Skip to content

emka.web.id

menulis pengetahuan – merekam peradaban

Menu
  • Home
  • Tutorial
  • Search
Menu

Imam Ghazali dan Zuhud Bermedia Sosial

Posted on April 27, 2022

Kliping Pemikiran Islam, Ditulis oleh Saifir Rohman

Semakin ke sini, segelintir orang telah beroleh semacam pencerahan bahwa pesatnya perkembangan teknologi informasi tidak melulu mencerahkan. Barangkali jamaah sidang Facebook masih ingat, sekitar Desember 2016, jagad maya sempat dibuat gempar oleh catatan harian seorang gadis asal Bumi Blambangan, Banyuwangi. Betapa tidak, di tengah mewabahnya adiksi gadget, melalui sebuah postingan di akun Facebook-nya, gadis remaja bernama lengkap Afi Nihaya Faradisa justru menuturkan bahwa ia telah menonaktifkan ponselnya selama sepuluh hari.

Dalam postingannya yang sampai saat catatan ini ditulis telah dibagikan lebih dari 32 ribu kali, remaja yang kini sudah dewasa dan terdaftar sebagai mahasiswi jurusan psikologi di salah satu kampus ternama di Daerah Istimewa Yogyakarta pun menyebut ‘racun-racun pikiran’ yang bertebaran di dunia maya. Antara lain, hoaks, kebencian, perselisihan, dan seterusnya.

Ya, Afi yang kala itu masih duduk di bangku SMA merasa pikirannya telah tercemari oleh apa-apa yang terhidang di media sosial. Untuk itu ia harus membuat distansi dengan dunia maya. Menempuh semacam jalan sunyi kalau dalam istilah Cak Nun, yakni dengan berpuasa gawai pintar selama lebih kurang 864.000 detik.

Afi adalah satu di antara sejumlah orang yang (pernah) meninggalkan dunia maya. Masih banyak nama-nama lain. Mulai dari kalangan artis papan atas dunia seperti Jennifer Lawrence, Kristen Stewart, Selana Gomez, pemimpin perusahaan ternama seperti Tony Fernandes, Steve Wozniak, hingga penulis terkemuka semisal Eka Kurniawan, dan lain sebagainya.
Baca juga:  Bagaimana Nabi Ibrahim Memaknai Sakit?
Mereka semua memilih memutus hubungan dengan makhluk yang bernama media sosial dengan alasan dan motif yang beragam. Namun pada intinya, mereka semua sama-sama tengah menempuh laku zuhud di hadapan dunia maya. Meskipun barangkali hanya sebagian yang benar-benar kaffah.

Dalam Ihya ‘Ulum al-Din, al-Ghazali mendefinisikan, “Zuhud adalah ungkapan ihwal mengalihkan kesenangan terhadap sesuatu kepada sesuatu lain yang lebih baik.” Dengan kata lain, zuhud adalah buah pengetahuan tentang rendahnya sesuatu yang ditinggalkan dibanding sesuatu yang diperjuangkan.

Perhatikan, betapa zuhud mesti didahului oleh kecerdasan. Kecerdasan yang dimaksud adalah kecerdasan memilah antara ‘sesuatu’ dengan ‘sesuatu’ yang lebih baik. Antara yang menguntungkan dan yang merugikan, antara yang kecil dan yang besar, antara yang cabang dan yang inti, antara yang baka dan yang fana, demikian seterusnya.

Al-Ghazali memberi tamsil, orang yang zuhud ibarat pedagang yang menukar barang dagangannya dengan uang lantaran saat itu uang lebih maslahat baginya. Selama si pedagang belum dapat mengetahui betapa uang itu berharga dibandingkan barang dagangannya, mustahil ia akan rela menukarkan barangnya. “Demikian pula orang yang mengerti bahwa apa-apa yang ada di sisi Allah itu kekal, bahwa akhirat itu lebih baik dan lebih baka ketimbang dunia.” pungkas al-Ghazali.
Baca juga:  Musik sebagai Media Tawasul
Empat belas abad silam, sebelum ada wacana “Matinya Kepakaran”, Kanjeng Nabi Muhammad Saw. telah bersabda, “Akan tiba suatu masa yang hanya memiliki sedikit fukaha [pakar], namun banyak memiliki orator Di zaman itu, ilmu lebih baik dari pada

amal.” Hadis lengkapnya bisa dirujuk antara lain dalam al-Mu’jam al-Kabir karya al- Thabrani dan Jami’ Bayan al-‘Ilm karya Ibn ‘Abd al-Barr.

