Skip to content

emka.web.id

menulis pengetahuan – merekam peradaban

Menu
  • Home
  • Tutorial
  • Search
Menu
rencana gila china balap amerika ke bulan

Inilah Rencana Gila China Balap AS ke Bulan Sebelum 2030

Posted on January 7, 2026

Ingat momen Neil Armstrong di tahun 1969? Sudah hampir 60 tahun sejak manusia terakhir kali menjejakkan kaki di Bulan, dan rasanya sepi-sepi saja. Tapi sekarang, suasananya memanas lagi. China nggak main-main, mereka lagi ngebut buat nyalip Amerika Serikat (AS) dalam misi pendaratan manusia di Bulan. Kayaknya, AS mulai ketar-ketir melihat ambisi raksasa Asia yang satu ini.

Kalau kalian perhatikan sejarahnya, ambisi China di Bulan itu mulainya pelan tapi pasti. Awalnya di tahun 2007 dan 2010, mereka cuma mengirim pengorbit Chang’e 1 dan 2 buat memetakan permukaan. Tapi mereka nggak berhenti di situ. Tahun 2013, mereka sukses mendaratkan Chang’e 3, pendaratan pertama sejak 1976. Dan yang bikin dunia kaget, di 2019 mereka mendarat di sisi jauh Bulan (far side) yang belum pernah disentuh negara mana pun. Puncaknya, di 2020 dan 2024, mereka berhasil membawa pulang sampel tanah Bulan, termasuk dari sisi jauhnya. Progres yang konsisten ini ngebuktiin kalau mereka punya teknologi yang matang.

Sekarang, China menargetkan sesuatu yang jauh lebih besar: mendaratkan astronaut (taikonaut) di Bulan sebelum tahun 2030. Ini bukan sekadar wacana, karena mereka sudah menyiapkan misi Chang’e 7 di 2026 dan Chang’e 8 di 2029 untuk meneliti Kutub Selatan Bulan dan bahkan bereksperimen dengan teknologi 3D printing menggunakan tanah Bulan. Tapi, inti dari semua ini adalah roket monster yang sedang mereka bangun, yaitu Long March 10.

Biar kalian paham seberapa seriusnya mereka, mari kita bedah spesifikasi teknis dari roket Long March 10 yang digadang-gadang jadi kunci kesuksesan China ini. Roket ini punya tinggi total 92,5 meter dan terdiri dari tiga tahap (three-stage). Tahap pertamanya punya inti dengan dua booster tambahan. Masing-masing booster ini membawa 680 dan 520 ton propelan RP1 dan oksigen cair. Tenaganya? Jangan tanya. Mereka menggunakan tujuh mesin YF-100K di setiap booster yang menghasilkan daya dorong gabungan sebesar 26,25 meganewton.

Setelah lepas landas, tahap kedua akan aktif dengan mesin YF-100M yang memberikan dorongan 2,9 meganewton untuk mendorong roket ke orbit rendah Bumi. Terakhir, tahap ketiga yang menggunakan bahan bakar hidrogen cair dan oksigen akan mendorong muatan menuju injeksi trans-lunar. Secara total, roket ini bisa mengangkut 70 ton muatan ke orbit rendah Bumi dan 27 ton langsung ke arah Bulan.

Lalu, gimana caranya mereka mendaratkan manusia dengan teknologi yang ada sekarang? China sadar mereka belum punya roket super-heavy seperti Saturn V milik Apollo dulu atau Starship milik SpaceX yang siap pakai. Jadi, mereka pakai strategi yang lebih pragmatis tapi berisiko. Berikut adalah skema misi pendaratan China yang cukup unik:

