JAKARTA – Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi mengatakan, kehadiran Raja Dangdut Rhoma Irama sebagai kandidat calon presiden (capres) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) belum memperlihatkan kenaikan elektabitas PKB.
Berdasarkan hasil surveinya, popularitas Rhoma tidak diikuti keterpilihan pemilih. “Kalau berdasarkan riset terakhir di indikator, belum terlihat sumbangsih Rhoma Irama dalam mengatrol elektabilitas PKB. Rhoma sosok yang populer, tapi popularitasnya tidak seluruhnya diterjemahkan dalam bentuk elektabilitas,” kata Burhan di Jakarta, Minggu (8/12/2013).
Burhan menjelaskan, hal itu disebabkan tak semua yang mengenal Rhoma juga menyukainya. Sebanyak 95 persen mengetahui sosok Rhoma. Namun, keterpilihannya sebagai calon pemimpin RI mendatang di bawah 50 persen. Hal itu pun tidak mempengaruhi keterpilihan terhadap PKB.
“Banyak yang kenal Rhoma, tapi tidak suka Rhoma. Jadi harusnya popularitas tinggi diikuti tingkat kesukaan tinggi. Itu akan menimbulkan elektabilitas yang mampu mengatrol partai yang selama ini digadang-gadang nyapresin dia. Rhoma menarik, popularitasnya 95 persen, tapi yang suka di bawah 50 persen,” terang Burhan.
Sejauh ini, lanjut Burhan, elektabilitas PKB masih tak jauh dari perolehan tahun 2009, yaitu hanya 4,7 persen. Rhoma dianggap belum berkontribusi untuk suara PKB. “Karena kalau ada efeknya, suara PKB bisa lebih dari 5 persen. Ini menunjukkan Rhoma Irama belum berikan kontribusi. Banyak fans-nya iya, tapi juga banyak haters-nya. Ini yang harus dipahami PKB,” ujar pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu.
Sementara itu, Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar mengatakan, Rhoma sebagai magnet untuk partainya. Dalam beberapa kesempatan, Muhaimin membuktikan bahwa Rhoma mampu menyedot banyak massa di sejumlah daerah. Bahkan membuat dana Pemilu PKB menjadi lebih murah ketika membawa Raja Dangdut itu.
Sumber: Kompas