Beberapa waktu belakangan, mungkin kalian juga merasakan udara yang sedikit berbeda di platform YouTube. Bukan hanya satu atau dua nama yang mulai mengambil langkah mundur, tapi beberapa figur besar yang selama ini jadi andalan di dunia hiburan digital. Farida Nurhan yang sudah pamit duluan, kini Bobon Santoso juga mengambil langkah yang sama. Bagi banyak penonton, ini bukan sekadar akhir dari sebuah kanal, tapi juga akhir dari rutinitas yang sudah terbangun lama. Pertanyaannya, apakah YouTube masih layak jadi tempat kalian bertahan? Atau mungkin, ini hanya awal dari pergeseran besar dalam cara kreator berpikir tentang platform digital?
Bobon Santoso nggak pake ribet-ribet. Dia cuma posting di Instagram, @bobonsantoso, dan langsung menyatakan bahwa tahun ini jadi akhir perjalanannya di YouTube. Tapi yang bikin menarik, dia juga nggak sembunyikan rencana menjual kanalnya yang sudah punya 18 juta subscriber. Harganya? Rp 20 miliar. Ini nggak cuma soal uang, tapi juga menunjukkan bahwa kanal YouTube sekarang dianggap sebagai aset bernilai, bukan sekadar tempat untuk berbagi konten. Jadi, kalau kalian nonton video Bobon, jangan heran kalau dia mungkin akan muncul di tempat lain, atau bahkan nggak lagi muncul sama sekali.
Sebelum Bobon, Farida Nurhan atau yang biasa dipanggil Omay juga sudah ambil langkah serupa. Dia nggak ngambil keputusan instan, tapi setelah pertimbangan selama hampir 18 bulan. Dalam pengakuannya, dia nggak cuma lelah, tapi juga merasa tekanan kreatif yang nggak bisa dihindari. Bayangkan, bikin video panjang dua kali seminggu, plus jalan-jalan ke berbagai daerah demi kualitas konten. Setelah itu, Omay juga nggak sembunyikan rencana menjual kanalnya seharga Rp 10 miliar. Ini nggak cuma soal uang, tapi juga menunjukkan bahwa kanal kreator sekarang jadi investasi yang bisa dijual, kayak properti.
Kalau dulu, YouTube dianggap sebagai tempat untuk berkembang bersama, sekarang rasanya lebih mirip ekosistem bisnis dengan aturan-aturan ketat. Konsistensi, algoritma, dan persaingan yang makin ketat jadi beban yang nggak bisa diabaikan. Bagi kreator besar, pertanyaannya bukan lagi “bisakah bertahan?” tapi “apakah bertahan ini masih sepadan dengan energi yang dikeluarkan?” Mungkin ini juga alasan kenapa banyak yang mulai berpikir ulang, bahkan sampai mengambil langkah keluar.
Keputusan Bobon dan Omay ini jadi sinyal yang menarik. Di satu sisi, ini bisa dianggap sebagai pilihan pribadi setelah bertahun-tahun bekerja keras. Tapi di sisi lain, ini juga menunjukkan bahwa dunia kreator digital sedang mengalami perubahan. YouTube masih jadi platform besar, tapi bagi yang sudah mencapai puncak, tantangan justru datang dari dalam: menjaga relevansi, kesehatan, dan keseimbangan hidup. Mungkin ini juga jadi pelajaran bagi kalian yang sedang merancang karier digital: berhenti nggak selalu berarti gagal, dan menjual kanal nggak harus jadi hal yang dianggap tabu.
Rekan-rekanita, mungkin ini cuma awal dari perubahan besar, atau mungkin cuma fase normal dari siklus industri. Tapi yang jelas, keputusan ini jadi cerminan bahwa dunia kreator nggak lagi bisa dianggap sekadar hobi.