  1. Peluncuran Ganda: Karena kapasitas angkut roket terbatas, China akan meluncurkan dua roket Long March 10 secara terpisah dari situs peluncuran Wenchang. Satu roket membawa pesawat ruang angkasa kru bernama “Mengzhou”, dan satu lagi membawa pendarat bulan bernama “Lanyue”.
  2. Rendezvous di Orbit Bulan: Kedua wahana ini, Mengzhou (kru) dan Lanyue (pendarat), akan terbang terpisah menuju Bulan. Sesampainya di orbit Bulan, mereka harus melakukan docking atau penyambungan yang presisi.
  3. Transfer Kru: Tiga astronaut akan berangkat dengan Mengzhou. Setelah docking sukses di orbit Bulan, dua astronaut akan pindah ke pendarat Lanyue, sementara satu orang tetap tinggal di orbit.
  4. Pendaratan dan Aktivitas: Lanyue akan melakukan pengereman dan mendarat di permukaan Bulan. Di sana, para taikonaut akan melakukan aktivitas luar kendaraan (EVA), menggunakan rover seberat 200 kg, dan melakukan berbagai eksperimen ilmiah selama beberapa jam hingga hari.
  5. Kembali ke Orbit: Setelah misi selesai, pendarat akan meluncur kembali ke orbit Bulan untuk bertemu lagi dengan Mengzhou.
  6. Kepulangan: Para astronaut pindah kembali ke Mengzhou, membuang modul pendarat, dan menyalakan mesin untuk kembali ke Bumi.

Strategi “dua kali peluncuran” ini memang terdengar cerdas karena membagi beban, tapi risikonya juga gila-gilaan. Mereka butuh dua peluncuran yang sempurna, dua perjalanan ke orbit yang mulus, dan satu rendezvous yang sangat presisi sejauh 400.000 km dari Bumi. Kalau satu tahap saja gagal, seluruh misi bisa berantakan.

Di sisi lain, AS lewat program Artemis-nya sebenarnya juga sedang balapan. Tapi, NASA lagi menghadapi banyak masalah. Artemis 2 dan 3 terus mengalami penundaan, dari masalah teknis hingga anggaran. NASA sangat bergantung pada SpaceX dan roket Starship mereka untuk pendaratan Artemis 3. Masalahnya, Starship ini roket yang sangat kompleks dan masih dalam tahap pengembangan. Belum lagi, NASA sempat kena imbas volatilitas pendanaan politik di AS, meskipun akhirnya Senat menyelamatkan anggaran Artemis.

China melihat celah ini. Mereka tahu kalau NASA terus “terpleset” jadwalnya, China bisa saja mendarat duluan. Ini bukan cuma soal sains, tapi soal gengsi dan geopolitik. Siapa yang bisa menguasai Kutub Selatan Bulan, tempat yang diprediksi punya cadangan es air, bakal punya keuntungan strategis yang besar. Makanya, China bikin koalisi ILRS (International Lunar Research Station) bareng Rusia untuk menandingi Artemis Accords milik AS. Karena aturan Wolf Amendment tahun 2011 melarang NASA kerja sama sama China, mau nggak mau China ngebangun ekosistem antariksa mereka sendiri, termasuk stasiun luar angkasa Tiangong yang sekarang sudah aktif.

Rasanya persaingan ini bakal makin ketat dalam 5 tahun ke depan. China sudah sukses tes statis mesin roket mereka dan pendarat Lanyue juga sudah diuji coba. Sementara AS masih harus membereskan banyak PR teknis dengan Starship. Siapapun yang menang, sejarah baru bakal tercipta. Apakah AS bisa mempertahankan gelar juaranya, atau China yang bakal merebut mahkota penguasa Bulan? Kita lihat saja nanti.

Pada akhirnya, kompetisi ini sebenarnya bagus buat kemajuan teknologi umat manusia. Persaingan ngebuat inovasi jadi lebih cepat. Tapi tetap saja, ada rasa was-was kalau ruang angkasa jadi ajang rebutan kekuasaan baru. Bagi kita penonton di Bumi, yang penting adalah bagaimana eksplorasi ini bisa membawa manfaat, bukan sekadar menancapkan bendera. Rekan-rekanita sekalian, terima kasih sudah membaca analisis ini. Mari kita pantau terus siapa yang bakal “touchdown” duluan di 2030 nanti.

