Skip to content

emka.web.id

menulis pengetahuan – merekam peradaban

Menu
  • Home
  • Tutorial
  • Search
Menu
kenapa orang romawi hanya pakai armor kaki

Kenapa Tentara Romawi Hanya Pakai Armor Kaki Saja?

Posted on January 12, 2026

Sejak zaman prasejarah, manusia sudah sibuk berperang satu sama lain, mulai dari pakai batu dan kayu hingga akhirnya besi dan baja. Seiring canggihnya senjata, perlengkapan bertahan pun ikut berevolusi, termasuk pelindung kaki. Tapi, pernah nggak sih kalian perhatiin kalau tentara Romawi kuno sering digambarkan cuma pakai satu pelindung kaki saja? Padahal sebelumnya orang Yunani pakai sepasang, lho. Fenomena ini bukan tanpa alasan, dan jawabannya bakal ngebuka wawasan kalian soal taktik perang kuno.

Mari kita mundur sedikit ke masa lalu. Saat peradaban mulai berkembang, peralatan perang juga makin maju. Di Timur Dekat kuno, helm, perisai, dan berbagai jenis baju besi mulai umum digunakan. Di Yunani kuno, para pejuang bertempur dalam formasi padat yang disebut phalanx. Selama berabad-abad sebelum masa Yunani klasik, pelindung tulang kering atau greaves sebenarnya adalah barang mewah yang langka, biasanya cuma dipakai oleh elit atau bangsawan.

Namun, kondisi geografis Yunani yang bergunung-gunung ngebuat mereka nggak terlalu memprioritaskan kecepatan atau kemampuan manuver seperti peradaban di timur. Orang Yunani kuno sering bertempur di lembah-lembah strategis yang sempit di antara negara-kota saingan mereka. Karena gaya perang mereka lebih ngebutuhin ketahanan dan kekuatan bertahan di satu titik, armor jadi jauh lebih penting daripada kecepatan lari. Jadi, nambah beban beberapa kilogram armor rasanya bukan masalah besar buat mereka. Greaves yang menutupi tulang kering pun jadi bagian umum dari perlengkapan perang hoplite.

Gaya tempur Yunani ini kemudian menyebar ke banyak wilayah non-Yunani, termasuk Kartago dan Romawi di awal kemunculannya. Awalnya, Romawi meniru taktik hoplite Yunani ini. Tapi, seiring populasi Romawi tumbuh dan wilayahnya meluas, struktur militer mereka harus berevolusi. Titik baliknya terjadi saat Perang Samnite di pertengahan abad ke-4 SM. Di medan yang berbukit kasar, taktik phalanx ala Yunani bikin Romawi babak belur.

Gara-gara kekalahan itu, Romawi ninggalin gaya phalanx dan ngebangun sistem maniple dan legiun. Bukannya bertempur dalam kotak raksasa berisi ribuan orang, mereka memecahnya jadi unit-unit lebih kecil. Di sinilah perubahan perlengkapan mulai terjadi secara drastis. Barisan depan diisi oleh Velites (penyerang ringan) yang hampir nggak pakai armor demi kecepatan. Sementara barisan utama, Hastati dan Principes, mulai menggunakan perisai oval besar (scutum) dan pedang pendek, menggantikan tombak panjang.

Nah, di masa reorganisasi inilah mulai muncul tren unik di mana legiuner Romawi cuma pakai satu greave di kaki kiri. Kenapa bisa begitu? Berikut adalah analisis faktor-faktor yang ngebikin tren ini terjadi:

  1. Faktor Keselamatan dan Sikap Bertempur
    Alasan paling teknis adalah karena perubahan cara berdiri saat bertempur. Dengan perisai scutum yang lebih besar dan panjang, serta kuda-kuda yang sedikit lebih lebar, kaki kanan bagian belakang jadi lebih terlindungi oleh perisai itu sendiri. Kaki kiri yang ada di depan butuh perlindungan ekstra, sedangkan kaki kanan relatif aman dari tusukan pedang atau tombak musuh. Jadi, rasanya agak mubazir kalau harus ngasih pelindung tebal di kaki yang sudah terlindungi perisai.
  2. Faktor Ekonomi dan Harga
    Ini mungkin faktor yang paling penting. Pada masa Republik Romawi awal, setiap warga negara diwajibkan untuk membayar dan menyediakan perlengkapan mereka sendiri. Bayangkan kalau kalian adalah pemuda yang anggarannya pas-pasan. Uang yang bisa dihemat dari nggak beli satu greave perunggu bisa dipakai buat upgrade perlengkapan lain yang lebih krusial, kayak helm yang lebih bagus atau baju besi badan. Lama-kelamaan, orang sadar kalau cedera di kaki kanan yang nggak terlindungi itu jarang banget terjadi, jadi makin banyak yang milih buat beli satu saja.
  3. Pengurangan Beban (Weight Reduction)
    Meskipun kelihatannya sepele, berat itu ngaruh banget. Satu buah greave beratnya bisa sekitar 1 sampai 1,5 kg. Kalau dibandingin sama total berat armor, memang kecil. Tapi bagi tentara yang harus marching jarak jauh, mengurangi beban sekecil apapun itu sangat berarti. Lebih baik bawa makanan atau air tambahan daripada bawa lempengan logam yang jarang berguna. Seiring ekspansi kekaisaran, jarak tempuh makin jauh, jadi legiuner harus makin ekonomis soal beban yang mereka gendong.
  4. Faktor Gaya dan Tradisi (Fashion)
    Manusia itu makhluk sosial yang suka ikut-ikutan tren, dan tentara juga nggak beda. Awalnya mungkin karena alasan praktis dan hemat, tapi lama-kelamaan, pakai satu greave jadi gaya yang “kekinian” alias cool di kalangan prajurit. Mereka yang sebenarnya mampu beli sepasang mungkin memilih buat nggak beli supaya nggak kelihatan aneh atau dianggap nggak gaul. Pakai dua pelindung kaki memang nggak sepenuhnya hilang, tapi jadi sangat jarang di kalangan infanteri berat.

Beberapa abad kemudian, legiun Romawi mengalami reformasi lagi menjadi tentara profesional yang dibiayai negara. Di masa ini, greaves malah bukan lagi perlengkapan standar yang dikasih negara. Meskipun legiuner boleh beli sendiri, kayaknya jarang banget yang pakai, kecuali para perwira seperti Centurion. Justru yang mulai populer adalah manica, pelindung lengan berlapis untuk tangan kanan yang sering terekspos saat menusuk pedang.

Menariknya, di akhir sejarah Romawi (abad ke-3 dan 4 Masehi), greaves sempat comeback. Ini terjadi berbarengan dengan kembalinya penggunaan perisai bulat dan tombak, yang sepertinya ngebawa siklus taktik perang kembali ke gaya lama. Selain itu, material greaves juga berubah dari perunggu ke besi seiring harganya yang makin terjangkau, meskipun besi punya kelemahan gampang karatan dan butuh perawatan ekstra dibanding perunggu.

Jadi, bisa kita simpulkan kalau evolusi armor itu nggak cuma soal teknologi, tapi juga soal adaptasi taktik, kondisi ekonomi prajurit, dan kenyamanan di lapangan. Perubahan dari dua pelindung kaki menjadi satu, lalu hilang sama sekali, dan muncul lagi, nunjukin betapa dinamisnya inovasi militer Romawi dalam merespons kebutuhan perang. Kalau kalian perhatikan film atau museum lagi nanti, coba cek detail kakinya, pasti bakal lebih paham konteksnya.

Oke rekan-rekanita, itulah ulasan mendalam kenapa tentara Romawi punya gaya armor kaki yang unik. Terimakasih sudah membaca sampai akhir, semoga nambah wawasan sejarah militer kalian hari ini. Sampai jumpa di artikel berikutnya!