Sementara itu, al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, mengutip perkataan Ibn Mas’ud yang nyaris serupa dengan hadis ini. Namun, Sahabat Ibn Mas’ud menambahkan, barangkali semacam interpretasi terhadap hadis tersebut bahwa, “Di zaman itu, hawa nafsulah yang menyetir perbuatan,”. Di kala itulah ilmu lebih diprioritaskan dalam arti dijadikan pedoman untuk membimbing laku.

Agaknya beberapa indikator menunjukkan bahwa kita sedang berada dalam fase itu. Dan media sosial sebagai produk kemajuan teknologi zaman ini adalah wajah zaman paling nyata. Informasi disebar, meminjam bahasa Goenawan Mohamad, dengan kecepatan yang mengagetkan. Siapa saja boleh bicara apa saja. Kebebasan berpendapat dirayakan sampai kelewatan. Dalam kondisi demikian, menyikapi limpahan data dengan zuhud adalah tarekat kekinian kita.

Dalam konteks ber(media)sosial, kecerdaasan itu mewujud sebentuk sikap selektif dalam memilah akun yang penting dan bermanfaat untuk diikuti. Segera meng- unfollow akun-akun penebar kebencian atau adu domba, dan seterusnya. Bisa juga dalam wujud tidak mengomentari hal-hal yang tak penting, hal-hal yang berada di luar kapasitas kita. Mendahului hal tersebut, kita bisa bertanya kepada diri masing-masing apa sebetulnya tujuan di balik penggunaan media sosial.
Baca juga:  Musik sebagai Media Dakwah: Tembang Macapat, Tembang Jawa, dan Dakwah Wali Songo
Kita dapat belajar dari pengalaman orang-orang yang terberkati kesadaran betapa fananya jumlah follower, subscriber, like, coment, and, share. Mereka para zahid media sosial, menepi, barangkali setelah merasa jemu, atau lelah berburu “sesuatu”, tetapi justru kehilangan “sesuatu”. Mereka mencoba istirah dari pedihnya caci-maki ataupun melenakannya pujian dan sanjungan dengan keluar dari arus utama.

Menjadi zahid adalah membangun imunitas terhadap macam-macam hal destruktif yang berhamburan di media sosial. Membentengi diri dari hal-hal yang menimbulkan efek kompulsif. Menjadi zahid adalah jalan ninja bagi siapa saja yang ingin selamat dari hoaks, aman dari fitnah, polarisasi, propaganda, dan kebencian. Pendek kata, menjadi zuhud di media sosial adalah bagian dari upaya menjaga akal sehat dan kesehatan mental. Meskipun sejatinya seperti yang al-Ghazali katakan, “Tanda zuhud adalah [memandang] setara miskin dan kaya, dimuliakan atau dihina, dipuji atau dimaki, saking senangnya dengan Allah.”

 

Baca Juga

Artikel ini di kliping dari Alif.id sebagai kliping/arsip saja. Segala perubahan informasi, penyuntingan terbaru dan keterkaitan lain bisa dilihat di sumber.