Terbaru

  • Blokir Nomor WA Tanpa Harus Tambah ke Daftar Hitam, Begini Caranya!
  • Isu SKTP Februari 2026 Sudah Terbit Ternyata Cuma Hoaks? Cek Jadwal Resminya Di Sini
  • Apa itu Mihari Novel? Aplikasi Baca Novel Dibayar
  • Cara Mengatasi NIK Belum Ditemukan di DTKS Saat Daftar KIP Kuliah, Jangan Panik Dulu!
  • Inilah 3 Karakteristik Pembagian Masyarakat Menurut Sibrani yang Bikin Kita Paham Struktur Sosial
  • Inilah Cara Mengatasi Status Bansos Atensi YAPI NTPN Tidak Ditemukan Biar Bantuan Tetap Cair!
  • Cara Mudah Unduh Video DS2Play Tanpa Ribet
  • Apa itu Free Float di Dunia Saham? Ini Artinya
  • Hati-Hati Modus Penipuan Asuransi BCA, Ini Caranya!
  • Inilah Panduan Lengkap Pendaftaran PPDB SMA Unggul Garuda Baru 2026, Simak Syarat dan Alurnya!
  • Alternatif Terbaik Dari OmeTV, Tanpa Takut Kena Banned
  • Tips Nama Petugas TKA SD/SMP Muncul Otomatis di Berita Acara
  • Inilah Fakta di Balik Video Botol Teh Pucuk Viral yang Lagi Rame di TikTok!
  • Apa itu Aturan Waktu Futsal dan Extra Time di Permainan Futsal?
  • Contoh Jawaban Refleksi Diri “Bagaimana Refleksi tentang Praktik Kinerja Selama Observasi Praktik Kinerja”
  • Main Telegram Dapat Uang Hoax atau Fakta?
  • Apa itu Lock iCloud? Ini Artinya
  • Integrasi KBC dan PM di Madrasah? Ini Pengertian dan Contoh Praktiknya
  • Ini Trik Input Pelaksana PBJ di Dapodik 2026.C Biar Info GTK Langsung Valid dan Aman!
  • Apa Maksud Hukum Dasar yang Dijadikan Pegangan dalam Penyelenggaraan Suatu Negara? Ini Jawabannya
  • Apakah Apk Puskanas Penipuan?
  • Inilah 10 Alternatif Mesin Pencari Selain Yandex yang Anti Blokir dan Aman Digunakan
  • Caranya Supaya WhatsApp Nggak Kena Spam Terus Meski Sudah Ganti Nomor, Ternyata Ini Rahasianya!
  • Jangan Tergiur Harga Murah! Inilah Deretan Risiko Fatal Membeli iPhone Lock iCloud
  • Mudik Gratis Pemprov Jateng 2026? Ini Pengertian dan Alur Lengkapnya
  • Inilah Cara Cek KIS Aktif Atau Tidak Lewat HP dan Solusi Praktis Jika Kepesertaan Nonaktif
  • Apa tiu Keberagaman? dan Kenapa Kita Butuh Perbedaan
  • Inilah Rekomendasi Tablet RAM 8 GB Paling Murah 2026 Buat Kerja dan Kuliah!
  • Ini Bocoran Honorable Mention TOTY FC Mobile OVR 117 dan 34 Kode Redeem Paling Baru!
  • Inilah Cara Memilih Smartband GPS Terbaik Biar Olahraga Kalian Makin Efektif!
  • Top Open-Source Alternatives to Adobe Creative Cloud for Design and Editing in 2026
  • TinyMediaManager: A Plugin to Organize and Manage Jellyfin Media Library
  • How to Fix the Subscript Out of Range Error in Microsoft Excel
  • What’s New in Podman 5.8: Quadlet & SQLite Migration Explained
  • Microsoft Fixes Old Windows 10 Bug Affecting Parental Controls
  • Prompt AI Menyusun Script Pola Suara Karakter agar Brand Jadi Ikonik
  • Prompt AI untuk Merancang Karakter Brand yang Ikonik
  • Prompt AI Audit Konten Sesuai Karakter Brand
  • Prompt AI Merubah Postingan LinkedIn Jadi Ladang Diskusi dengan ChatGPT
  • Prompt AI: Paksa Algoritma LinkedIn Promosikan Konten Kalian
  • Apa itu Spear-Phishing via npm? Ini Pengertian dan Cara Kerjanya yang Makin Licin
  • Apa Itu Predator Spyware? Ini Pengertian dan Kontroversi Penghapusan Sanksinya
  • Mengenal Apa itu TONESHELL: Backdoor Berbahaya dari Kelompok Mustang Panda
  • Siapa itu Kelompok Hacker Silver Fox?
  • Apa itu CVE-2025-52691 SmarterMail? Celah Keamanan Paling Berbahaya Tahun 2025
Beli Morning Star Kursi Gaming/Kantor disini: https://s.shopee.co.id/805iTUOPRV
Beli Pemotong Rumput dengan Baterai IRONHOOF 588V Mesin Potong Rumput 88V disini https://s.shopee.co.id/70DBGTHtuJ

©2026 emka.web.id | Design: Newspaperly WordPress Theme