Memanfaatkan momentum itu penting banget buat kita para kreator, tapi kalau momentumnya sudah lewat dan kita masih maksa, ujung-ujungnya hasilnya nggak bakal maksimal. Kami ingin berbagi sedikit pengalaman buat kalian yang lagi aktif ngonten di Shopee atau TikTok Affiliate, supaya nggak terjebak dalam euforia musiman yang sebentar lagi bakal berakhir.
Banyak dari mereka yang baru mulai di dunia affiliate berpikir kalau jualan produk Ramadhan itu bisa dilakukan sampai hari H lebaran. Padahal, kenyataannya nggak kayak gitu. Berdasarkan pengalaman kami dan data yang ada, ada titik di mana kita harus berani bilang “stop” buat ngonten produk bertema Ramadhan dan mulai beralih ke strategi selanjutnya.
Berikut adalah langkah-langkah teknis yang bisa kalian terapkan untuk melakukan transisi konten agar komisi tetap mengalir deras:
- Pahami Psikologi Pembeli di Minggu Ketiga dan Keempat Ramadhan
Kalian harus tahu kalau di minggu-minggu terakhir Ramadhan, perilaku pembeli itu berubah drastis. Mereka mulai merasa takut kalau barang yang dibeli nggak sampai tepat waktu sebelum lebaran. Masalah kurir yang overload itu nyata banget, dan pembeli nggak mau ambil risiko baju lebarannya baru sampai pas mereka sudah mudik. Makanya, kalau kalian tetap gencar bikin konten baju koko di minggu terakhir, kemungkinan besar konversinya bakal anjlok karena mereka lebih memilih beli langsung di toko fisik atau mall. - Cek Ketersediaan Stok Seller Secara Berkala
Ini teknis banget, tapi sering dilupakan. Produk-produk fashion Ramadhan kayak baju koko, gamis, atau mukena biasanya punya stok yang terbatas. Menjelang lebaran, banyak seller yang sudah kehabisan stok atau bahkan sudah “close order” untuk pengiriman luar kota. Jangan sampai kalian sudah capek-capek ngebikin video yang bagus, eh pas orang klik link-nya, barangnya sudah habis. Ini rasanya ngebuat kerja keras kalian jadi sia-sia banget, kan? Selalu cek dashboard seller sebelum memutuskan buat bikin konten baru. - Mulai Masuk ke Produk “Irisan” (Intersection Products)
Apa itu produk irisan? Ini adalah produk yang tetap dibutuhkan orang saat lebaran, tapi tetap bakal laku meskipun lebarannya sudah lewat. Kami sangat merekomendasikan kalian buat mulai ngelirik kategori ini. Contohnya kayak karpet. Orang mau lebaran pasti butuh karpet baru biar rumah kelihatan rapi pas ada tamu. Tapi, setelah lebaran pun, karpet tetap jadi kebutuhan rumah tangga yang umum. Produk kayak gini punya masa hidup (lifespan) yang lebih panjang dibanding kurma atau amplop lebaran. - Fokus pada Peralatan Dapur dan Rumah Tangga
Setelah fase baju lebaran lewat, orang biasanya bakal fokus ke masak-masak buat perayaan. Kalian bisa mulai nge-review alat masak kayak panci, kompor induksi, atau wadah penyimpanan makanan. Produk-produk ini sepertinya nggak akan pernah mati gaya. Saat lebaran mereka dipakai buat nyajiin rendang, tapi setelah itu tetap kepakai buat masak harian. Strategi ini ngebuat konten kalian tetap relevan untuk jangka panjang (long-term). - Jangan Lupakan Kategori Skincare dan Personal Care
Siapa sih yang nggak mau tampil glowing pas ketemu keluarga besar? Kategori skincare itu nggak ada matinya. Kalian bisa ngebandingin produk sunscreen atau moisturizer yang cocok dipakai pas lagi mudik atau cuaca panas. Konten kayak gini tetap bisa kalian hubungin dengan tema lebaran, tapi produknya sendiri tetap bakal dicari orang setiap harinya. Ini trik jitu supaya keranjang kuning kalian nggak pernah sepi peminat. - Gunakan Strategi “Recycle” Konten yang Sudah Ada
Kalau kalian punya stok video produk Ramadhan yang banyak tapi belum sempat di-upload, lebih baik upload aja sekarang tanpa harus ngebangun ekspektasi tinggi. Tapi untuk konten baru, kami saranin kalian buat mulai “recycle” atau beralih ke produk umum. Gunakan data dari dashboard Shopee atau TikTok kalian buat ngelihat mana produk non-Ramadhan yang mulai merangkak naik penjualannya. - Optimalkan Fitur Balas Komentar dengan Video
Kalau kalian punya video lama soal kurma atau baju koko yang viral, kemungkinan bakal banyak yang nanya di komentar. Daripada bikin video baru yang khusus ngebahas produk itu, lebih baik kalian balas komentar mereka pakai video pendek. Ini cara yang lebih efektif dan efisien daripada kalian harus ngabisin waktu buat produksi konten yang momentumnya sudah mulai turun. - Mulai Riset untuk Momentum Berikutnya (Contoh: Idul Adha)
Affiliate yang cerdas itu selalu selangkah lebih maju. Kalau Ramadhan sudah mau beres, mereka sudah mikirin apa yang bakal laku di momen berikutnya, misalnya Idul Adha. Mereka bakal mulai nyari seller yang jual alat panggang, pisau daging, atau arang yang praktis. Mempersiapkan konten sebulan atau dua bulan sebelum hari H itu ngebantu algoritma buat ngenalin konten kalian lebih awal.
Intinya, jangan sampai kalian cuma jadi “kreator musiman” yang komisinya cuma meledak di satu bulan saja. Kita harus pintar-pintar membaca situasi pasar dan kondisi ekonomi masyarakat. Rasanya sayang banget kalau akun yang sudah kalian bangun susah payah harus sepi cuma gara-gara salah pilih produk buat dipromosiin. Tetap up-to-date dengan tren yang ada dan jangan pernah berhenti buat eksperimen dengan berbagai kategori produk lainnya.
Kesimpulannya, transisi dari produk Ramadhan ke produk umum itu harus dilakukan secepat mungkin, idealnya di pertengahan bulan puasa. Dengan fokus pada produk-produk rumah tangga, skincare, dan perlengkapan harian lainnya, kalian bisa menjaga stabilitas penghasilan affiliate kalian. Jangan lupa buat selalu ngecek performa di dashboard masing-masing ya, karena data nggak pernah bohong soal apa yang disukai penonton kalian.
Begitulah sedikit tips dari kami buat rekan-rekanita sekalian para pejuang komisi. Semoga strategi transisi ini bisa ngebantu akun kalian tetap gacor dan cuan terus meskipun lebaran sudah lewat. Semangat terus ngontennya dan terima kasih sudah membaca artikel ini sampai habis!