Pegunungan Himalaya yang terus meninggi 5 mm setiap tahun menciptakan tekanan geologis yang mampu menghancurkan mesin bor terowongan (TBM) paling canggih sekalipun. Di koordinat mematikan inilah India memulai konstruksi Terowongan Zojila. Misi utamanya adalah menembus 14,2 km batuan gunung solid demi membebaskan 300.000 penduduk dari isolasi salju selama enam bulan setiap tahunnya, sekaligus memangkas waktu tempuh berbahaya dari 3,5 jam menjadi hanya 15 menit. Pada ketinggian 3.528 mdpl dengan suhu mencapai -45°C, para insinyur dihadapkan pada kenyataan pahit: mesin TBM yang pernah menaklukkan Alpen dan kereta bawah tanah China tidak berdaya di sini. Struktur geologi Zojila sangat kacau, di mana dalam rentang 100 meter, batuan bisa berubah drastis dari basal sekeras berlian menjadi tanah lunak yang labil.
Akibat kondisi geologis yang ekstrem, para insinyur beralih kembali ke metode New Austrian Tunneling Method (NATM) yang mengandalkan peledakan terkontrol. Ini bukan ledakan sembarangan, melainkan operasi presisi setingkat prosedur bedah menggunakan rig pengeboran tiga lengan (three-boom drilling rigs) dan detonator dengan perbedaan waktu seperseribu detik. Tantangan tidak berhenti setelah peledakan; fenomena rock squeezing membuat dinding terowongan dapat menekuk baja penahan setebal 30 cm dalam hitungan jam. Untuk mengatasinya, tim segera menyemprotkan beton bertulang serat baja dan menanamkan baut batuan sepanjang enam meter, mengubah massa batuan yang tidak stabil menjadi struktur penyangga mandiri yang kokoh.
Musuh terbesar proyek ini bukanlah batu, melainkan air yang membeku. Terowongan Zojila berada tepat di bawah gletser permanen, di mana air lelehan bertekanan tinggi hingga 10 bar dapat menyembur sewaktu-waktu. Untuk mencegah siklus beku-cair (freeze-thaw cycle) yang dapat menghancurkan beton dari dalam, tim menggunakan beton kimia khusus berkinerja tinggi yang mampu mengeras di suhu sub-nol, teknologi yang sama dengan stasiun riset di Antartika. Sistem ini dilindungi oleh membran polimer kedap air setebal 3 mm dan dilengkapi pemanas geotermal di bawah jalan raya untuk mencegah permukaan jalan membeku, serta sistem drainase masif yang mampu mengevakuasi ribuan liter air per menit.
Di kedalaman 14 km dengan kadar oksigen hanya 60% dari normal, ventilasi menjadi masalah hidup dan mati. Insinyur memasang sistem ventilasi longitudinal canggih yang dikendalikan oleh jaringan sensor SCADA berbasis AI. Sistem ini memantau lebih dari 5.000 titik data per detik, mulai dari suhu, kadar karbon monoksida, hingga visibilitas. Jika terjadi kebakaran, kipas jet akan membalikkan arah angin secara otomatis untuk membuang asap dan menciptakan jalur evakuasi bertekanan positif. Keselamatan semakin terjamin dengan adanya lorong darurat setiap 750 meter yang terhubung ke terowongan servis paralel, yang juga diberi tekanan udara dan suplai oksigen tambahan.
Secara logistik dan ekonomi, proyek ini adalah sebuah anomali efisiensi. India menargetkan penyelesaian dalam kurang dari 5 tahun—jauh lebih cepat dibandingkan standar proyek serupa di Eropa—dengan biaya yang sangat kompetitif sekitar $930 juta. Kecepatan ini dicapai melalui strategi “serangan multi-titik” dengan membuka akses terowongan tambahan di tengah gunung untuk menggandakan jumlah area kerja. Ribuan pekerja beroperasi 24 jam dalam kondisi ekstrem, didukung oleh kamp bertekanan khusus dan tim medis hiperbarik untuk mencegah edema paru akibat ketinggian. Selain dampak ekonomi dan pariwisata bagi wilayah Ladakh, terowongan ini memiliki nilai strategis militer yang krusial, memastikan konektivitas logistik perbatasan tetap berjalan sepanjang tahun tanpa terhalang musim dingin.