Skip to content

emka.web.id

menulis pengetahuan – merekam peradaban

Menu
  • Home
  • Tutorial
  • Search
Menu

NU dan Islam Nusantara

Posted on September 4, 2015

Muhammad Sulton Fatoni
Muhammad Sulton Fatoni

NU dan Islam Nusantara

Oleh Muhammad Sulton Fatoni

Akhir-akhir ini, wacana ‘Islam Nusantara’ menyita perhatian masyarakat Islam di Indonesia. Apa relasi Islam Nusantara dengan Nahdlatul Ulama sehingga Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memosisikannya sebagai narasi besar Muktamar ke-33 NU di Jombang pada 1-6 Agustus 2015 nanti? Saya ingin mengemukakan beberapa fakta.

Pertama, konsentrasi PBNU lima tahun terakhir untuk menghindari politik praktis memunculkan fenomena cukup banyak kiai dan anak muda NU aktif dan menggerakkan lembaga unit kerja PBNU. Maka, lahirlah karya besar sumbangsih warga NU, di antaranya kitab Ahkamul Fuqaha (2011) yang berisikan putusan hukum NU 1926-2010, Thariqatul Hushul ‘ala Ghayatil Wushul (2012) karya KH A Sahal Mahfudh, kajian bidang ushul fikih Fathul Mujib al-Qarib (2014) karya KH Afifuddin Muhajir dalam bidang fikih.

Sedangkan dalam bahasa Indonesia, di antaranya Enskilopedia Nahdlatul Ulama (2013) tentang khazanah keislaman nusantara; Atlas Walisongo (2012) karya Agus Sunyoto yang memuat fakta tentang wali-wali di Indonesia.

Studi keislaman masyarakat nahdliyin ini kelanjutan dari tradisi sebelumnya, seperti oleh KH Ahmad Chatib Sambas (1803-1875M), KH Nawawi Banten (1813-1897 M), dan KH Mahfudz Tremas (1868-1920M). Ketiga kiai ini lahir di Indonesia, tapi menetap hingga wafat di Makkah.
Menetap di Makkah adalah upaya menyambung mata rantai keilmuan hingga kepada Rasulullah SAW. Misalnya, Kiai Nawawi Banten berguru kepada Syekh as-Syarwani, murid Syekh al-Baijuri yang berguru kepada Syekh as-Syarqawi, dan seterusnya hingga kepada Rasulullah SAW.

Studi keislaman ini menjadikan peran NU tak hanya di Indonesia, tapi juga bagi perkembangan keilmuan Islam di penjuru dunia. Maka, terjadi—meminjam istilah Erikson—’integrasi dunia luar’ dan ‘dunia dalam’ (Thomas H Erikson, 1989).

Kedua, sepanjang 2010-2015 PBNU telah menyaksikan kondisi karut-marut sosial politik masyarakat Islam dunia. Contohnya, seminggu setelah pulang dari lawatan PBNU ke Libya (2011), Muammar Qadafi dijatuhkan dan hingga kini umat Islam Libya masih saling serang. Beberapa hari setelah PBNU menggelar pertemuan dengan tokoh ragam suku masyarakat Afghanistan sebagai upaya perdamaian (2011), peserta pertemuan, Burhanuddin Rabbani, wafat karena serangan bom.

Ketiga, jargon ‘kembali ke pesantren’ yang disuarakan sejak Muktamar ke-32 NU di Makassar diikuti langkah teknis dan strategis. Di antaranya, konsentrasi PBNU (2010-2015) untuk mengarahkan program dan kegiatan bagi penguatan masyarakat pesantren.
Penguatan keindonesiaan melalui Apel Kesetiaan pada NKRI (2010) di Gelora Bung Karno; dilanjutkan Munas Alim Ulama dan Konbes NU di Cirebon (2012) bertema ‘Kembali ke Khittah Indonesia 1945’; dan Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2014 di Jakarta bertema ‘Konsolidasi NU untuk memperkokoh Kedaulatan RI’. Pada momentum ini lah untuk kali pertama NU memutuskan tak menyetujui khilafah agenda politik Hizbut Tahrir Indonesia.