Terbaru

  • Kenapa Tentara Romawi Hanya Pakai Armor Kaki Saja?
  • Inilah Alasan Kenapa Beli Follower IG itu TIDAK AMAN!
  • EPIK! Kisah Mesin Bor Tercanggih Takluk di Proyek Terowongan Zojila Himalaya
  • Bingung Cari Lokasi Seseorang? Cek Cara Melacak Pemilik Nomor HP Tanpa Bayar Ini, Dijamin Akurat!
  • Apa itu Logis? Kenapa Logika Bisa Berbeda-beda?
  • Ini Alasan Kenapa Fitur Bing AI Sedang Trending dan Dicari Banyak Orang
  • Sejarah Kerajaan Champa: Bangsa Yang Hilang Tanpa Perang Besar, Kok Bisa?
  • Gini Caranya Dapat Weekly Diamond Pass Gratis di Event M7 Pesta, Ternyata Nggak Pake Modal!
  • Inilah Trik Rahasia Panen Token dan Skin Gratis di Event Pesta Cuan M7 Mobile Legends!
  • Apakah Apk Pinjaman Cepat Galaxy Pinjol Penipu?
  • Cara Tarik Saldo APK Game Clear Blast
  • Apakah APK Game Clear Blast Penipu? Ini Reviewnya
  • Inilah Perbedaan SEO dan GEO + Tips Konten Disukai Google dan AI!
  • Inilah Cara Download Video TikTok 2026 Tanpa Watermark
  • Belum Tahu? Ini Trik Nonton Doods Pro Bebas Iklan dan Cara Downloadnya
  • Misteri DNA Spanyol Terungkap: Jauh Lebih Tua dari Romawi dan Moor!
  • Kenapa Belut Listrik itu Sangat Mematikan
  • Apa itu Tesso Nilo dan Kronologi Konflik Taman Nasional
  • Inilah 4 Keunikan Sulawesi Tengah: Kota Emas Gaib, Situs Purba dll
  • Kepulauan Heard dan McDonald: Pulau Paling Terpencil Milik Australia
  • Ghost Farm Janjikan Rp 3 Juta Cuma-Cuma, Beneran Membayar atau Scam? Ini Buktinya!
  • Apakah UIPinjam Pinjol Penipu? Cek Reviewnya Dulu Disini
  • Pengajuan Samir Sering Ditolak? Ternyata Ini Penyebab Tersembunyi dan Trik Supaya Langsung ACC
  • Lagi Viral! Ini Cara WD Fortes Cue ke DANA, Benaran Membayar atau Cuma Angin Lalu?
  • Bingung Pilih Paket? Inilah Perbedaan Telkomsel Data dan Telkomsel Data Flash yang Wajib Kalian Tahu!
  • Ini Alasan Pohon adalah Mahluk Hidup Terbesar di Dunia
  • Sempat Panas! Kronologi Perseteruan Cak Ji vs Madas di Surabaya, Gini Endingnya
  • Gila! Norwegia Bikin Terowongan Melayang di Bawah Laut
  • Cuma Terpisah 20 Mil, Kenapa Hewan di Bali dan Lombok Beda Total? Ternyata Ini Alasannya
  • Heboh Video Umari Viral 7 Menit 11 Detik dari Pakistan, Isinya Beneran Ada atau Cuma Jebakan Link? Cek Faktanya!
  • Tailwind’s Revenue Down 80%: Is AI Killing Open Source?
  • Building Open Cloud with Apache CloudStack
  • TOP 1% AI Coding: 5 Practical Techniques to Code Like a Pro
  • Why Your Self-Hosted n8n Instance Might Be a Ticking Time Bomb
  • CES 2026: Real Botics Wants to Be Your Best Friend, but at $95k, Are They Worth the Hype?
  • Begini Cara Menggabungkan LLM, RAG, dan AI Agent untuk Membuat Sistem Cerdas
  • Cara Buat Sistem Moderasi Konten Cerdas dengan GPT-OSS-Safeguard
  • Inilah Cara Membuat Aplikasi Web Full-Stack Tanpa Coding dengan Manus 1.5
  • Inilah Cara Melatih AI Agent Agar Bisa Belajar Sendiri Menggunakan Microsoft Agent Lightning
  • Tutorial Optimasi LangGraph dengan Node-Level Caching untuk Performa Lebih Cepat
  • Apa itu Grubhub Crypto Scam? Ini Pengertian dan Kronologi Penipuan yang Catut Nama Grubhub
  • Apa Itu CVE-2025-59374? Mengenal Celah Keamanan ASUS Live Update yang Viral Lagi
  • Apa itu RansomHouse Mario? Ini Pengertian dan Mengenal Versi Baru ‘Mario’ yang Makin Bahaya
  • Inilah Risiko Fatal yang Mengintai Kreator OnlyFans, Dari Doxxing sampai Penipuan!
  • Apa itu Kerentanan FortiCloud SSO? Ini Pengertian dan Bahayanya
Beli Pemotong Rumput dengan Baterai IRONHOOF 588V Mesin Potong Rumput 88V disini https://s.shopee.co.id/70DBGTHtuJ
Beli Morning Star Kursi Gaming/Kantor disini: https://s.shopee.co.id/805iTUOPRV

©2026 emka.web.id | Design: Newspaperly WordPress Theme