Skip to content

emka.web.id

menulis pengetahuan – merekam peradaban

Menu
  • Home
  • Tutorial
  • Search
Menu

Inilah Kenapa AI Sering Jadi Kambing Hitam Saat PHK Massal, Padahal Masalahnya Bukan Itu!

Posted on March 10, 2026

Kalian pasti sering dengar berita tentang ribuan orang yang kena PHK gara-gara AI, kan? Sepertinya AI jadi momok yang sangat menakutkan buat masa depan karir kami. Tapi, benarkah teknologinya sudah secanggih itu sampai bisa menggantikan manusia sepenuhnya? Rasanya ada yang aneh di balik semua berita heboh PHK massal ini.

Kasus yang paling mencolok baru-baru ini melibatkan Jack Dorsey, pendiri Twitter yang sekarang memimpin Block Inc. Bayangkan saja, Dorsey menghabiskan sekitar 68 juta dolar cuma buat pesta perusahaan, tapi lima bulan kemudian mereka malah memecat lebih dari 4.000 karyawan. Alasan yang mereka lempar ke publik? AI. Hal yang paling ngebikin geleng-geleng kepala adalah setelah pengumuman PHK tersebut, harga saham mereka justru melonjak naik sampai 24%.

Fenomena ini nggak cuma terjadi di satu perusahaan saja. Mark Benioff dari Salesforce juga memotong tim pendukung mereka dari 9.000 orang menjadi 5.000 orang dengan alasan “butuh lebih sedikit kepala”. Amazon juga nggak mau kalah dengan memangkas 30.000 peran korporat. Pada Januari 2026 saja, tercatat ada lebih dari 108.000 pemangkasan kerja, yang merupakan rekor terburuk sejak 2009. Mereka semua sepertinya punya skenario yang sama: menyalahkan kecerdasan buatan atas keputusan efisiensi ini.

Kalau kami bedah secara teknis, ada sebuah istilah yang ngejelasin kenapa ini terjadi, yaitu ZIRP (Zero Interest Rate Policy). Antara tahun 2020 sampai 2022, Bank Sentral Amerika (The Fed) menjaga suku bunga mendekati nol persen. Di masa itu, meminjam uang rasanya hampir gratis. Perusahaan teknologi akhirnya melakukan perekrutan besar-besaran secara gila-gilaan. Mereka nggak benar-benar butuh orang sebanyak itu, tapi karena uangnya murah, mereka pikir “kenapa nggak?”.

Masalah muncul saat suku bunga mulai naik drastis. Karyawan-karyawan yang direkrut saat masa uang murah tersebut tiba-tiba berubah jadi beban finansial atau expensive liabilities. Proyeksi pertumbuhan yang mereka buat ternyata salah besar. Alih-alih mengakui kalau mereka salah strategi dalam merekrut, para CEO ini memilih menggunakan AI sebagai tameng. Istilahnya adalah AI Washing—menggunakan narasi AI untuk menutupi kesalahan manajemen masa lalu karena investor lebih suka dengar kalau perusahaan sedang berinvestasi pada teknologi masa depan daripada dengar kalau mereka cuma “salah hitung”.

Mari kita lihat data nyata soal kemampuan AI saat ini. Peneliti dari Center for AI Safety dan Scale AI melakukan tes terhadap agen AI pada 240 proyek freelance di dunia nyata. Hasilnya? Tingkat penyelesaian proyek oleh agen AI terbaik cuma mencapai 2,5%. Bukan 25%, bukan 10%, tapi cuma dua setengah persen. Jadi kalau teknologinya baru bisa ngerjain tugas sesedikit itu, kenapa ratusan ribu orang kehilangan pekerjaan?

Jawabannya adalah karena AI telah membunuh “jalur masuk” atau on-ramp bagi para pekerja junior. AI memang belum bisa menggantikan insinyur senior yang punya pengalaman 15 tahun, intuisi, dan kemampuan negosiasi kompleks. Tapi, AI sangat jago ngerjain tugas-tugas dasar yang biasanya dikerjakan oleh anak magang atau level entry-level. Inilah yang ngebikin lulusan baru atau Gen Z usia 22-25 tahun ngerasa paling terdampak. Perusahaan nggak memecat pekerja junior secara massal, mereka cuma “berhenti merekrut” mereka.