Hadratussyeikh KH Hasyim Asyari pernah menggambarkan keislaman negeri Jawa pada awal abad ke-20 dalam kitabnya, Risalatu Ahlissunnah wal Jamaah, sebagai masyarakat yang memiliki pandangan dan mazhab serta referensi dan kecenderungan yang sama. Yaitu, pengikut mazhab Imam Muhammad bin Idris as-Syafi’i, alur pikir Imam Abu Hasan al-‘Asy’ari, dan corak tasawuf konsep Imam al-Ghazali dan Imam Abi al-Hasan al-Syadzili (Hasyim Asyari, 1912).

Sebutan ‘Jawa’ pada abad ke-17-19 cukup populer di kalangan ulama Timur Tengah dan Afrika. Implementasi dari referensi dan sumber yang sama melahirkan tradisi dan norma, seperti mencintai keturunan Rasulullah, para wali dan orang saleh; serta mengharap berkah pada mereka; baik yang masih hidup maupun wafat. Termasuk menghormati dan mencintai para habib, sayyid, atau sebutan lain bagi keturunan Rasulullah SAW.

KH Hasyim Asyari juga menunjukkan tradisi keislaman negeri Jawa yang mentradisikan ibadah ziarah kubur. Menempuh perjalan dari yang terdekat hingga ratusan kilometer, bahkan ribuan kilometer melewati sekat negara hanya untuk berziarah ke makam para ulama, sahabat, puncaknya ke makam Rasulullah SAW.
Termasuk yang ditunjukkan KH Hasyim Asyari adalah mentradisinya ibadah men-talqin mayit; sedekah untuk mayit; meyakini adanya syafaat (pertolongan); bermanfaatnya doa, tawasul, dan lainnya. Dinamika keislaman di Indonesia dan kondisi Muslim dunia terkini yang mendorong PBNU mengangkat tema ‘Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia’.

Maka, Islam Nusantara itu bukan “agama baru”. Islam Nusantara juga bukan “aliran baru”. Islam Nusantara adalah wajah keislaman yang ada di Asia Tenggara, termasuk Indonesia di dalamnya. Ajaran Islam yang terimplementasi di tengah masyarakat yang mental dan karakternya dipengaruhi struktur wilayah kepulauan.

Praktik keislaman ini tecermin dalam perilaku sosial budaya Muslim Indonesia yang moderat (tawassuth), menjaga keseimbangan (tawazun), dan toleran (tasamuh). Ketiga sikap ini pijakan masyarakat pesantren untuk mencari solusi problem sosial akibat liberalisme, kapitalisme, sosialisme, termasuk radikalisme agama-agama (Said Aqil Siroj, 1999).

Wajah Islam Nusantara ini lah yang perlu dipromosikan Muslim Indonesia ke warga dunia. Barat perlu tahu bahwa wajah Islam tidak dimonopoli masyarakat Islam di Timur Tengah dan Afrika. Grand Syaikh al-Azhar melalui delegasinya yang ke PBNU, Dr Mun’im Fuad, menegaskan dukungannya pada gerakan moderasi NU yang terus mengglobal (Fuad, 2015).

Gerakan promosi Islam Nusantara ini berbasiskan nilai dan norma keislaman yang tumbuh kembang di gugusan kepulauan nusantara. Maka, gerakan promosi Islam Nusantara tak dibangun dengan basis finansial sebagaimana yang lazim dilakukan lembaga dan aktor politik yang memburu kekuasaan.

Meskipun identitas suatu kelompok mempunyai spesifikasi berbeda dengan kelompok lain (Hogg AM, 2003), bukan berarti identitas Muslim Indonesia tak bisa diterima masyarakat Eropa dan Amerika. Memengaruhi dalam konteks ini bukan memaksakan diri agar terjadi peleburan, tapi melakukan proses penyadaran pentingnya wajah Islam yang lain di luar Muslim Timur Tengah.

