Pernah nggak kalian membayangkan ada monumen yang jauh lebih tua dari Piramida Mesir tapi punya teknologi astronomi yang bikin geleng-geleng kepala? Newgrange di Irlandia adalah jawabannya. Situs ini bukan sekadar tumpukan batu, tapi sebuah mahakarya yang ngebuat kita bertanya-tanya soal asal-usul pengetahuan manusia purba. Yuk, kita bedah bareng-bareng!
Terletak di Lembah Sungai Boyne (Boone River Valley), sekitar 30 mil di utara Dublin, Irlandia, terdapat sebuah situs arkeologi yang luar biasa. Di sinilah reruntuhan Newgrange berada. Monumen ini dibangun sekitar tahun 3150 SM. Kalau kalian hitung-hitung, itu berarti usianya sudah lebih dari 5.000 tahun! Newgrange dianggap sebagai monumen terpenting di Irlandia, baik dari sisi mitos maupun sejarahnya.
Yang bikin takjub, situs ini ngebangun oleh komunitas petani dan astronom yang tinggal di lembah tersebut. Mereka nggak cuma bertani, tapi berhasil mengabadikan keyakinan spiritual dan ilmiah mereka dalam bentuk monumen batu raksasa. Rasanya sulit dipercaya kalau orang zaman dulu bisa ngebikin struktur sekompleks ini. Bayangkan saja, konstruksinya menggunakan lebih dari 200.000 ton batu. Hebatnya lagi, batu-batu ini diambil dari lokasi tambang yang jaraknya 75 mil atau sekitar 120 kilometer. Tanpa truk atau crane, mereka berhasil memindahkan beban seberat itu.
Newgrange dikenal sebagai “passage tomb” atau makam lorong karena gundukan tanah raksasa ini memiliki satu lorong panjang yang mengarah ke ruang tengah. Di ruang inilah fragmen tulang manusia ditemukan. Ruang tengah ini punya desain langit-langit corbel yang sangat masif. Desain ini jenius banget karena berhasil ngebuat ruangan tersebut tetap kering—benar-benar kering kerontang—selama 5.000 tahun. Padahal Irlandia itu kan sering hujan, tapi konstruksi mereka mampu menahan rembesan air selama ribuan tahun.
Di ujung ruangan, lorong ini terbuka ke tiga ceruk, dan di setiap ceruk terdapat batu cekungan yang sangat besar. Di cekungan-cekungan inilah sisa-sisa jenazah orang mati diletakkan. Tapi, hal yang paling menakjubkan dari Newgrange bukan cuma soal kuburannya, melainkan apa yang mereka lakukan dengan batu-batu raksasa itu terhadap cahaya matahari.
Mereka mendesain lubang di ruangan tersebut agar bisa menerima sinar matahari tepat pada fajar titik balik matahari musim dingin atau winter solstice. Faktanya, ruang utama struktur ini tetap gelap gulita sepanjang tahun, kecuali pada satu hari saat winter solstice. Saat matahari terbit, sinarnya menerangi lorong sepanjang 60 kaki dan masuk ke ruang tengah hanya selama 17 menit. Momen 17 menit ini sepertinya sangat sakral bagi mereka.
Masyarakat kuno ini memandang “dunia lain” itu berada di antara bintang-bintang. Mereka percaya bahwa dengan menempatkan tulang kerabat mereka di ruangan tersebut, jiwa-jiwa orang mati akan dibawa ke dunia lain saat fajar winter solstice tiba. Cahaya matahari yang masuk itu kuranglebihnya dianggap menarik roh keluar menuju alam baka.
Tata letak makam ini juga sangat luar biasa. Banyak peneliti yang ngebandingin denah lantainya dan percaya bahwa pencapaian ini hanya mungkin dilakukan dengan pengetahuan canggih tentang rasi bintang. Lorong dan ruangannya berbentuk salib, yang didasarkan pada bentuk konstelasi Cygnus, atau rasi bintang Angsa di langit. Cygnus adalah salah satu konstelasi terpenting bagi orang-orang kuno. Kita mungkin lebih mengenalnya sebagai Salib Utara (Northern Cross).
Kumpulan bintang ini seolah menandai tempat di mana Bimasakti terpecah menjadi dua. Secara universal, bagi masyarakat prasejarah di seluruh dunia, titik di langit ini—yang dikenal sebagai Cygnus Rift—dilihat sebagai pintu masuk dan keluar menuju semacam dunia langit. Kita menyebutnya surga hari ini. Dan titik itu dilihat sebagai titik penciptaan kosmik.
Di sinilah muncul pertanyaan besar yang sering diperdebatkan. Mungkinkah orang-orang kuno di Newgrange menerima pengetahuan tentang tata surya kita dan galaksi jauh dari sumber lain yang lebih “dunia lain”? Teori astronot kuno percaya akan hal ini. Mungkinkah para pembangun kuno ini sengaja meninggalkan kode bagi peradaban masa depan—yaitu kita—untuk dipecahkan? Jika iya, apa yang sebenarnya ingin mereka sampaikan kepada kita?
Mereka adalah ahli astronomi sekaligus ahli bangunan. Bagaimana mereka bisa memiliki kedua keahlian itu sekaligus rasanya sangat aneh dan ajaib (uncanny), karena mereka seharusnya melakukan semua ini tanpa peralatan dan instrumen berteknologi tinggi. Tapi jelas, mereka melihat ke langit dan mencoba meniru langit. Ketika kita melihat orang-orang kuno itu sendiri dan bertanya mengapa mereka melakukannya, jawaban mereka cukup lugas. Jawabannya sederhana: karena ini berkaitan dengan para dewa dan untuk mengetahui kapan para dewa akan datang di masa depan. Kayaknya, mereka sedang mempersiapkan landasan pendaratan atau setidaknya sinyal komunikasi dengan “mereka” yang ada di atas sana.
Kombinasi antara arsitektur batu yang tahan ribuan tahun dan presisi astronomi yang akurat ini ngebuat Newgrange jadi bukti bahwa nenek moyang manusia jauh lebih cerdas dari yang kita duga. Atau mungkin, mereka memang dapat “bocoran” dari langit. Siapa yang tahu?
Baiklah rekan-rekanita, itulah ulasan mendalam kita tentang misteri Newgrange. Semoga artikel ini bisa menambah wawasan kalian tentang sejarah peradaban manusia yang penuh teka-teki. Terimakasih sudah membaca sampai akhir.