Kabar kurang mengenakkan kembali terdengar dari dunia penerbangan Tanah Air yang rasanya bikin kita semua was-was. Sebuah pesawat dikabarkan hilang kontak di wilayah Sulawesi Selatan, tepatnya di sekitar Kabupaten Maros. Informasi ini langsung menyebar cepat, apalagi ditambah dengan kesaksian warga yang mendengar suara ledakan. Kalian pasti penasaran dengan detail kejadiannya, kan? Yuk, kita bedah fakta-fakta teknis dan kronologisnya biar nggak simpang siur informasinya.
Pertama-tama, kita perlu meluruskan informasi mengenai jenis pesawat yang terlibat. Awalnya, banyak beredar kabar kalau pesawat yang hilang ini berjenis ATR 400. Namun, berdasarkan keterangan resmi yang kami himpun dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, pesawat tersebut sebenarnya adalah ATR 42-500. Ini bukan detail sepele, karena spesifikasi pesawat sangat menentukan dalam analisis teknis nantinya. Dirjen Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa, sudah ngasih konfirmasi kalau pesawat dengan registrasi PK-THT ini dioperasikan oleh Indonesia Air Transport (IAT), yang memegang AOC 034. Jadi, buat kalian yang sempat bingung soal tipe pesawatnya, sekarang sudah jelas ya, ini adalah varian ATR 42-500 buatan tahun 2000 dengan nomor seri 611.
Pesawat ini sedang melakukan perjalanan lintas pulau yang cukup panjang. Diketahui, pesawat tersebut lepas landas dari Bandara Adisutjipto Yogyakarta (JOG) dengan tujuan akhir Bandara Sultan Hasanuddin Makassar (UPG). Di dalam kokpit, penerbangan ini dipimpin oleh Pilot in Command Capt. Andy Dahananto. Kalau kita lihat dari manifest yang ada, pesawat ini nggak membawa penumpang komersial dalam jumlah besar layaknya penerbangan reguler biasa. Total ada 10 orang di dalamnya, yang terdiri dari 7 kru dan hanya 3 penumpang. Sebelum kejadian ini, situs pelacak penerbangan Flight Radar 24 mencatat kalau pesawat yang sama sempat sibuk terbang pada hari Jumat sebelumnya, melayani rute Bandung ke Semarang, lalu lanjut dari Semarang ke Yogyakarta. Jadi, secara operasional, pesawat ini memang aktif bergerak sebelum insiden terjadi.
Kejadian kritis bermula pada hari Sabtu, ketika pesawat dilaporkan hilang kontak atau loss contact. Waktu kejadian diperkirakan sekitar pukul 13.17 WITA. Saat itu, posisi terakhir pesawat terdeteksi radar berada di wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Kalau dilihat dari titik koordinatnya, yaitu 04°57’08” LS-119°42’54” BT, lokasi ini memang berada di area yang cukup menantang secara geografis. Hal ini tentu ngebuat proses pemantauan awal menjadi sangat krusial. Begitu sinyal hilang, Basarnas langsung bergerak cepat dengan menurunkan sekitar 60 personel gabungan, termasuk potensi SAR lainnya, untuk menyisir lokasi yang diduga menjadi titik hilangnya pesawat tersebut.
Yang bikin situasi makin tegang adalah laporan dari masyarakat setempat. Sepertinya, hilangnya kontak pesawat ini beriringan dengan fenomena fisik yang disaksikan warga. Beberapa warga di Kabupaten Maros mengaku mendengar suara dentuman keras yang diduga ledakan. Informasi ini datang dari kawasan perbukitan di dekat tempat wisata Leang-Leang. Salah satu warga bernama Daeng Bahar sempat ngomong kalau dia mendengar dentuman itu berasal dari arah Gunung Lapihau atau yang dikenal juga sebagai Gunung Bulusaraung. Nggak cuma suara, visual pun mulai terlihat. Beberapa warga melaporkan melihat kepulan asap, bahkan ada foto yang beredar di kalangan warga memperlihatkan nyala api di kawasan pegunungan tersebut. Kesaksian ini tentu menjadi petunjuk awal yang sangat berharga bagi tim SAR gabungan.
