Ibrahim dan ayat-Nya yang tersirat berupa temuan-temuan dari dunia medis mengukuhkan betapa sejatinya sakit yang diderita menuntut tanggung jawab. Sesiap mungkin deritanya kita tanggung. Ihwal apa penyebabnya, bagaimana metode pengobatannya, sebisa mungkin kita jawab. Barulah urusan kesembuhan kita serahkan sepenuhnya kepada Tuhan yang Maha Menyembuhkan. Sebab hanya Dia-lah yang punya otoritas mutlak atas kesembuhan.

Pandangan semacam ini mesti terus ditanamkan di tengah-tengah masyarakat, terutama di masa krisis kesehatan seperti sekarang. Lebih-lebih hasil penelitian terhadap konsepsi sosio-kultural suatu masyarakat di Jawa Timur menunjukkan bahwa pengetahuan dan pandangan yang salah tentang sakit, penyakit, dan kesehatan membentuk pola hidup yang tidak sehat. Selanjutnya, persepsi yang keliru dalam memandang penyakit berikut hal-hal yang bertautan dengannya menjadi batu sandung pertama dalam membangun masyarakat yang sehat. Boleh dikata bahwa konsepsi yang tidak adil terhadap penyakit adalah penyakit pertama yang mesti segera diobati.
Baca juga:  Mampukah Doa Melawan Virus?
Dengan menisbatkan sakit pada dirinya sendiri, Bapak dari agama-agama besar di muka bumi ini tengah meneladankan kejujuran dan keberanian untuk melakukan semacam rekognisi atas kealpaan merawat karunia Tuhan berupa kesehatan. Dan bukan justru ujug–ujug melimpahkannya pada Tuhan. Barangkali memang seharusnya Tuhan kita libatkan dalam segala urusan. Namun jika yang dimaksud adalah agar Tuhan bertanggung jawab atas keteledoran kita, tidakkah itu merupakan bentuk perselingkuhan yang liat antara kedurhakaan dan kepengecutan?

 

Baca Juga

Artikel ini di kliping dari Alif.id sebagai kliping/arsip saja. Segala perubahan informasi, penyuntingan terbaru dan keterkaitan lain bisa dilihat di sumber.

Terbaru

  • Inilah Rahasia Perbaiki Algoritma Video YouTube yang Mulai Sepi
  • Kenapa Cicilan di Bank Syariah Itu Tetap?
  • Inilah 7 Produk Digital Paling Realistis untuk Kalian yang Mau Jualan Online Tahun Ini!
  • Inilah 4 Strategi Memilih Niche SEO Terbaik Supaya Blog Kalian Cepat Ranking
  • Ini Trik Supaya Pengunjung Toko Online Kalian Jadi Pembeli Setia Pakai Omnisend!
  • 3 Strategi AI Terbukti Biar Bisnis E-Commerce Kalian Makin Cuan 2026!
  • Inilah 6 Langkah Tembus 5.000 Follower di X, Gini Caranya Supaya Akun Kalian Nggak Stuck Lagi!
  • SEO LinkedIn: Inilah Alasan Kenapa LinkedIn Ads Lebih Efektif Buat Bisnis B2B Dibanding Platform Lain
  • Inilah Alasan Kenapa Kolom Komentar YouTube Kalian Sering Menghilang Secara Misterius!
  • Cara Kelola Auto-Posting Semua Media Sosial Kalian Pakai Metricool
  • Studi Kasus Sukses Instagram Maria Wendt Dapat 12 Juta View Instagram Per Bulan
  • ZenBook S16, Vivobook Pro 15 OLED, ProArt PX13, dan ROG Zephyrus G14, Laptop Bagus dengan Layar OLED!
  • Caranya Ngebangun Website Directory dengan Traffic Tinggi dalam Seminggu!
  • Cara Mengembangkan Channel YouTube Shorts Tanpa Wajah
  • Inilah Cara Menghitung Diskon Baju Lebaran Biar Nggak Bingung Saat Belanja di Mall!
  • Cara Jitu Ngebangun Bisnis SaaS di Era AI Pakai Strategi Agentic Workflow
  • Inilah Rincian Gaji Polri Lulusan Baru 2026, Cek Perbedaan Jalur Akpol, Bintara, dan Tamtama Sebelum Daftar!
  • Inilah 5 Channel YouTube Membosankan yang Diam-diam Menghasilkan Banyak Uang
  • Inilah Cara Pakai Google Maps Offline Biar Mudik Lebaran 2026 Nggak Nyasar Meski Tanpa Sinyal!
  • Inilah Alasan Mahkamah Agung Tolak Kasasi Google, Denda Rp202,5 Miliar Resmi Menanti Akibat Praktik Monopoli
  • Inilah Cara Daftar dan Syarat SPMB SMK Boarding Jawa Tengah 2026, Sekolah Gratis Sampai Lulus!
  • Inilah Daftar Sekolah Kedinasan 2026 untuk Lulusan SMK, Bisa Kuliah Gratis dan Berpeluang Besar Langsung Jadi CPNS!
  • Inilah Pajak TER: Skema Baru PPh 21 yang Nggak Bikin Pusing, Begini Cara Hitungnya!
  • Inilah Jadwal Resmi Jam Buka Tol Jogja-Solo Segmen Prambanan-Purwomartani Saat Mudik Lebaran 2026
  • Inilah Cara Mendapatkan Witherbloom di Fisch Roblox, Rahasia Menangkap Ikan Paling Sulit di Toxic Grove!
  • Kenapa Indomart Point Bisa Kalahkan Bisnis Kafe?
  • Inilah Cara Mendapatkan Rotten Seed di Fisch Roblox, Lokasi Rahasia di Toxic Grove Buat Unlock Toxic Lotus!
  • Inilah Cara Zakat Crypto Kalian Bisa Jadi Pengurang Pajak Berdasarkan Aturan Resmi Pemerintah!
  • Inilah Perbandingan Airwallex vs Payoneer 2026: Jangan Sampai Profit Kalian Ludes Gara-Gara Biaya Admin!
  • Inilah Roadmap 7 Tahap Bangun Bisnis Digital dari Nol Biar Nggak Cuma Putar-Putar di Tempat!
  • What is the Microsoft Teams Error “We Couldn’t Connect the Call” Error?
  • Why Does the VirtualBox System Service Terminate Unexpectedly? Here is the Full Definition
  • Why is Your Laptop Touchpad Overheating? Here are the Causes and Fixes
  • How to Disable All AI Features in Chrome Using Windows 11 Registry
  • How to Avoid Problematic Windows Updates: A Guide to System Stability
  • How to Use Orbax Checkpointing with Keras and JAX for Robust Training
  • How to Automate Any PDF Form Using the Power of Manus AI
  • How to Training Your Own YOLO26 Object Detection Model!
  • How to Build a Full-Stack Mobile App in Minutes with YouWare AI
  • How to Create Consistent Characters and Cinematic AI Video Production with Seedance
  • Apa itu Spear-Phishing via npm? Ini Pengertian dan Cara Kerjanya yang Makin Licin
  • Apa Itu Predator Spyware? Ini Pengertian dan Kontroversi Penghapusan Sanksinya
  • Mengenal Apa itu TONESHELL: Backdoor Berbahaya dari Kelompok Mustang Panda
  • Siapa itu Kelompok Hacker Silver Fox?
  • Apa itu CVE-2025-52691 SmarterMail? Celah Keamanan Paling Berbahaya Tahun 2025

©2026 emka.web.id | Design: Newspaperly WordPress Theme