Beberapa perusahaan yang mencoba mengganti manusia sepenuhnya dengan AI juga banyak yang gagal total. Contohnya Klarna, yang sempat sombong kalau AI bisa ngerjain semua pekerjaan manusia, tapi pada akhirnya kualitas layanan mereka menurun drastis dan biaya operasional justru naik lagi. McDonald’s juga sempat nyoba layanan drive-thru berbasis AI bareng IBM, tapi proyek itu gagal total dan harus dihentikan. Mereka semua berakhir dengan merekrut kembali manusia untuk memperbaiki kekacauan yang dibuat oleh sistem otomatis tersebut.

Data dari Resume.org ngasih fakta menarik kalau 60% manajer perekrutan di Amerika ngaku menggunakan alasan AI saat melakukan PHK karena itu terdengar lebih “seksi” di mata stakeholder dibandingkan ngomong kalau kondisi finansial perusahaan lagi buruk. Ini adalah trik psikologi pasar yang ngebuat harga saham mereka tetap terjaga meskipun internalnya lagi berantakan. AI cuma dijadikan kostum untuk menutupi pembengkakan organisasi yang nggak sehat.

Rekomendasi kami untuk kalian yang baru mau memulai karir di bidang teknologi adalah jangan cuma mengandalkan gelar akademis. Di dunia di mana AI bisa ngerjain tugas-tugas administratif dengan cepat, kalian harus punya “bukti kerja” atau proof of work yang nyata. Bikin proyek sendiri, buat konten, atau bangun sesuatu yang bisa dipamerkan. Perusahaan ke depannya nggak bakal peduli kalian lulusan mana, mereka cuma peduli apa yang sudah kalian bangun dan seberapa jago kalian menggunakan AI untuk ngebantu produktivitas kalian sendiri.

Jangan takut sama AI, tapi takutlah kalau kalian nggak punya nilai tambah yang unik di luar apa yang bisa dikerjakan oleh robot. Realitanya, PHK massal ini adalah koreksi atas kesalahan manajemen di masa lalu, bukan murni karena kecanggihan teknologi. Tetaplah fokus ngebangun skill yang sifatnya strategis dan penuh empati, karena itu yang belum bisa digantikan oleh algoritma manapun.

Terimakasih banyak rekan-rekanita sudah menyempatkan waktu buat ngebaca analisis ini sampai habis. Semoga wawasan ini bisa ngebuat kalian lebih tenang dan lebih siap ngadepin dinamika dunia kerja yang memang lagi nggak menentu ini. Sampai ketemu di tulisan berikutnya!

