Pernah nggak kalian kepikiran kenapa posisi orang di sekitar kita itu beda-beda? Ternyata, susunan masyarakat kita itu nggak terbentuk secara asal-asalan. Kami akan mengajak kalian membedah konsep Sibrani dalam materi PPKn Kelas IX Kurikulum Merdeka yang ngejelasin gimana sebenarnya pembagian sosial itu terjadi di lingkungan kita sehari-hari.
Dalam kehidupan bermasyarakat, kita semua sadar kalau mereka—yaitu orang-orang di sekitar kita—terikat dalam aturan dan peran yang unik. Rasanya sangat penting bagi kita untuk memahami bahwa setiap individu nggak hidup sendirian, melainkan dalam sebuah tatanan yang sudah terpola. Salah satu rujukan yang sering dibahas dalam dunia pendidikan, khususnya pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) kelas IX Kurikulum Merdeka, adalah pemikiran dari Sibrani. Beliau memetakan masyarakat melalui tiga ciri utama yang sangat mendasar.
Menurut pandangan Sibrani, struktur masyarakat itu sepertinya nggak muncul begitu saja karena kebetulan. Ada semacam pola teknis yang ngebentuk kenapa seseorang bisa punya pengaruh gede, sementara yang lain mungkin perannya lebih ke arah pendukung. Pola inilah yang kemudian kita sebut sebagai karakteristik pembagian sosial. Pembagian ini muncul dari berbagai faktor yang kompleks, mulai dari urusan kekuasaan sampai masalah tempat tinggal. Dengan memahami hal ini, kalian bakal sadar kalau perbedaan di masyarakat itu sebenarnya adalah hasil dari proses sosial yang sudah berjalan sangat lama. Mari kita bedah satu per satu langkah atau karakteristik tersebut agar kalian lebih paham secara mendalam.
- Kedudukan dan Kekuasaan dalam Struktur Vertikal
Langkah pertama untuk memahami pembagian masyarakat adalah dengan melihat tingkat kekuasaan yang dimiliki seseorang. Dalam setiap kelompok masyarakat, pasti ada individu yang punya wewenang lebih tinggi dibanding yang lain. Mereka ini biasanya adalah para pemimpin, tokoh masyarakat, atau pejabat publik yang punya hak buat mengambil keputusan penting. Kedudukan ini nggak cuma soal jabatan formal, tapi juga soal pengaruh. Orang yang punya kekuasaan biasanya bertugas ngebikin kebijakan atau menjaga ketertiban supaya kehidupan bersama tetap jalan dengan baik. Sebaliknya, ada kelompok lain yang posisinya berada di bawah struktur kekuasaan tersebut. Hal inilah yang pada akhirnya ngebangun sebuah hierarki sosial. Perbedaan kedudukan ini sering kali ngebuat cara orang berinteraksi jadi berbeda, tergantung siapa yang mereka ajak ngomong atau siapa yang sedang memimpin. - Hubungan Kekerabatan dan Garis Keturunan
Faktor kedua yang nggak kalah krusial adalah ikatan keluarga. Sibrani menekankan kalau hubungan darah dan pernikahan punya pengaruh yang sangat kuat dalam menentukan posisi sosial seseorang. Di banyak kebudayaan di Indonesia, garis keturunan sepertinya masih jadi penentu utama status seseorang di tengah masyarakat. Misalnya saja, mereka yang berasal dari keluarga terpandang atau keturunan bangsawan biasanya otomatis dapat akses yang lebih luas dalam pergaulan sosial maupun ekonomi. Hubungan kekerabatan ini juga ngebentuk jaringan dukungan yang kuat. Kalau kalian punya jaringan keluarga yang solid, rasanya peluang buat naik ke posisi yang lebih tinggi di masyarakat jadi lebih terbuka lebar. Kekerabatan ini bukan cuma soal siapa orang tua kita, tapi juga gimana jaringan keluarga besar itu ngebangun pengaruh kolektif di suatu wilayah. - Letak Wilayah dan Pengaruh Lingkungan Geografis
Karakteristik ketiga yang sering kali terlupakan adalah faktor geografis atau tempat tinggal. Sibrani berargumen kalau lingkungan itu sangat memengaruhi cara hidup dan kebiasaan masyarakatnya. Coba kalian bandingin antara orang yang tinggal di pesisir dengan mereka yang tinggal di pegunungan; pasti mata pencahariannya beda banget, kan? Masyarakat pesisir mungkin lebih banyak yang jadi nelayan, sementara di pegunungan mereka lebih ke arah bercocok tanam. Lingkungan ini nggak cuma nentuin apa yang mereka makan atau kerjakan, tapi juga ngebentuk budaya lokal dan pola interaksi. Di perkotaan yang padat, interaksi sosial mungkin terasa lebih cepat dan individualis, beda sama di pedesaan yang suasananya lebih komunal. Jadi, tempat di mana kita ngeprint sejarah hidup kita—alias tempat tinggal—ternyata ngasih pengaruh besar pada gimana posisi kita di mata masyarakat luas.
Ketiga unsur pembagian menurut Sibrani ini sepertinya nggak berdiri sendiri-sendiri, tapi saling berkaitan erat. Sebagai contoh, seseorang yang punya kekuasaan tinggi kayaknya cenderung juga berasal dari keluarga tertentu yang punya pengaruh, dan tinggal di wilayah yang strategis pula. Begitu juga sebaliknya, letak geografis dan latar belakang keluarga bisa ngebuka jalan buat seseorang dapetin kedudukan penting. Interaksi antara kekuasaan, kekerabatan, dan wilayah inilah yang akhirnya menciptakan keragaman struktur sosial yang kita lihat sekarang.
Memahami konsep pembagian sosial dari Sibrani ini ngasih kita perspektif baru kalau perbedaan itu wajar. Dengan tahu landasan teknisnya, kita nggak bakal mudah ngehakimi orang lain cuma karena perbedaan status. Kita jadi lebih bisa menghargai peran masing-masing individu, karena setiap orang punya porsinya sendiri dalam struktur masyarakat. Pengetahuan ini ngebuat kita lebih sadar akan pentingnya keadilan sosial, supaya meskipun ada pembagian, semua orang tetap dapetin hak yang sama sebagai warga negara. Kuranglebihnya, inilah cara kita melihat dunia sosial dengan lebih jernih dan objektif.
Memahami struktur sosial bukan berarti kita setuju dengan adanya kesenjangan, melainkan agar kita bisa menempatkan diri dengan bijak dalam masyarakat. Rekomendasi kami, mulailah dengan menghargai setiap peran yang ada di sekitar kalian tanpa memandang status atau asal-usulnya. Dengan begitu, harmoni sosial bukan cuma jadi teori di buku sekolah, tapi jadi kenyataan di kehidupan sehari-hari. Mari kita terus belajar untuk ngebangun lingkungan yang lebih inklusif dan saling menghargai satu sama lain.
Terimakasih sudah membaca sampai selesai, rekan-rekanita sekalian. Semoga ulasan ini bermanfaat untuk menambah wawasan kalian tentang materi PPKn dan dinamika sosial di sekitar kita.