Ingat momen Neil Armstrong di tahun 1969? Sudah hampir 60 tahun sejak manusia terakhir kali menjejakkan kaki di Bulan, dan rasanya sepi-sepi saja. Tapi sekarang, suasananya memanas lagi. China nggak main-main, mereka lagi ngebut buat nyalip Amerika Serikat (AS) dalam misi pendaratan manusia di Bulan. Kayaknya, AS mulai ketar-ketir melihat ambisi raksasa Asia yang satu ini.
Kalau kalian perhatikan sejarahnya, ambisi China di Bulan itu mulainya pelan tapi pasti. Awalnya di tahun 2007 dan 2010, mereka cuma mengirim pengorbit Chang’e 1 dan 2 buat memetakan permukaan. Tapi mereka nggak berhenti di situ. Tahun 2013, mereka sukses mendaratkan Chang’e 3, pendaratan pertama sejak 1976. Dan yang bikin dunia kaget, di 2019 mereka mendarat di sisi jauh Bulan (far side) yang belum pernah disentuh negara mana pun. Puncaknya, di 2020 dan 2024, mereka berhasil membawa pulang sampel tanah Bulan, termasuk dari sisi jauhnya. Progres yang konsisten ini ngebuktiin kalau mereka punya teknologi yang matang.
Sekarang, China menargetkan sesuatu yang jauh lebih besar: mendaratkan astronaut (taikonaut) di Bulan sebelum tahun 2030. Ini bukan sekadar wacana, karena mereka sudah menyiapkan misi Chang’e 7 di 2026 dan Chang’e 8 di 2029 untuk meneliti Kutub Selatan Bulan dan bahkan bereksperimen dengan teknologi 3D printing menggunakan tanah Bulan. Tapi, inti dari semua ini adalah roket monster yang sedang mereka bangun, yaitu Long March 10.
Biar kalian paham seberapa seriusnya mereka, mari kita bedah spesifikasi teknis dari roket Long March 10 yang digadang-gadang jadi kunci kesuksesan China ini. Roket ini punya tinggi total 92,5 meter dan terdiri dari tiga tahap (three-stage). Tahap pertamanya punya inti dengan dua booster tambahan. Masing-masing booster ini membawa 680 dan 520 ton propelan RP1 dan oksigen cair. Tenaganya? Jangan tanya. Mereka menggunakan tujuh mesin YF-100K di setiap booster yang menghasilkan daya dorong gabungan sebesar 26,25 meganewton.
Setelah lepas landas, tahap kedua akan aktif dengan mesin YF-100M yang memberikan dorongan 2,9 meganewton untuk mendorong roket ke orbit rendah Bumi. Terakhir, tahap ketiga yang menggunakan bahan bakar hidrogen cair dan oksigen akan mendorong muatan menuju injeksi trans-lunar. Secara total, roket ini bisa mengangkut 70 ton muatan ke orbit rendah Bumi dan 27 ton langsung ke arah Bulan.
Lalu, gimana caranya mereka mendaratkan manusia dengan teknologi yang ada sekarang? China sadar mereka belum punya roket super-heavy seperti Saturn V milik Apollo dulu atau Starship milik SpaceX yang siap pakai. Jadi, mereka pakai strategi yang lebih pragmatis tapi berisiko. Berikut adalah skema misi pendaratan China yang cukup unik:
- Peluncuran Ganda: Karena kapasitas angkut roket terbatas, China akan meluncurkan dua roket Long March 10 secara terpisah dari situs peluncuran Wenchang. Satu roket membawa pesawat ruang angkasa kru bernama “Mengzhou”, dan satu lagi membawa pendarat bulan bernama “Lanyue”.
- Rendezvous di Orbit Bulan: Kedua wahana ini, Mengzhou (kru) dan Lanyue (pendarat), akan terbang terpisah menuju Bulan. Sesampainya di orbit Bulan, mereka harus melakukan docking atau penyambungan yang presisi.
- Transfer Kru: Tiga astronaut akan berangkat dengan Mengzhou. Setelah docking sukses di orbit Bulan, dua astronaut akan pindah ke pendarat Lanyue, sementara satu orang tetap tinggal di orbit.
- Pendaratan dan Aktivitas: Lanyue akan melakukan pengereman dan mendarat di permukaan Bulan. Di sana, para taikonaut akan melakukan aktivitas luar kendaraan (EVA), menggunakan rover seberat 200 kg, dan melakukan berbagai eksperimen ilmiah selama beberapa jam hingga hari.
- Kembali ke Orbit: Setelah misi selesai, pendarat akan meluncur kembali ke orbit Bulan untuk bertemu lagi dengan Mengzhou.
- Kepulangan: Para astronaut pindah kembali ke Mengzhou, membuang modul pendarat, dan menyalakan mesin untuk kembali ke Bumi.
Strategi “dua kali peluncuran” ini memang terdengar cerdas karena membagi beban, tapi risikonya juga gila-gilaan. Mereka butuh dua peluncuran yang sempurna, dua perjalanan ke orbit yang mulus, dan satu rendezvous yang sangat presisi sejauh 400.000 km dari Bumi. Kalau satu tahap saja gagal, seluruh misi bisa berantakan.

Di sisi lain, AS lewat program Artemis-nya sebenarnya juga sedang balapan. Tapi, NASA lagi menghadapi banyak masalah. Artemis 2 dan 3 terus mengalami penundaan, dari masalah teknis hingga anggaran. NASA sangat bergantung pada SpaceX dan roket Starship mereka untuk pendaratan Artemis 3. Masalahnya, Starship ini roket yang sangat kompleks dan masih dalam tahap pengembangan. Belum lagi, NASA sempat kena imbas volatilitas pendanaan politik di AS, meskipun akhirnya Senat menyelamatkan anggaran Artemis.
China melihat celah ini. Mereka tahu kalau NASA terus “terpleset” jadwalnya, China bisa saja mendarat duluan. Ini bukan cuma soal sains, tapi soal gengsi dan geopolitik. Siapa yang bisa menguasai Kutub Selatan Bulan, tempat yang diprediksi punya cadangan es air, bakal punya keuntungan strategis yang besar. Makanya, China bikin koalisi ILRS (International Lunar Research Station) bareng Rusia untuk menandingi Artemis Accords milik AS. Karena aturan Wolf Amendment tahun 2011 melarang NASA kerja sama sama China, mau nggak mau China ngebangun ekosistem antariksa mereka sendiri, termasuk stasiun luar angkasa Tiangong yang sekarang sudah aktif.
Rasanya persaingan ini bakal makin ketat dalam 5 tahun ke depan. China sudah sukses tes statis mesin roket mereka dan pendarat Lanyue juga sudah diuji coba. Sementara AS masih harus membereskan banyak PR teknis dengan Starship. Siapapun yang menang, sejarah baru bakal tercipta. Apakah AS bisa mempertahankan gelar juaranya, atau China yang bakal merebut mahkota penguasa Bulan? Kita lihat saja nanti.
Pada akhirnya, kompetisi ini sebenarnya bagus buat kemajuan teknologi umat manusia. Persaingan ngebuat inovasi jadi lebih cepat. Tapi tetap saja, ada rasa was-was kalau ruang angkasa jadi ajang rebutan kekuasaan baru. Bagi kita penonton di Bumi, yang penting adalah bagaimana eksplorasi ini bisa membawa manfaat, bukan sekadar menancapkan bendera. Rekan-rekanita sekalian, terima kasih sudah membaca analisis ini. Mari kita pantau terus siapa yang bakal “touchdown” duluan di 2030 nanti.