Terbaru

  • Inilah Kenapa AI Sering Jadi Kambing Hitam Saat PHK Massal, Padahal Masalahnya Bukan Itu!
  • Inilah Cara Baru Cepat Monetisasi YouTube Tanpa Trik Musik, Cuma 2 Bulan Langsung Cuan!
  • Inilah Kapan Pengumuman SNBP 2026 Jam Berapa Lengkap dengan Cara Cek Hasil Kelulusannya
  • Belum Tahu? Inilah Cara Zakat Perusahaan Kalian Bisa Jadi Pengurang Pajak Penghasilan Bruto!
  • Inilah Cara Menggabungkan Grid Foto Online dan Hapus Background Foto
  • Kenapa Youtuber Mulai Harus Hati-hati Pakai AI: Bisa Digugat dan Kehilangan Hak Cipta!
  • Inilah Alasan Kenapa Sumbangan ke Tempat Ibadah Biasa Nggak Bisa Langsung Jadi Pemotong Pajak!
  • Belum Tahu? Inilah Cara Pasang Iklan Meta Ads untuk Sales WiFi Supaya Banjir Closingan!
  • Inilah Alur Pengerjaan EMIS GTK 2026 yang Benar dari Awal Sampai Akhir
  • Inilah 27 Sekolah Kedinasan untuk Lulusan SMK 2026, Bisa Kuliah Gratis dan Langsung Jadi CPNS!
  • Inilah Cara Kuliah S2 di Inggris dengan GREAT Scholarship 2026: Syarat Lengkap, Daftar Kampus, dan Tips Jitu Biar Lolos!
  • Belum Tahu? Inilah Alasan Non-Muslim Juga Bisa Ngurangin Pajak Pake Sumbangan Keagamaan Wajib!
  • Inilah Kenapa Zakat ke Pondok Pesantren Mungkin Nggak Bisa Jadi Pengurang Pajak, Yuk Cek Syaratnya!
  • Inilah Caranya Daftar SMA Unggul Garuda Baru 2026 yang Diperpanjang, Cek Syarat dan Link Resminya!
  • Cara Cek Pencairan KJP Plus Tahap 1 Januari 2026 Beserta Daftar Nominal Lengkapnya
  • Lengkap! Inilah Kronologi Meninggalnya Vidi Aldiano Berjuang Melawan Kanker
  • Inilah Cara Tarik Data PKH di EMIS 4.0 Agar Bantuan Siswa Tetap Cair!
  • Inilah Trik Jitu SEO Shopee untuk Pemula: Jualan Laris Manis Tanpa Perlu Bakar Duit Iklan!
  • Inilah Peluang Emas Jadi Karyawan BUMN Tanpa Ngantre: Program Ikatan Kerja ULBI 2026
  • Inikah Daftar CPNS Kemenkeu 2026? Cek 48 Jurusan yang Paling Dibutuhkan!
  • Inilah 4 Beasiswa Khusus Warga ASEAN dengan Peluang Lolos Lebih Tinggi, Kalian Wajib Tahu!
  • Inilah Alasan Ribuan Dosen ASN Melayangkan Surat Keberatan Soal Tukin 2020-2024 yang Belum Cair
  • Cara Dapat Diamond Free Fire Gratis 2026, Pemain FF Harus Tahu!
  • Inilah Cara Mengisi Presensi EMIS GTK IMP 2026 Terbaru Biar Tunjangan Lancar
  • Inilah Trik Hashtag Viral Supaya Video Shorts Kalian Nggak Sepi Penonton Lagi
  • Inilah Jawabannya, Apakah Zakat Fitrah Kalian Bisa Mengurangi Pajak Penghasilan?
  • Inilah Caranya Supaya Komisi TikTok dan Shopee Affiliate Tetap Stabil Pasca Ramadhan!
  • Inilah 10 Kesalahan Fatal Saat Beli Properti yang Bisa Bikin Kalian Bangkrut!
  • Belum Tahu Cara Masuk Simpatika Terbaru? Ini Cara Login PTK EMIS GTK IMP 2026 Supaya Cek TPG Jadi Lebih Gampang!
  • Inilah Cara Bikin Konten Animasi AI Cuma Modal HP Supaya Bisa Gajian Rutin dari YouTube
  • How to Generate Battery Report in Windows 11: A Simple Guide
  • How to Setting Up a Pro-Level Security System with Reolink and Frigate NVR
  • How to Install DaVinci Resolve on Nobara Linux and Fix Video Compatibility Issues Like a Pro
  • How to Master GitHub’s New Power Tools: Copilot CLI, Dashboards, and More!
  • How to Create and Configure DNS Server on RHEL 10
  • Securing LLM with Agentverse (Secure and Scalable Inference)
  • ModernBERT: Why the Encoder-Only Model is Making a Massive Comeback in AI History
  • How to Build Your First AI App with Lovable AI Today!
  • OpenClaw Tutorial: A Step-by-Step Guide to Coding Your Very First Website from Scratch!
  • Seedance 2.0 Is Here! Unlimited + Completely Uncensored AI Video Gen
  • Apa itu Spear-Phishing via npm? Ini Pengertian dan Cara Kerjanya yang Makin Licin
  • Apa Itu Predator Spyware? Ini Pengertian dan Kontroversi Penghapusan Sanksinya
  • Mengenal Apa itu TONESHELL: Backdoor Berbahaya dari Kelompok Mustang Panda
  • Siapa itu Kelompok Hacker Silver Fox?
  • Apa itu CVE-2025-52691 SmarterMail? Celah Keamanan Paling Berbahaya Tahun 2025
Beli Pemotong Rumput dengan Baterai IRONHOOF 588V Mesin Potong Rumput 88V disini https://s.shopee.co.id/70DBGTHtuJ
Beli Morning Star Kursi Gaming/Kantor disini: https://s.shopee.co.id/805iTUOPRV

©2026 emka.web.id | Design: Newspaperly WordPress Theme