Skip to content

emka.web.id

menulis pengetahuan – merekam peradaban

Menu
  • Home
  • Tutorial
  • Search
Menu
party ala china kuno

Bukan Cuma Mitos! Ternyata Dinasti Song Punya Tempat Nongkrong Mirip PIK, Begini Isinya

Posted on January 4, 2026

Pernah nggak kalian ngebayangin orang zaman dulu kalau lagi gabut perginya ke mana? Ternyata, di Dinasti Song udah ada distrik hiburan yang vibes-nya mirip banget sama PIK atau Semawis. Namanya Wazi. Tapi ingat, ini bukan tempat “ehem-ehem” ya. Penasaran isinya kayak apa? Yuk, kita bedah bareng-bareng!

Pertama-tama, kami perlu meluruskan persepsi kalian tentang tempat hiburan zaman dulu. Banyak yang mengira kalau satu area isinya bar, tempat minum, dan tempat nongkrong itu konsep modern. Padahal, di Dinasti Song sekitar abad ke-10 sampai ke-13 Masehi, kota-kota besar sudah memiliki distrik hiburan yang disebut Wazi (瓦子). Kalau kalian pernah jalan-jalan ke Pasar Semawis di Semarang atau kawasan Kia Kia di Surabaya yang penuh dengan lampion merah, keramaian orang mengobrol, dan jajanan di sepanjang jalan, kurang lebih seperti itulah suasana Wazi. Tempat ini adalah pusat kehidupan sosial di mana orang datang bukan untuk mencari layanan “plus-plus”, melainkan murni untuk makan, minum, dan menikmati hiburan.

Wazi ini isinya sangat beragam, mulai dari pedagang kaki lima, kedai teh, kedai arak, sampai restoran besar yang menyajikan pengalaman ala fine dining. Sama seperti kebiasaan kita sekarang yang suka duduk berlama-lama di coffee shop, orang-orang Dinasti Song datang ke Wazi dengan tujuan yang sama: nongkrong. Bedanya, karena kopi belum ada, primadona utamanya adalah teh. Perlu dicatat, Wazi ini bukan tempat dugem yang baru ramai tengah malam. Justru, tempat ini buka dari pagi dan mencapai puncak keramaiannya saat matahari terbenam. Kalau sudah tengah malam, pilihannya cuma dua: pulang ke rumah atau pindah ke distrik lain yang lebih nakal.

Kalau bicara soal teh di Wazi, penyajiannya agak beda dengan standar teh bangsawan era Song. Biasanya, budaya minum teh era Song itu ribet dan formal, mirip upacara minum teh Jepang di mana daun teh dikompres jadi bata, digerus, lalu diaduk sampai berbusa kayak Matcha. Tapi di Wazi, kecepatan pelayanan adalah kunci karena tamunya membludak. Jadi, teknik penyeduhannya lebih mirip cara kita sekarang: daun teh lepas dimasukkan ke teko, disiram air hangat, dan siap minum. Dan buat kalian yang nyari es teh, sayangnya belum ada. Di budaya sana, teh harus diminum hangat.

Selain teh, arak beras atau Mijiu adalah minuman wajib. Hampir semua lapisan masyarakat meminumnya. Sedangkan wine dari anggur? Itu barang mewah impor dari Persia lewat Jalur Sutra. Untuk urusan makanan, pilihannya juga banyak. Ada makanan “cepat saji” seperti bakmi, pangsit, dan dimsum yang proses masaknya ngebut. Menariknya, mereka sudah punya teknologi es batu! Menggunakan teknik bubuk mesu (saltpeter), mereka bisa membuat es di musim panas. Makanya, menu dessert seperti es serut dengan topping bunga osmanthus, buah-buahan, dan siraman jus buah plum sangat populer. Bahkan ada teori yang bilang kalau es krim itu asalnya dari sini, bukan Italia.

Daya tarik utama Wazi sebenarnya bukan cuma makanan, tapi hiburannya. Ada akrobat, pemusik, hingga penyanyi. Tapi bintang utamanya adalah para pencerita atau Shuohua. Mereka ini kayak stand-up comedian campur narator audiobook yang bisa bikin pengunjung betah duduk berjam-jam. Kisah-kisah legendaris seperti Samkok atau 108 Pendekar itu awalnya dari tradisi lisan mereka. Para pencerita ini pintar banget ngebangun rasa penasaran dengan teknik cliffhanger di akhir cerita, bikin penonton terpaksa balik lagi besoknya buat tahu kelanjutannya. Saking terkenalnya, kedai teh rela bayar mahal buat ngontrak pencerita top karena massa akan mengikuti ke mana pun si pencerita tampil.

Terakhir, kami harus tegaskan lagi perbedaan Wazi dengan Red Light District. Kalau Wazi itu tempat hiburan umum untuk keluarga, laki-laki, perempuan, dan anak-anak, distrik lampu merahnya disebut Qinglou Qu. Di Qinglou inilah terdapat rumah-rumah yang menyediakan jasa “ehem-ehem” dan wanita penghibur. Meskipun lokasinya seringkali berdekatan, fungsinya jelas beda. Wazi adalah pesta rakyat yang merayakan kehidupan, tempat semua orang bisa bersosialisasi tanpa stigma negatif.

