Kalian pasti sempat dengar kabar yang lumayan bikin geger timeline belakangan ini, kan? Itu lho, soal Wakil Walikota Surabaya, Armuji atau yang akrab kita panggil Cak Ji, yang tiba-tiba dilaporkan oleh ormas Madas (Madura Asli) ke Polda Jatim. Isunya nggak main-main, mulai dari pelanggaran UU ITE sampai tuduhan provokasi. Wah, rasanya ngeri sedap kalau pejabat publik udah berhadapan sama ormas begini. Tapi, benarkah situasinya separah itu atau cuma salah paham aja? Simak ulasan lengkapnya di sini.
Dalam episode Good News from Madura kali ini, Tretan Muslim dan Fuad Sasmita ngebuka obrolan dengan santai, ngebahas fenomena unik orang tidur di pasir alias “Sandman” di Sumenep. Tapi, topik utamanya jelas bukan itu. Fokus kita langsung tertuju pada konflik yang lagi happening banget di Surabaya. Cak Ji dilaporkan karena dianggap memfitnah dan ngebuat kegaduhan. Pihak Madas merasa tersinggung karena dalam salah satu videonya, Cak Ji menyebut nama ormas mereka terkait tindakan pengusiran atau masalah sengketa lahan seorang nenek bernama Erlina.
Masalah ini bermula dari sengketa lahan dan upaya “penertiban” yang dilakukan pihak tertentu terhadap rumah Nenek Erlina. Di lapangan, ada sosok bernama Yasin yang terekam kamera dan secara verbal mengaku berasal dari Madas saat ditanya. Video inilah yang kemudian dikontenkan oleh Cak Ji. Karena hal itu, Madas merasa nama baiknya dicemarkan. Mereka ngeklaim kalau tindakan Cak Ji itu melanggar UU ITE dan memicu aksi premanisme berupa perusakan kantor mereka oleh massa yang mengatasnamakan Arek Suroboyo.
Namun, kalau kita telisik lebih dalam dari klarifikasi yang muncul, ternyata ada miskomunikasi yang cukup fatal di sini. Berikut adalah poin-poin penting dari klarifikasi Ketua Madas yang perlu kalian tahu:
- Status Keanggotaan Yasin
Ketua Madas menjelaskan bahwa oknum bernama Yasin dalam video tersebut bertindak bukan atas nama organisasi. Meskipun Yasin mungkin anggota, saat kejadian itu dia berangkat bersama tim pengacara dari pihak yang bersengketa lahan, bukan atas perintah organisasi Madas. - Timeline Kejadian
Pihak Madas mengklarifikasi bahwa kejadian pengusiran atau sengketa itu terjadi jauh sebelum ketua umum yang sekarang menjabat. Jadi, rasanya kurang adil kalau organisasi yang sekarang harus nanggung beban kesalahan masa lalu tanpa konfirmasi dulu. - Tindakan Pribadi vs Organisasi
Mereka menegaskan bahwa Madas itu bukan ormas yang suka gerebek-gerebek atau main aksi premanisme. Ketua Madas menyayangkan kenapa Cak Ji nggak ngasih konfirmasi dulu ke pengurus sebelum nge-upload konten yang nyebut merek organisasi mereka.
Nah, di sinilah Tretan Muslim ngasih pandangan yang cukup logis. Menurutnya, kalau memang tujuannya mau membersihkan nama baik, langkah melaporkan Wakil Walikota ke polisi itu kayaknya kurang tepat. Malah, hal itu bisa ngebikin situasi makin keruh. Bayangin aja, Cak Ji ini kan dianggap “Bapaknya Arek-Arek Suroboyo”. Kalau beliau diserang secara hukum, yang ditakutkan adalah reaksi balik dari warga Surabaya yang justru bisa memicu konflik horizontal antara Arek Suroboyo dan warga Madura di sana. Padahal kita semua tahu, Surabaya dan Madura itu tetangga dekat yang harusnya akur.
Tretan menyarankan, harusnya Madas berkolaborasi aja sama Cak Ji. Misalnya, bikin konten bareng atau klarifikasi bareng yang nunjukin kalau Yasin itu oknum dan tidak mewakili Madas secara institusi. Cara pendekatan persuasif kayak gini biasanya lebih ampuh buat ngebangun ulang citra positif daripada konfrontasi hukum yang ngabisin energi.
Plot twist-nya ada di akhir pembahasan ini. Tretan Muslim, dengan gaya khasnya, langsung nelpon Cak Ji buat nanya kabar dan konfirmasi langsung soal laporan tersebut. Dan tahukah kalian? Jawabannya beneran good news. Cak Ji dengan santai bilang kalau masalahnya “wis mari” alias sudah selesai. Laporannya sudah dicabut dan pihak pelapor sudah minta maaf. Ternyata, ini cuma masalah miskomunikasi yang bisa diselesaikan dengan kepala dingin. Cak Ji juga menegaskan bahwa beliau nggak punya niat jelek, murni hanya ingin membela warganya yang jadi korban sengketa lahan.
Jadi, ketegangan yang sempat viral itu akhirnya mereda. Pelajaran pentingnya adalah tabayyun atau konfirmasi itu penting banget sebelum ngambil tindakan hukum atau koar-koar di media sosial. Untungnya, kedua belah pihak bisa berjiwa besar. Cak Ji tetap fokus kerja, dan Madas bisa kembali fokus pada kegiatan organisasinya tanpa harus bermusuhan dengan pemerintah kota. Situasi Surabaya pun tetap kondusif, nggak seperti yang dikhawatirkan banyak orang bakal rusuh atau gimana.
Buat kita semua, kejadian ini ngasih pelajaran berharga banget. Di era digital kayak sekarang, informasi itu cepet banget nyebar dan seringkali nggak utuh. Potongan video bisa ngebikin persepsi yang salah. Sebagai netizen, kita jangan gampang terpancing emosi kalau ada isu SARA atau konflik antargolongan. Sebaiknya kita tunggu klarifikasi lengkap dari kedua belah pihak. Dan buat organisasi manapun, menjaga nama baik itu memang susah, tapi cara ngejaganya juga harus elegan, jangan dikit-dikit lapor polisi kalau masih bisa dibicarakan baik-baik.
Oke rekan-rekanita, terimakasih sudah membaca ulasan panjang lebar ini. Semoga suasana adem ayem di Surabaya ini bisa nular ke daerah lain dan kita semua bisa lebih bijak menyikapi berita viral. Sampai jumpa di artikel selanjutnya!