Karena pendidikan di pesantren menerapkan pembelajaran salaf, maka Hasanuddin mencanangkan santrinya mondok di pesantren ini maksimal selama 6 tahun. “Jika usia sekolah dasar, maksimal 6 tahun mondok di sini,” jelasnya.
Menurut Hasanuddin, 6 tahun itu merupakan waktu yang cukup untuk belajar pendidikan Madrasah Diniyah Ula yang merupakan jenjang paling dasar di Madin. “Di Madin itu kan ada Madin Ula. Di sini hanya ada Ula saja, kalau Wustho kami belum ada,” terangnya.
Madin Ula itu sendiri setara dengan pendidikan SD. Karena setara, ijazah yang dikeluarkan bisa digunakan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. “Setelah lulus dari pesantren ini, maka santri bisa melanjutkan ke jenjang MTs (Madrasah Tsanawiyah) karena ijazah itu memenuhi syarat untuk sekolah ke jenjang berikutnya,” tegasnya.
Setelah lulus Madin Ula, Hasanuddin menyarankan agar santrinya segera “keluar” dari pesantren. Saran agar segera keluar itu karena Pesantren Ar Rohmah tidak ingin memutus rantai pendidikan formal santrinya. Sebab jika diputus, sama halnya memutus masa depan mereka.
“Meski saya tidak punya keinginan mendirikan formal seperti MI, MTs maupun MA, tetapi saya selalu sarankan kepada santri agar bisa tetap melanjutkan ke pendidikan formal. Hal ini penting agar ada keseimbangan pendidikan dan tidak memutus rantai pendidikan formalnya,” tambahnya.
Karena hanya terdiri dari pendidikan Madin Ula, maka kurikulum di pesantren ini pun hanya salaf saja. Salah satunya, kitab kuning Jurumiyah (pembelajaran membaca kitab kuning), Fathul Qorib (fiqih muamalah) dan Sulamul Taufiq (fiqih mudhorobah).
Sumber: NU Online