Pernah nggak kalian bayangin menyetir mobil di dalam laut, tapi jalannya melayang dan nggak nempel di dasar samudra? Kedengarannya memang kayak fiksi ilmiah, tapi Norwegia lagi serius ngebangun ini. Pantai barat mereka yang indah tapi ribet secara geografis itu bakal disulap jadi jalan tol super canggih tanpa kapal feri. Yuk, kita bedah proyek ambisius yang satu ini!
Pantai barat Norwegia itu bisa dibilang salah satu lanskap paling dramatis di Bumi. Tapi, keindahan itu datang dengan harga mahal: fragmentasi. Di sini, fjord (teluk yang panjang dan sempit) membelah daratan begitu dalam sampai-sampai menyeberangi satu fjord saja rasanya bisa lebih lama daripada berkendara melintasi satu negara kecil di Eropa. Selama berpuluh-puluh tahun, jutaan pelancong dan pekerja harus bergantung pada kapal feri yang seringkali berhenti beroperasi saat badai atau membeku di musim dingin.
Kondisi ini ngebuat ritme kehidupan sehari-hari jadi terganggu. Truk pengiriman sering antre berjam-jam, logistik jadi mahal, dan komunitas pesisir merasa terisolasi. Melihat masalah yang nggak kunjung usai ini, pemerintah Norwegia akhirnya memutuskan untuk ngebikin solusi radikal: Proyek Jalan Raya Pesisir E39 (Coastal Highway E39). Ini bukan sekadar perbaikan jalan biasa, tapi sebuah upaya untuk “menjahit” garis pantai yang terpecah-pecah itu menjadi satu jalan raya mulus sepanjang 1.100 km dari Kristiansand di selatan hingga Trondheim di utara.
Tantangan teknisnya? Luar biasa berat. Mereka harus menaklukkan laut yang dalam, dingin, dan cuacanya yang sulit diprediksi. Kuranglebihnya, inilah inovasi “gila” yang sedang mereka kerjakan:
- Jembatan Terapung (Floating Bridges)
Fjord di Norwegia itu lebarnya ampun-ampunan, ada yang lebih dari 5 kilometer. Membangun jembatan konvensional dengan tiang pancang ke dasar laut itu mustahil karena kedalamannya bisa mencapai ratusan meter. Solusinya, insinyur di sana merancang jembatan terapung. Jembatan ini duduk di atas ponton semi-tenggelam yang ditambatkan ke dasar laut atau ditahan pakai kabel jangkar. Contohnya adalah di Bjørnafjorden. Struktur ini harus didesain sedemikian rupa supaya tahan gempuran ombak dan angin kencang. Mereka bahkan melakukan simulasi angin dan gelombang yang sangat kompleks untuk memastikan jembatan ini nggak bakal hancur dihajar badai. - Terowongan Terapung Bawah Laut (Submerged Floating Tunnel)
Ini adalah bagian yang paling bikin geleng-geleng kepala. Karena Sognefjord (fjord terbesar dan terdalam) punya kedalaman lebih dari 1 kilometer, nggak mungkin ngebangun tiang jembatan di sana. Jembatan gantung pun sulit karena bentangannya terlalu lebar (hampir 4 km) dan anginnya kencang banget. Maka muncullah ide Submerged Floating Tunnel (SFT). Bayangkan sebuah tabung beton raksasa yang melayang di kedalaman 20-30 meter di bawah permukaan air. Tabung ini nggak nempel di dasar laut, tapi ditahan oleh ponton di permukaan atau ditarik kabel ke dasar. Di kedalaman segitu, terowongan ini aman dari ombak besar di permukaan dan kapal laut bisa lewat di atasnya tanpa risiko tabrakan. Kalau berhasil, ini bakal jadi yang pertama di dunia! - Terowongan Bawah Laut Terdalam (The Rogfast Tunnel)
Selain teknologi terapung, mereka juga memecahkan rekor dengan metode konvensional yang didorong ke batas ekstrem. Proyek Rogfast adalah terowongan kembar sepanjang 26,7 km yang bakal jadi terowongan jalan raya bawah laut terpanjang dan terdalam di dunia. Bayangkan, kalian bakal berkendara di kedalaman hampir 392 meter di bawah permukaan laut! Untuk ngebangun ini, mereka harus mengebor batuan kristal yang super keras. Norwegia memang rajanya terowongan, tapi proyek ini tetap saja menuntut presisi tingkat tinggi.
Biaya untuk merealisasikan mimpi ini diperkirakan mencapai hampir $50 miliar (sekitar 700-an triliun rupiah). Angka yang fantastis ini ngebuat proyek E39 jadi salah satu investasi infrastruktur paling mahal dalam sejarah modern Norwegia. Tapi bagi pemerintah mereka, ini bukan cuma soal buang-buang duit. Ini adalah strategi nasional. Dengan adanya jalan ini, waktu tempuh yang tadinya butuh 21 jam bisa dipangkas jadi cuma 11 jam.
Dampak ekonominya juga nggak main-main. Industri perikanan dan energi yang selama ini “tewas” karena masalah logistik bakal bisa ngebut. Pariwisata juga bakal meledak karena turis bisa roadtrip menikmati pemandangan tanpa harus ribet ngecek jadwal feri. Intinya, proyek ini bakal ngasih napas baru buat ekonomi wilayah barat Norwegia, menyatukan wilayah yang tadinya terisolasi menjadi satu koridor ekonomi yang kuat.
Rasanya, upaya Norwegia ini mengajarkan kita bahwa batasan geografis itu ada untuk ditantang, bukan diratapi. Meskipun risiko finansial dan teknisnya besar, keberanian mereka untuk mencoba teknologi yang belum pernah ada sebelumnya—seperti terowongan melayang—patut diacungi jempol. Jika rampung nanti di tahun 2030-an atau 2040-an, E39 bukan cuma jadi jalan raya, tapi jadi monumen kecerdasan manusia dalam beradaptasi dengan alam yang keras.
Bagi rekan-rekanita yang suka dunia teknik sipil atau sekadar kagum sama inovasi gila, proyek E39 ini wajib banget dipantau perkembangannya. Siapa tahu teknologi serupa suatu hari nanti bisa diterapkan di negara kepulauan seperti Indonesia. Terima kasih sudah membaca ulasan ini sampai habis, sampai jumpa di artikel selanjutnya!