Pernah nggak sih kalian mikir, dari mana datangnya massa pohon yang beratnya bisa ribuan ton itu? Kalau kalian jawab “dari tanah”, selamat, kalian salah besar! Ternyata, raksasa hutan ini tumbuh dengan cara “memakan” udara. Kedengarannya gila dan nggak masuk akal, tapi inilah sains di balik keajaiban yang sering kita lewatkan begitu saja saat jalan-jalan di taman. Mari kita bedah bagaimana makhluk ini bisa memanipulasi udara dan batu demi kelangsungan hidup mereka.
Sebenarnya, pohon adalah makhluk hidup terbesar dan terberat di Bumi. Bayangkan saja, pohon yang paling masif bisa berbobot hampir 2.000 ton—itu setara dengan sepuluh paus biru! Tapi bedanya, kalau paus biru melayang santai di lautan, pohon harus berdiri tegak menjulang 25 lantai ke langit sambil menahan beban seberat itu. Logikanya, kita pasti mikir kalau pohon mengambil material penyusun tubuhnya dari tanah. Tapi, kalau makhluk segede itu memakan tanah di bawahnya, harusnya ada lubang raksasa di sekitar akar mereka, kan? Kenyataannya, tanah di sekitarnya tetap utuh. Itu karena pohon sejatinya tumbuh dengan memakan udara tipis.
Kunci dari semua ini adalah karbon. Ini adalah material paling berharga bagi makhluk hidup, semacam “lego” kimiawi yang bisa dibentuk jadi apa saja. Tumbuhan menjadi penguasa Bumi karena leluhur mereka, miliaran tahun lalu, jago banget memanen karbon ini. Masalahnya, atmosfer kita cuma mengandung sekitar 0,04% CO2. Ini jumlah yang sangat sedikit. Untuk mendapatkan satu ton karbon saja, sebatang pohon harus memproses 6.000 ton udara atau setara dengan 5 juta meter kubik udara!
Karena tantangan ini, pohon mengembangkan “kawasan industri” biologis yang sangat canggih, yaitu tajuk atau mahkota pohon. Ratusan ribu ranting dan dahan bekerja mengarahkan daun ke arah matahari. Daun inilah pabrik utamanya. Kalau kulit kita tebalnya ratusan sel, daun itu tipis banget, cuma sekitar sepuluh lapis sel supaya cahaya bisa tembus. Mari kita lihat struktur daun yang ngebuat proses ini mungkin terjadi:
- Lapisan Kulit Transparan: Di bagian paling atas, ada satu lapisan sel pelindung super tipis yang transparan. Fungsinya kayak kaca jendela, membiarkan cahaya masuk tapi menahan air biar nggak kabur.
- Pabrik Kloroplas: Di bawahnya, ada sel-sel pabrik yang penuh sesak dengan kloroplas. Di sinilah kerja keras sesungguhnya terjadi.
- Jaringan Spons: Di bawah pabrik tadi, ada lapisan sel longgar yang memungkinkan gas-gas bergerak bebas.
- Jalan Tol Vena: Seluruh daun dilintasi jaringan mirip urat nadi yang membawa gula ke bawah dan menarik air serta mineral dari akar.
- Mulut Daun (Stomata): Di bagian bawah, ada ribuan mulut kecil bernama stomata. Dua sel penjaga yang mirip bibir mengatur buka-tutup mulut ini.
Setiap hari, pohon dewasa menyedot puluhan liter air dari tanah. Uniknya, 95% air itu cuma numpang lewat alias “dikeringatkan” keluar lewat stomata tadi. Ini fungsinya buat mendinginkan daun biar pabriknya nggak kepanasan kena matahari terus-terusan. Uap air yang keluar ini saking banyaknya bisa menciptakan awan dan hujan. Makanya, kalau hutan hujan ditebang, daerah itu bakal jadi gurun karena nggak ada lagi yang memproduksi hujan.
Sisa 5% airnya barulah dipakai untuk fotosintesis. Singkatnya, energi matahari dipakai memecah air jadi hidrogen dan oksigen. Oksigen dibuang (ini yang kita hirup), dan hidrogen digabung sama CO2 buat jadi glukosa atau gula. Gula inilah baterai sekaligus batu bata penyusun tubuh pohon.
Tapi cerita di atas tanah itu cuma setengah dari kebenarannya. Di bawah tanah, ada kerajaan akar yang jauh lebih aneh. Akar pohon itu nggak tumbuh kayak cerminan tajuk pohon di atas. Mereka lebih sering nyebar ke samping kayak karpet kusut. Sekitar 50% akar pohon itu uyek-uyekan di kedalaman 25 cm teratas tanah.
Akar punya tugas berat: menambang air dan mineral langka kayak fosfor dan nitrogen yang tersembunyi di bebatuan. Untuk menavigasi labirin bawah tanah yang gelap, ujung akar punya sensor canggih bernama tudung akar (root cap). Di dalamnya ada sel-sel gravitasi yang berisi partikel padat kecil. Partikel ini bakal jatuh ke bawah mengikuti gravitasi, ngasih tahu akar mana arah “bawah” yang sebenarnya. Selain itu, mereka punya sensor kelembapan dan getaran air.
Data dari sensor ini dikirim ke pusat komando di belakang ujung akar. Di sini, sinyal listrik dan kimia diolah jadi keputusan: mau belok kiri, kanan, atau lurus? Kalau ketemu batu keras yang menyimpan nutrisi, akar bakal masuk ke celah terkecil, lalu memompa dirinya dengan air sampai bengkak kayak dongkrak hidrolik. Tekanannya cukup kuat buat mecahin batu! Setelah retak, akar ngeluarin asam buat melarutkan mineral dan menyerapnya.
Yang paling epik, akar pohon sadar kalau mereka nggak bisa kerja sendiri. Mereka ngebangun aliansi dagang dengan jamur (fungi). Jaringan jamur ini bisa menyusup ke tempat yang nggak bisa dijangkau akar. Kesepakatannya simpel: Pohon ngasih gula (hasil fotosintesis di atas), dan jamur ngasih nutrisi serta air dari tanah. Hubungan ini bahkan menyambungkan satu pohon dengan pohon lain, menciptakan jaringan internet bawah tanah yang menghubungkan seluruh hutan.
Jadi, pohon itu bukan benda mati yang pasif. Mereka adalah mesin penambang udara dan batu yang sangat kompleks, cerdas, dan kooperatif. Pemahaman kita tentang pohon terus berkembang, berkat orang-orang yang terus belajar dan memecahkan teka-teki alam ini.
Kesimpulannya, pohon adalah entitas super kompleks yang hidup di dua dunia: atmosfer di atas dan labirin tanah di bawah. Mereka memanipulasi fisika dan kimia dengan cara yang bikin teknologi manusia kadang terlihat primitif. Mulai dari “memakan” udara untuk jadi kayu sekeras batu, sampai ngebangun jaringan internet berbasis jamur di dalam tanah. Setelah baca ini, kami harap kalian nggak lagi melihat pohon sekadar sebagai peneduh jalan, tapi sebagai pabrik biokimia raksasa yang menopang napas kita semua. Mari terus belajar dan jaga mereka, karena tanpa drama kehidupan mereka yang rumit ini, kita nggak bakal bisa bertahan hidup.
Terima kasih sudah membaca sampai akhir, rekan-rekanita!