Pernah nggak sih kalian lagi asyik diskusi, eh tiba-tiba lawan bicara nyeletuk, “Ah, omongan lo nggak logis!”? Rasanya pasti kesel banget, seolah-olah pendapat kita itu sampah cuma karena nggak sesuai sama jalan pikiran mereka. Padahal, apa yang dianggap logis buat satu orang belum tentu logis buat yang lain, dan akhirnya malah berujung debat kusir tanpa ujung. Di artikel ini, kami bakal ngebongkar apa sebenarnya itu logika dan kenapa “nggak logis” itu belum tentu salah.
Sebetulnya, kalau kita ngomongin soal logika, kita sedang bicara soal aturan main cara berpikir. Banyak orang menggunakan istilah “logika” secara serampangan. Misalnya, ketika ada pendapat yang bertentangan, langsung dianggap nggak logis. Contoh gampangnya begini, ada yang bilang “sekarang hujan”, tapi orang lain bilang “sekarang panas”. Ini sering dianggap kontradiktif. Padahal, realitasnya bisa saja terjadi “hujan monyet”, kondisi di mana hujan turun tapi matahari bersinar terik. Jadi, sebelum kita nuduh orang lain nggak logis, kita harus paham dulu kerangka berpikir apa yang dipakai.
Dalam sejarah pemikiran manusia, logika itu berkembang dan nggak cuma satu jenis saja. Biar kalian lebih paham dan bisa ngebedain argumen yang valid, berikut adalah penjabaran mengenai jenis-jenis logika yang ngebangun cara berpikir kita hari ini:
- Logika Klasik (Classical Logic)
Ini adalah pondasi paling dasar yang sudah ada sejak zaman Aristoteles dan kemudian dipercanggih di abad ke-20 oleh filsuf kayak Gottlob Frege dan Bertrand Russell. Logika ini punya standar yang ketat banget dan sering dipakai di matematika atau ilmu alam. Ciri utamanya ada dua. Pertama, The Law of Non-Contradiction, yang artinya kontradiksi itu selalu salah. Sesuatu nggak bisa jadi “A” dan “Bukan A” di saat yang sama. Kedua, The Law of Excluded Middle atau penolakan jalan tengah. Jadi, opsinya cuma benar atau salah, nggak ada tuh yang namanya “agak benar”. Di sistem ini, sebuah pernyataan disebut logis kalau dia bersifat tautologi alias selalu benar dalam situasi apa pun, kayak “Jika P maka P”. Russell bahkan nulis buku tebal Principia Mathematica cuma buat ngebuktin hal-hal dasar kayak 2+2=4 pakai sistem ini. - Logika Paradoks (Paraconsistent Logic)
Nah, kalau logika klasik menolak kontradiksi, logika paradoks justru merangkulnya. Sistem ini dikembangkan karena logika klasik dianggap nggak mampu ngejelasin fenomena yang sifatnya kontradiktif tapi nyata. Logika yang dikembangkan oleh Graham Priest ini ngasih ruang bahwa kontradiksi itu bisa bernilai benar. Contoh simpelnya saat kalian berdiri tepat di ambang pintu. Kalian ada di dalam ruangan atau di luar? Secara logika paradoks, kalian bisa dibilang berada di dalam sekaligus di luar ruangan. Pola pikir ini sering dipakai buat memahami filsafat Timur kayak konsep Yin dan Yang, di mana dua hal yang berlawanan bisa eksis barengan. - Logika Intuisionistik (Intuitionistic Logic)
Sistem ini menantang prinsip “jalan tengah” dari logika klasik. Menurut logika yang dikembangkan matematikawan Belanda kayak L.E.J. Brouwer ini, kalau sesuatu itu “tidak salah”, bukan berarti otomatis dia “benar”. Mereka ngebedain antara proof of absence (bukti ketiadaan) dan absence of proof (ketiadaan bukti). Contohnya perdebatan soal Tuhan. Cuma karena seseorang nggak nemu bukti Tuhan itu ada, nggak bisa langsung disimpulkan bahwa Tuhan tidak ada. Atau contoh lain, pernyataan “Angka 2 berwarna biru”. Ini nggak benar, tapi juga nggak salah, karena angka itu konsep abstrak yang nggak punya warna. Jadi nilainya bukan benar atau salah, tapi tidak keduanya. - Logika First Degree Entailment (Logika AI)
Sistem ini unik banget karena ngebuka empat kemungkinan nilai kebenaran: benar, salah, tidak benar dan tidak salah, serta benar sekaligus salah. Logika ini dirakit oleh Nuel Belnap tahun 1977, awalnya buat kebutuhan Artificial Intelligence (AI). Komputer atau mesin itu perlu sistem buat mengolah informasi yang mungkin bertabrakan tanpa jadi error. Dengan logika ini, mesin bisa menalar data yang kompleks yang mungkin buat manusia terlihat membingungkan.
Jadi, ketika kita melihat betapa beragamnya sistem logika yang ada, rasanya naif kalau kita masih ngotot bahwa cuma ada satu cara berpikir yang benar. Apa yang disebut logis itu sangat bergantung pada “kacamata” logika mana yang kalian pakai. Sesuatu yang kontradiktif itu “salah” di mata logika klasik, tapi bisa jadi “benar” di mata logika paradoks. Perdebatan kita sehari-hari seringkali bukan soal logis atau tidak logis secara teknis (teorema), tapi lebih ke arah proposisi kontingen—hal-hal yang kebenarannya tergantung situasi, kayak “kalau punya banyak uang pasti bahagia”. Itu bukan kebenaran mutlak.
Mulai sekarang, kalau kalian terlibat debat sengit, daripada buru-buru ngecap lawan bicara nggak logis, coba deh tarik napas dan telaah dulu. Apakah kalian menggunakan standar logika yang sama? Atau jangan-jangan kalian cuma beda perspektif dalam melihat kebenaran? Dengan memahami keragaman ini, kita bisa lebih toleran dan diskusi pun jadi lebih berbobot, bukan sekadar adu urat leher. Sampai jumpa di tulisan berikutnya, rekan-rekanita, dan terima kasih sudah membaca sampai tuntas!