Merespons laporan warga yang cukup mengkhawatirkan itu, pihak militer langsung turun tangan dengan kekuatan penuh. Pangdam XIV Hasanuddin, Mayjen TNI Bangun Nawoko, menjelaskan bahwa pihaknya telah menerjunkan alutsista canggih untuk memverifikasi laporan tersebut. Sebuah helikopter Caracal milik TNI AU dikerahkan untuk melakukan pantauan udara. Hasilnya ternyata cukup mengejutkan dan seolah mengonfirmasi kekhawatiran kita semua. Tim yang berada di helikopter Caracal berhasil memonitor adanya titik api di daerah pegunungan Leang-Leang. Temuan titik api dari udara ini klop alias match dengan laporan warga yang mendengar ledakan dan melihat asap.
Meskipun bukti visual berupa titik api dan laporan suara ledakan sudah ada, Mayjen Bangun Nawoko masih sangat berhati-hati dalam memberikan pernyataan. Beliau enggan berspekulasi terlalu dini untuk langsung menyimpulkan bahwa titik api itu adalah bangkai pesawat ATR 42-500 yang dicari, meskipun indikasinya sangat kuat. Rasanya memang lebih bijak menunggu konfirmasi fisik dari jarak dekat. Saat ini, tantangan terbesar di lapangan adalah cuaca. Kondisi cuaca yang kurang bersahabat sempat menghalangi pandangan dan ngebikin proses pemantauan udara jadi agak terhambat. Kita semua tahu, medan pegunungan ditambah cuaca buruk adalah kombinasi yang sangat menyulitkan bagi tim penyelamat.
Untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi di titik api tersebut, operasi pencarian nggak cuma mengandalkan pantauan udara. Strategi “kepung” dilakukan dengan menggerakkan tim darat secara masif. Pasukan dari jajaran Kodam XIV Hasanuddin, Paskhas (sekarang Kopasgat), hingga satuan Kostrad sudah bergerak menembus medan untuk menuju lokasi yang dicurigai. Sinergi antara pantauan udara helikopter Caracal dan pergerakan pasukan darat ini diharapkan bisa segera ngasih jawaban pasti mengenai nasib 10 orang yang berada di dalam pesawat PK-THT tersebut. Upaya cross-check antara data radar, visual udara, dan temuan darat terus dilakukan secara intensif.
Dari segala rangkaian informasi yang ada, kita bisa melihat bahwa insiden ini ditangani dengan sangat serius oleh berbagai pihak. Mulai dari Kemenhub yang memberikan data teknis pesawat, Basarnas yang mengelola operasi SAR, hingga TNI yang mengerahkan alutsista dan personelnya. Koordinasi lintas sektoral ini sangat penting untuk mempercepat proses evakuasi jika lokasi jatuhnya pesawat sudah benar-benar terkonfirmasi secara fisik. Kita tentu berharap proses pencarian ini bisa berjalan lancar meskipun medannya sulit dan cuacanya lagi nggak menentu.
Kejadian hilangnya kontak pesawat Indonesia Air Transport jenis ATR 42-500 ini memang meninggalkan duka dan kecemasan mendalam. Indikasi ditemukannya titik api di Gunung Lapihau serta kesaksian warga tentang suara ledakan memperkuat dugaan lokasi jatuhnya pesawat. Namun, kita tetap harus menunggu konfirmasi resmi dari tim gabungan yang saat ini sedang berjuang menembus medan sulit menuju lokasi. Mari kita doakan yang terbaik untuk keselamatan tim SAR dan semoga segera ada kejelasan nasib para kru serta penumpang. Buat rekan-rekanita sekalian, terima kasih sudah menyimak update ini dan mari kita terus pantau perkembangannya.