Suatu ketika dalam rapat di PBNU, KH Mustofa Bisri mengatakan, aktivitasnya yang berinteraksi dengan masyarakat Muslim di penjuru dunia menghasilkan kesimpulan, identitas Muslim Indonesia bukan identitas yang berdiri sendiri. Ia mempunyai kemiripan dengan masyarakat Muslim di belahan dunia lain. Jika ada kemiripan, mengapa dampak sosial budaya dan politiknya berbeda?

Maka, dalam konteks ini yang perlu diwaspadai adalah konsekuensi dari proses pengenalan Islam Nusantara ke tataran dunia. Nilai-nilai universal yang secara praksis telah menjadi norma kelompok tertentu bisa menjadi masalah dan bisa juga tidak bagi kelompok lainnya. Di sinilah perlunya identifikasi atas konsekuensi yang ada.

Identifikasi dini atas konsekuensi buruk dari proses penyadaran pentingnya Islam Nusantara tentu positif bagi keberhasilan pada masa depan. Masyarakat pasti mengalami konsekuensi (Giddens, 2004). Namun, kehati-hatian menghadapi ‘faktor lain’ akan menghindarkan masyarakat dari konsekuensi buruk.

Ikhtiar menghadirkan Islam Nusantara di tengah masyarakat dunia pada prinsipnya upaya mewujudkan tata dunia yang kondusif bagi persemaian keadilan, perlindungan hak, perbaikan kualitas hidup, dan kemakmuran masyarakat (KH Hasyim Asyari, 1928).

Muhammad Sulton Fatoni, Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Dosen Sosiologi STAINU Jakarta

Di muat di Republika, 20 Juni 2015

Share this:

  • Print
Hosting Unlimited Indonesia

Related

Sumber arrahmah.co.id

Terbaru

  • Inilah Alasan Kenapa Sinkhole Sering Muncul di Indonesia dan Cara Mengenali Tanda-Tandanya Supaya Kalian Tetap Aman
  • Inilah Program PJJ 2026 untuk Anak Tidak Sekolah, Cara Mudah Masuk SMA Tanpa Harus ke Kelas Tiap Hari!
  • Inilah Program SPMB 2026 PJJ Khusus Anak Tidak Sekolah, Solusi Buat yang Pengen Balik Belajar!
  • Inilah Cara Kuliah di Al-Azhar Mesir Lewat Jalur Kemenag 2026, Lengkap dengan Syarat dan Jadwalnya!
  • Inilah Jadwal Lengkap Jalur Mandiri Unud 2026, Persiapkan Diri Kalian Sebelum Menyesal!
  • Inilah 8 Universitas Swasta Terbaik di Indonesia Versi THE Asia University Rankings 2026 yang Bisa Jadi Pilihan Kuliah Kamu
  • Inilah Jadwal Terbaru SSU ITB 2026 yang Diperpanjang, Lengkap dengan Syarat dan Rincian Biayanya!
  • Inilah 10 Jurusan Kuliah Paling Dicari Perusahaan Tahun 2026, Cek Daftarnya Biar Nggak Salah Pilih!
  • Inilah Cara Daftar Beasiswa Tut Wuri Handayani 2026, Kesempatan Emas Buat PNS Kemendiktisaintek Tingkatkan Karier!
  • Inilah Ketentuan Lengkap TKA Susulan 2026 SD dan SMP, Cek Syarat dan Jadwal Resminya Di Sini!
  • Inilah Kurikulum Berbasis Cinta Madrasah: Panduan Lengkap dan Link Download PDF Terbaru 2026
  • Inilah Kronologi Mencekam Kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL di Bekasi Timur yang Bikin Jalur Kereta Lumpuh Total
  • Inilah Alasan Kenapa Hari Libur dan Tanggal Penting Selalu Ditulis Pakai Warna Merah di Kalender
  • Inilah Cara Daftar Jalur Prestasi Politeknik PU Semarang 2026, Kesempatan Kuliah di Kampus Kementerian PU!
  • Inilah Cara Cek Bansos PKH dan BPNT 2026 Lewat HP, Lengkap dengan Jadwal Cair dan Besaran Dananya!
  • Inilah Alasan Kemdiktisaintek Bakal Tutup Banyak Jurusan Kuliah yang Nggak Relevan dengan Industri
  • Inilah Status Libur Hari Pendidikan Nasional 2026 dan Sejarah Penting di Baliknya
  • Inilah Daftar Libur Mei 2026 yang Bikin Full Senyum, Siapkan Rencana Liburan Kalian Sekarang!
  • Inilah Daftar Universitas Terbaik di Jepang Versi THE Asia University Rankings 2026, Kampus Mana yang Jadi Incaran Kalian?
  • Inilah Alasan Kenapa Kemdiktisaintek Bakal Tutup Sejumlah Prodi dan Fokus ke 8 Industri Strategis
  • Inilah Sosok Richard Aldrich McCurdy, Penguasa Asuransi yang Terjerat Skandal di Masa Gilded Age
  • Inilah Alasan Suhu Bumi Naik Drastis dan Cara Kita Menghadapi Ancaman Cuaca Ekstrem
  • Apa itu Pasukan Perdamaian PBB?
  • Inilah 25 Universitas Paling Internasional di Dunia 2026, Ternyata Kampus di Asia Mulai Merajai!
  • Inilah 10 PTS Terbaik di Indonesia Versi Webometrics 2026 yang Bisa Jadi Referensi Kalian
  • Inilah Cara Daftar Kuliah di Universitas Al-Azhar Mesir 2026 Lewat Jalur Resmi Kemenag
  • Inilah Daftar 20 PTN Terbaik Indonesia Versi Webometrics 2026, Kampus Impian Kalian Ada Nggak?
  • Inilah Profil Donny Sucahya, Sosok Pengusaha Muda yang Viral Karena Bisnis dan Pernikahannya
  • Inilah Alasan Kenapa Belalang Daun Bisa Berubah Warna dari Pink ke Hijau, Ternyata Mirip Daun!
  • Inilah Kenapa eBay Error dan Mengenal The Hacktivist Group 313 yang Mengklaim Bertanggung Jawab Atas Gangguan Global Tersebut
  • How to Level Up Your PC Gaming Experience with the New Valve Steam Controller and Its Advanced Features
  • Is it Time to Replace Nano? Discover Fresh, the Terminal Text Editor You Actually Want to Use
  • How to Design a Services Like Google Ads
  • How to Fix 0x800ccc0b Outlook Error: Step-by-Step Guide for Beginners
  • How to Fix NVIDIA App Error on Windows 11: Simple Guide
  • How to create high-quality cinematic AI videos and realistic avatars using HeyGen and the Seedance 2.0 model
  • How to build an AI chatbot for your business in just minutes without writing a single line of code
  • How to Master Answer Engine Optimization with HubSpot AEO Tool
  • How to Use GPT-5.5 and Claude Opus 4.7 Together to Maximize Your Workflow Productivity and Code Quality
  • Claude Tutorial: How to Build Your First SaaS Business Using AI Without Coding
  • Apa itu Spear-Phishing via npm? Ini Pengertian dan Cara Kerjanya yang Makin Licin
  • Apa Itu Predator Spyware? Ini Pengertian dan Kontroversi Penghapusan Sanksinya
  • Mengenal Apa itu TONESHELL: Backdoor Berbahaya dari Kelompok Mustang Panda
  • Siapa itu Kelompok Hacker Silver Fox?
  • Apa itu CVE-2025-52691 SmarterMail? Celah Keamanan Paling Berbahaya Tahun 2025

©2026 emka.web.id | Design: Newspaperly WordPress Theme