Terbaru

  • Inilah 27 Sekolah Kedinasan untuk Lulusan SMK 2026, Bisa Kuliah Gratis dan Langsung Jadi CPNS!
  • Inilah Cara Kuliah S2 di Inggris dengan GREAT Scholarship 2026: Syarat Lengkap, Daftar Kampus, dan Tips Jitu Biar Lolos!
  • Belum Tahu? Inilah Alasan Non-Muslim Juga Bisa Ngurangin Pajak Pake Sumbangan Keagamaan Wajib!
  • Inilah Kenapa Zakat ke Pondok Pesantren Mungkin Nggak Bisa Jadi Pengurang Pajak, Yuk Cek Syaratnya!
  • Inilah Caranya Daftar SMA Unggul Garuda Baru 2026 yang Diperpanjang, Cek Syarat dan Link Resminya!
  • Cara Cek Pencairan KJP Plus Tahap 1 Januari 2026 Beserta Daftar Nominal Lengkapnya
  • Lengkap! Inilah Kronologi Meninggalnya Vidi Aldiano Berjuang Melawan Kanker
  • Inilah Cara Tarik Data PKH di EMIS 4.0 Agar Bantuan Siswa Tetap Cair!
  • Inilah Trik Jitu SEO Shopee untuk Pemula: Jualan Laris Manis Tanpa Perlu Bakar Duit Iklan!
  • Inilah Peluang Emas Jadi Karyawan BUMN Tanpa Ngantre: Program Ikatan Kerja ULBI 2026
  • Inikah Daftar CPNS Kemenkeu 2026? Cek 48 Jurusan yang Paling Dibutuhkan!
  • Inilah 4 Beasiswa Khusus Warga ASEAN dengan Peluang Lolos Lebih Tinggi, Kalian Wajib Tahu!
  • Inilah Alasan Ribuan Dosen ASN Melayangkan Surat Keberatan Soal Tukin 2020-2024 yang Belum Cair
  • Cara Dapat Diamond Free Fire Gratis 2026, Pemain FF Harus Tahu!
  • Inilah Cara Mengisi Presensi EMIS GTK IMP 2026 Terbaru Biar Tunjangan Lancar
  • Inilah Trik Hashtag Viral Supaya Video Shorts Kalian Nggak Sepi Penonton Lagi
  • Inilah Jawabannya, Apakah Zakat Fitrah Kalian Bisa Mengurangi Pajak Penghasilan?
  • Inilah Caranya Supaya Komisi TikTok dan Shopee Affiliate Tetap Stabil Pasca Ramadhan!
  • Inilah 10 Kesalahan Fatal Saat Beli Properti yang Bisa Bikin Kalian Bangkrut!
  • Belum Tahu Cara Masuk Simpatika Terbaru? Ini Cara Login PTK EMIS GTK IMP 2026 Supaya Cek TPG Jadi Lebih Gampang!
  • Inilah Cara Bikin Konten Animasi AI Cuma Modal HP Supaya Bisa Gajian Rutin dari YouTube
  • Inilah Alasan Kenapa Zakat ke Ormas yang Belum Diakui Negara Nggak Bisa Dipakai Buat Ngurangin Pajak!
  • Inilah Cara Belanja di Indomaret Pakai Shopee PayLater yang Praktis dan Bikin Hemat!
  • Inilah 10 Jurusan Terfavorit di Universitas Negeri Semarang Buat SNBT 2026, Saingannya Ketat Banget!
  • Belum Tahu? Inilah Cara Mudah Membuat Akun dan Login EMIS GTK IMP 2026 yang Benar!
  • Cara Dapat Kode Kartu Hadiah Netflix Gratis Tanpa Ribet
  • Inilah Caranya Dapet Bukti Setor Zakat Resmi dari NU-Care LazisNU Buat Potong Pajak di Coretax!
  • Inilah 10 Jurusan Terfavorit di Universitas Brawijaya Buat SNBT 2026, Saingannya Ketat Banget!
  • Inilah Cara Terbaru Login dan Ubah Password Akun PTK di EMIS GTK IMP 2026
  • Inilah Batas Maksimal Zakat untuk Pengurang Pajak, Ternyata Begini Aturannya!
  • How to Remove Underlines from Links in Outlook
  •  How to Fix Microsoft 365 Deployment Tool Not Working: A Complete Troubleshooting Guide
  •  How to Fix Windows 11 ISO Download Blocked and Error Messages
  • How to Make Your Website Vibrate with Web Haptics
  • Measuring LLM Bullshit Benchmark
  • How to Launching Production-Ready Agents with Google Antigravity and AI Studio
  • How to Automate Your Business Intelligence with Google Antigravity and NotebookLM
  • The Secret Reason Seedance 2.0 is Realistic
  • Exploring Microsoft Phi-4 Reasoning Vision 15B
  • Gemini 3.1 Flash-Lite Released: How to Master Google’s Fastest AI Model for Real-World Projects
  • Apa itu Spear-Phishing via npm? Ini Pengertian dan Cara Kerjanya yang Makin Licin
  • Apa Itu Predator Spyware? Ini Pengertian dan Kontroversi Penghapusan Sanksinya
  • Mengenal Apa itu TONESHELL: Backdoor Berbahaya dari Kelompok Mustang Panda
  • Siapa itu Kelompok Hacker Silver Fox?
  • Apa itu CVE-2025-52691 SmarterMail? Celah Keamanan Paling Berbahaya Tahun 2025
Beli Pemotong Rumput dengan Baterai IRONHOOF 588V Mesin Potong Rumput 88V disini https://s.shopee.co.id/70DBGTHtuJ
Beli Morning Star Kursi Gaming/Kantor disini: https://s.shopee.co.id/805iTUOPRV

©2026 emka.web.id | Design: Newspaperly WordPress Theme