Kabar yang cukup mengejutkan datang lagi dari dunia penerbangan tanah air kita. Rasanya baru sebentar kita menikmati ketenangan, tiba-tiba ada berita kalau pesawat ATR 42-500 milik PT Indonesia Air Transport (IAT) dilaporkan hilang kontak. Kejadian ini berlangsung saat pesawat tersebut sedang dalam perjalanan dari Yogyakarta menuju Makassar pada hari Sabtu (17/1). Tentu saja, insiden kayak gini ngebikin kita semua khawatir, apalagi di dalamnya ada pejabat penting dari KKP. Yuk, kita bedah informasinya lebih dalam.
Kejadian ini bermula ketika pesawat tersebut dijadwalkan terbang dari Yogyakarta dan seharusnya mendarat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar. Namun, bukannya mendarat dengan mulus, pesawat ini malah kehilangan kontak. Berdasarkan data yang kami himpun, posisi terakhir pesawat terdeteksi berada di sekitar wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Kalau kalian melihat peta, lokasi tepatnya ada di koordinat 04°57’08” LS-119°42’54” BT. Daerah ini dikenal sebagai kawasan Leang-Leang. Buat yang belum tahu, kawasan Leang-Leang itu konturnya cukup menantang karena merupakan daerah perbukitan karst. Hal ini tentu ngebuat proses pencarian jadi tantangan tersendiri bagi tim SAR.
Hal yang bikin situasi ini makin menegangkan adalah manifes penumpangnya. Pesawat ini nggak cuma membawa kru pesawat, tapi juga membawa tiga orang penumpang yang ternyata adalah pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Staf Khusus Menteri KP Bidang Humas dan Komunikasi Media, Doni Ismanto, sudah ngasih konfirmasi terkait hal ini. Beliau bilang, “Pax-nya orang KKP,” saat dikonfirmasi oleh media. Ini menandakan bahwa penerbangan ini kemungkinan besar berkaitan dengan tugas kedinasan atau operasional penting yang melibatkan sinergi antara maskapai dan kementerian tersebut.

Selain penumpang dari KKP, sorotan utama juga tertuju pada sosok yang menerbangkan pesawat ini. Pilot yang bertugas, Capt Andy Dahananto, bukanlah orang sembarangan. Beliau adalah Direktur Operasi PT IAT itu sendiri. Jabatan sestrategis itu sudah diembannya sejak 19 Juni 2019. Kalau dilihat dari rekam jejaknya, Capt Andy adalah pilot senior kelahiran 1967 yang merupakan lulusan Juanda Flying School tahun 1987. Karirnya di dunia penerbangan sudah sangat panjang, dimulai sejak tahun 1988 sebagai Pilot Fix Wing di perusahaan tersebut hingga saat ini. Keahlian dan pengalaman beliau yang segudang ini sepertinya menjadi alasan kenapa beliau dipercaya menerbangkan rute ini. Namun, takdir berkata lain saat kontak radio terputus.
Merespons situasi darurat ini, pihak berwenang nggak tinggal diam. Kepala Bidang Operasi SAR Basarnas Makassar, Andi Sultan, langsung bergerak cepat. Mereka nggak mau ambil risiko dengan waktu. Basarnas Makassar langsung menurunkan kekuatan penuh untuk menyisir lokasi. Kurang lebih ada sebanyak 60 personel yang terdiri dari tim Basarnas dan potensi SAR lainnya dikerahkan ke titik koordinat terakhir. Istilah “potensi SAR” ini mencakup relawan, warga lokal, atau instansi lain yang punya kemampuan membantu pencarian. Langkah cepat ini diambil karena laporan dari AirNav sudah sangat spesifik menunjuk ke daerah Leang-Leang.
Mobilisasi personel sebanyak itu menunjukkan betapa seriusnya insiden ini. Tim SAR harus berpacu dengan waktu dan mungkin juga cuaca atau kondisi medan yang sulit di Maros. Kita tahu sendiri, operasi pencarian di darat, apalagi di area yang mungkin berbukit atau hutan, butuh koordinasi yang sangat ketat. Mereka harus menyisir area berdasarkan data koordinat yang dilaporkan AirNav tadi. Sinergi antara data teknis dari menara pengawas dan eksekusi lapangan oleh Basarnas menjadi kunci utama dalam misi penyelamatan ini.
Sementara itu, di sisi manajemen dan pemerintahan, koordinasi juga terus dilakukan. Pihak KKP bersama manajemen IAT dijadwalkan menggelar konferensi pers di Gedung KKP pada malam harinya pukul 19.30 WIB. Langkah ini diambil untuk ngasih informasi yang valid dan satu pintu kepada masyarakat dan keluarga korban, supaya nggak simpang siur. Transparansi kayak gini sangat penting di tengah situasi krisis, supaya spekulasi liar nggak berkembang di masyarakat.
Kami melihat kejadian ini sebagai pengingat keras tentang risiko dalam dunia penerbangan, bahkan ketika pesawat diawaki oleh pilot yang sangat senior sekalipun. Investigasi nantinya pasti akan sangat kompleks, apakah ini murni masalah teknis pesawat ATR 42-500, faktor cuaca di sekitar Maros, atau hal lainnya. Namun, fokus utama saat ini tentu saja adalah ditemukannya pesawat dan seluruh awak serta penumpangnya. Doa kita bersama tentu agar ada kabar baik dari tim SAR yang sedang berjuang di lapangan.
Dari insiden hilangnya kontak pesawat IAT ini, kita bisa belajar bahwa kesiapan tanggap darurat adalah hal yang vital. Respons cepat Basarnas yang langsung menerjunkan 60 personel patut kita apresiasi. Namun, kita juga harus menunggu hasil resmi dan fakta-fakta yang nanti akan diungkap dalam konferensi pers maupun investigasi KNKT ke depannya. Bagi rekan-rekanita yang mengikuti berita ini, mari kita doakan yang terbaik bagi keselamatan Capt Andy, kru, dan rekan-rekan dari KKP. Jangan lupa untuk selalu memantau informasi dari sumber resmi dan tidak menyebarkan hoaks. Terima kasih sudah membaca update ini, semoga keselamatan selalu menyertai kita semua dalam setiap perjalanan.