Rasanya menakjubkan melihat bagaimana kebutuhan manusia untuk bersosialisasi dan mencari hiburan sebenarnya nggak banyak berubah selama ribuan tahun. Teknologi boleh makin canggih, tapi keinginan untuk nongkrong, makan enak, dan mendengarkan cerita seru tetap sama. Wazi di Dinasti Song membuktikan bahwa leluhur kita juga tahu caranya menikmati hidup dengan gaya yang cukup “kekinian” pada masanya.

Sekian dulu pembahasan kali ini, terima kasih rekan-rekanita yang sudah membaca sampai habis. Sampai jumpa di artikel selanjutnya!

Terbaru

  • Learning NocoDB from Scratch: Creating a Simple Greenhouse App
  • How RHEL 10.2 Quietly Turned Into an Absolute Security Beast
  • Grab Videos from Anywhere with ReClip (Can Running Locally)
  • Jumped onto Ubuntu 26.04 LTS? Here’s How to Add a New User Account
  • Tutorial Cara Install WPS Office di Linux (Alternatif Microsoft Office)
  • Tutorial Upgrade Server Ubuntu 24.04 LTS ke Ubuntu 26.04 LTS dengan Aman
  • Inilah Alasan kenapa akun TikTok dibatasi tidak bisa klaim koin dan masalah pembatasan lainnya?
  • Apa penyebab gagal kirim SMS ke 89888 padahal pulsa masih ada?
  • Mengenal Donghua: Kenapa Animasi dari Tiongkok Ini Lagi Naik Daun Banget
  • OpenAI Bocorin Data Gambar Pengguna? Ini Kabar Terbaru Soal Insiden AI yang Bikin Heboh
  • Kenapa Postingan Instagram Kalian Sepi Like Padahal Followers Udah Banyak? Ini Rahasianya
  • Cara Menambah View Story Instagram Gratis Biar Nggak Sia-sia
  • Kenapa View TikTok Kalian Mentok di Angka Kecil dan Cara Ngatasinnya
  • Imbas Pesatnya Laporan CVE, Ubuntu Bakal Rilis Kernel Update Tiap Dua Minggu
  • Cara Gampang Cari Kata di Google Sheets Pakai Laptop sama HP
  • Kabar Terbaru Antigravity SDK: Sekarang Bisa Pakai Model Lokal Kayak Gemma 4 26B Tanpa Perlu Internet
  • Kabar Terbaru Model K2 Horizon Dirilis: MoVA 36B EXL3 Buat Kalian yang Punya GPU Beragam
  • Ini Alasan Kenapa Kalian Harus Cek Masa Dukungan HP Android Kalian Sekarang Juga
  • Cara Cek Followers Baru Asli atau Bot Tanpa Harus Ngitung Satu-Satu
  • Claude Opus 5.5 Baru Rilis, Bikin AI Kalian Jadi Jauh Lebih Powerfull!
  • Update Kondisi Market Bitcoin BTC/USDT Per 23 September 2026, Beli atau Jual Nih?
  • Paham Semua Keluarga Model AI Gemma 4
  • Rumor Laptop Android Ternyata Bener, Ini Daftar 4 Laptop Android dari Google!
  • LCOS Lagi Naik Daun: OS Buatan Lunduke Tembus Peringkat 12 DistroWatch dan Punya Kernel Sendiri
  • Cara Pindah Data Android ke iPhone Tanpa Reset iPhone
  • Valve: Steam Deck 2 Tetap di Develop, Meski RAM Naik Harga Gila-gilaan
  • Apa itu Dumpling? dari Sejarah Sampai Tren Saat ini
  • Jadwal Event Cosplay dan Pop Culture Oktober 2026 yang Wajib Kalian Pantau
  • Cara Ganti Nama Facebook di Android, iPhone, Laptop, dan Facebook Lite Terbaru
  • Apa saja yang baru di WordPress 7.1.1?
  • Canonical: Ubuntu coming soon to Snapdragon X2 Series platforms
  • Finally, wolfSSL adds post-quantum algorithms!
  • How to Run Gemma Embedding Models Using Docker
  • Deploy Nginx Rootful Container with Podman
  • How to Sandboxing Browser on Linux Desktop with Flatpak
  • Pruna AI Release their Qwen-Image 2.1 LoRA Adapter, 6x Faster than Regular Qwen
  • The Rise and Fall of the Coding Holy Grail: Is Stack Overflow Just AI Fuel Now?
  • Zyphra is The Pioneer, Why Everyone is Suddenly Obsessed with AMD and Not Just Nvidia Anymore
  • Stop Trusting Your Prompts to Save Your Business Data
  • How to Automate Your Entire SEO Strategy Using a Swarm of 100 Free AI Agents Working in Parallel
  • Syahganda Nainggolan sekarang di mana? Cek profil, jabatan terbaru, sampai riwayat politiknya yang bikin warga penasaran
  • Hati-hati jebakan APK FF Beta Testing 4.0 sama Beta Salju, jangan sampai akun kena ban permanen
  • Banyak keluhan saldo DANA belum masuk pas top up dan gagal transfer ke bank, ini info lengkapnya
  • Banyak yang bingung, vivo Y28 bakal dapet update Android 16 dan OriginOS 6 nggak ya? Cek faktanya di sini
  • Lho kok nggak ada? Ini alasan Marselino, Arhan, Asnawi, sampai Jay Idzes absen di skuad Timnas buat ASEAN Cup 2026

©2026 emka.web.id | Design: Newspaperly WordPress Theme