Kasus hukum yang melibatkan anak di bawah umur kembali bikin geger media sosial kita belakangan ini. Kali ini, seorang siswi berusia 15 tahun asal Langkat, Sumatera Utara, curhat karena ditetapkan sebagai tersangka setelah berupaya menyelamatkan ayahnya. Video ini langsung memicu perdebatan panas soal rasa keadilan bagi masyarakat kecil.
Kalian mungkin sudah sempat melihat potongan video yang tersebar di berbagai platform, di mana siswi berinisial L ini menangis dan meminta keadilan. Masalah ini bermula dari kejadian yang cukup kompleks di Desa Turangi, Kecamatan Salapian, Kabupaten Langkat. L bercerita kalau niat awalnya cuma mau menolong ayahnya, Japet, yang diduga sedang dikeroyok. Namun, yang terjadi justru di luar dugaan; mereka berdua malah dilaporkan balik ke polisi dan kini statusnya sudah jadi tersangka. Kami melihat fenomena “saling lapor” kayak gini emang sering banget terjadi di tengah masyarakat kita, terutama kalau ada konflik fisik yang melibatkan dua pihak yang sama-sama merasa benar.
Kalau kita bedah dari sisi teknis kepolisian, pihak Polres Langkat melalui Kasat Reskrim AKP Ghulam Yanuar sudah ngasih penjelasan yang cukup detil. Mereka bilang kalau konflik ini sebenarnya berakar dari perselisihan keluarga dan tetangga. Jadi, ayah si L ini punya masalah sama seorang pria bernama Indra Bangun. Pemicunya sepele tapi sensitif, yaitu soal tuduhan penampungan buah sawit hasil curian. Japet ngerasa kalau Indra ini nampung sawit yang dicuri dari tempat dia kerja. Hal-hal kayak gini emang rawan banget ngebakar emosi, apalagi di lingkungan yang mata pencahariannya bergantung banget sama hasil bumi seperti sawit.
Puncaknya terjadi pada 4 Oktober 2025. Terjadi perkelahian fisik di rumah Japet. Di sinilah poin yang bikin heboh: polisi nyebut kalau si siswi L ini nggak cuma diam nontonin ayahnya berantem. Berdasarkan hasil penyelidikan dan laporan yang masuk, L diduga ikut terlibat secara fisik dengan cara menggigit dan mencakar Indra. Tindakan ini yang akhirnya ngebuat dia terseret ke dalam laporan polisi. Dalam hukum kita, setiap tindakan yang ngebuat orang lain luka atau ada kekerasan fisik, emang bisa diproses secara hukum terlepas dari apa pun alasannya, meskipun nantinya alasan “bela diri” itu bakal diuji di pengadilan.
Satu hal yang perlu kalian pahami adalah proses “saling lapor”. Polisi ngejelasin kalau mereka nggak bisa nolak laporan yang masuk dari kedua belah pihak. Indra ngelaporin Japet dan L, sementara Japet juga ngelaporin Indra. Hasilnya? Kedua pihak sama-sama jadi tersangka. Bedanya, laporan Japet terhadap Indra sudah lebih dulu diproses bahkan sudah ada putusan sidangnya pada awal Januari 2026 lalu. Sementara itu, laporan Indra terhadap Japet dan L baru dilimpahkan berkasnya ke kejaksaan pada April 2026.
Kenapa kasus ini nggak selesai secara damai saja? Ternyata pihak kepolisian sudah nyoba ngadain mediasi sampai dua kali. Bahkan, karena L masih di bawah umur, sudah dilakukan upaya “diversi”—sebuah proses hukum khusus buat anak supaya kasusnya nggak perlu sampai ke pengadilan. Tapi sayangnya, proses ini gagal total. Masalahnya sepertinya ada di ego masing-masing pihak. Pihak kepolisian ngomong kalau Japet menolak buat minta maaf kepada Indra, sehingga jalur kekeluargaan itu buntu. Rasanya sayang banget ya, padahal kalau ada kata maaf, mungkin siswi L nggak perlu nanggung beban psikologis jadi tersangka kayak sekarang.
Kondisi sekarang, Japet sudah ditahan di Rutan Tanjung Pura, sedangkan L nggak ditahan karena pertimbangan dia masih sekolah dan masih di bawah umur. Tapi tetap saja, status “tersangka” itu ngebikin masa depan dia terasa terancam. Dia bahkan sampai mention Presiden, Kapolri, sampai DPR RI buat minta tolong. Ini nunjukin betapa putus asanya mereka menghadapi sistem hukum yang berjalan kaku. Publik sendiri banyak yang ngebandingin gimana sih sebenarnya batasan bela diri itu, apalagi kalau pelakunya adalah seorang anak yang melihat orang tuanya dalam bahaya.
Kami ngelihat kasus ini sebagai pelajaran berharga soal betapa pentingnya kontrol emosi dan pemahaman hukum dasar. Seringkali masyarakat kita nggak sadar kalau tindakan kecil seperti mencakar atau menggigit saat konflik fisik bisa berujung pada status tersangka di kantor polisi. Meskipun tujuannya ngebela diri, selama ada laporan dan bukti luka, polisi tetap harus ngejalanin prosedur yang ada. Sekarang bola panasnya ada di tangan kejaksaan, apakah mereka bakal ngelihat sisi kemanusiaan dari anak 15 tahun ini atau tetap terpaku pada aturan formal semata.
Kasus yang menimpa siswi di Langkat ini ngingetin kita semua kalau hukum di lapangan kadang nggak sesederhana yang kita bayangin. Kami ngerekomendasiin supaya kita lebih bijak dalam nyelesaiin masalah tetangga atau keluarga, jangan sampai emosi sesaat ngehancurin masa depan sekolah anak-anak kita. Penting banget juga buat lembaga perlindungan anak buat turun tangan ngasih pendampingan hukum yang maksimal supaya hak-hak L sebagai pelajar tetap terjaga selama proses ini berjalan. Semoga ada jalan tengah yang lebih adil buat semua pihak yang terlibat.
Salam hangat rekan-rekanita dan terimakasih sudah membaca artikel ini, mari kita pantau terus perkembangannya bersama agar keadilan tetap tegak bagi siapa saja.