Skip to content

emka.web.id

writing knowledge, recording civilization

Menu
  • Home
  • Tutorial
  • Search
Menu

Inilah IGRS di Roblox dan Steam, Ternyata Ini Alasan Komdigi Kasih Aturan Ketat!

Posted on April 6, 2026

Masuk awal tahun 2026, jagat gaming Indonesia lagi panas banget gara-gara isu pemblokiran Steam dan Roblox. Kalian pasti sempat waswas kan kalau akses game favorit bakal hilang? Ternyata, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) punya alasan kuat di balik ketegasan mereka nerapin sertifikasi IGRS demi keamanan ruang siber kita semua.

Belakangan ini, kami perhatikan banyak banget obrolan di media sosial soal langkah berani pemerintah Indonesia. Banyak dari kalian yang mungkin ngerasa kalau pemerintah terlalu ikut campur, tapi sepertinya kita perlu melihat lebih dalam kenapa kebijakan ini diambil. Komdigi nggak main-main dengan ultimatum mereka sejak Januari 2026 kemarin. Mereka ngebikin aturan kalau semua platform atau publisher game asing wajib punya sertifikasi klasifikasi yang sah. Kalau nggak patuh, sanksi administratif sampai pemblokiran total sudah menunggu di depan mata.

Rasanya memang berat kalau hobi kita keganggu, tapi mereka (pemerintah) ngelakuin ini bukan buat ngekang kreativitas para developer. Fokus utamanya adalah perlindungan psikologis bagi anak-anak di Indonesia. Kita tahu sendiri kan, dunia digital itu kayak hutan belantara kalau nggak ada pengawasannya. Makanya, platform raksasa kayak Steam dan Roblox akhirnya milih buat tunduk dan nyesuain sistem mereka supaya tetap bisa beroperasi secara legal di tanah air.

Langkah yang diambil Roblox misalnya, kerasa banget perubahannya. Mulai Maret 2026, mereka ngenalin fitur kontrol orang tua tambahan buat pemain di Indonesia yang umurnya di bawah 16 tahun. Ini penting banget karena mayoritas pengguna Roblox itu anak-anak dan pra-remaja yang rentan kena pengaruh konten negatif atau interaksi nggak sehat di dalam game.g Steam juga nggak mau kalah, mereka mulai nerapin penyesuaian sistem distribusi game mereka khusus buat wilayah Indonesia biar sinkron sama aturan lokal.

Lantas, apa sih sebenarnya IGRS itu? IGRS adalah singkatan dari Indonesia Game Rating System atau Sistem Klasifikasi Gim Indonesia. Secara teknis, IGRS ini kayak panduan nasional yang dikembangin Komdigi buat nyortir dan ngasih label pada setiap produk game. Fungsinya mirip kayak ESRB di Amerika atau PEGI di Eropa, tapi IGRS ini disesuain sama nilai-nilai sosial dan norma yang berlaku di negara kita. Dengan adanya label ini, orang tua bakal lebih gampang milih mana game yang aman buat anak mereka tanpa harus ngerasa khawatir kecolongan konten dewasa.

Biar kalian lebih paham gimana pembagian kategori usia dalam IGRS ini, kami sudah ngerangkum penjelasan langkah-langkah klasifikasinya secara detail di bawah ini:

  1. Klasifikasi Kelompok Usia 3+ (Tiga Tahun ke Atas)
    Game dalam kategori ini isinya ringan banget dan biasanya bersifat edukatif. Fokus utamanya murni buat rekreasi dasar anak usia dini. Di sini, game mutlak dilarang nampilin unsur kekerasan dalam bentuk apa pun. Tokoh-tokohnya juga nggak boleh menyerupai manusia asli secara realistis supaya nggak ngebikin anak bingung antara dunia nyata dan game. Muatan negatif kayak kata-kata kasar itu haram hukumnya ada di kategori ini.
  2. Klasifikasi Kelompok Usia 7+ (Tujuh Tahun ke Atas)
    Secara dasar hampir sama kayak kategori 3+, tapi buat umur 7 tahun ke atas sudah diperbolehkan ada elemen sedikit darah. Catatannya, darah tersebut harus dikemas secara nggak realistis, misalnya kayak di animasi kartun yang lucu dan nggak ngeri. Meskipun begitu, peran orang tua buat ngasih pendampingan masih diwajibkan banget supaya anak nggak salah nangkep isi kontennya.
  3. Klasifikasi Kelompok Usia 13+ (Tiga Belas Tahun ke Atas)
    Kategori ini ditujukan buat para remaja awal. Di tahap ini, game boleh mengandung unsur kekerasan fiktif, asalkan nggak memicu rasa marah atau kengerian yang berlebihan. Penggunaan desain senjata api yang realistis masih dilarang keras di sini. Selain itu, konten yang berbau kanibalisme, mutilasi, atau humor-humor dewasa yang menjurus ke arah vulgar nggak boleh muncul sama sekali.
  4. Klasifikasi Kelompok Usia 15+ (Lima Belas Tahun ke Atas)
    Buat remaja menengah sampai akhir, kontennya sudah mulai agak intens. Para pengembang game diizinin nampilin jenis senjata yang lebih mirip aslinya. Humor kedewasaan tingkat ringan juga sudah mulai boleh diselipin. Selain itu, fitur interaksi obrolan atau chatting sudah bisa dibuka, tapi dengan syarat yang ketat: harus ada sistem sensor bahasa kasar yang aktif secara otomatis buat ngejaga lingkungan pertemanan tetap sehat.
  5. Klasifikasi Kelompok Usia 18+ (Delapan Belas Tahun ke Atas)
    Ini adalah kasta tertinggi yang emang murni buat orang dewasa. Game dengan label 18+ punya kebebasan buat nampilin konten yang lebih berat dan realistis. Mulai dari kekerasan tingkat tinggi, tampilan darah atau mutilasi yang kayak beneran, simulasi judi, penggunaan narkotika, sampai tema horor psikologis yang dalam banget. Game di kategori ini ilegal banget kalau dimainkan sama anak di bawah umur, dan di sinilah pengawasan ketat benar-benar dibutuhin.

Ngebangun ekosistem game yang tertib di tahun 2026 ini emang jadi tantangan tersendiri buat pemerintah dan kita sebagai pemain. Kita nggak bisa cuma ngandelin perusahaan internasional buat jaga-jaga, tapi kita juga harus proaktif ngikutin regulasi yang ada. Sepertinya, langkah Komdigi ini ngebuat industri game kita jadi lebih berwibawa di mata dunia karena punya kedaulatan dalam proteksi warga negaranya.

Jadi, intinya kebijakan IGRS ini hadir bukan buat ngerusak keseruan kalian pas main game, tapi justru buat ngejaga supaya hiburan digital ini nggak ngebawa dampak buruk buat generasi penerus. Kita semua punya tanggung jawab buat ngebangun lingkungan digital yang lebih sehat. Semoga dengan adanya aturan yang jelas kayak gini, nggak ada lagi drama pemblokiran di masa depan karena semua pihak sudah sadar akan pentingnya klasifikasi usia.

Sekian informasi yang bisa kami sampaikan soal aturan baru IGRS di Steam dan Roblox ini. Semoga tulisan ini ngebantu kalian buat lebih paham kenapa aturan ini penting banget buat diterapin di Indonesia. Mari kita jadi pemain game yang cerdas dan tetap patuh pada aturan yang berlaku. Terima kasih banyak rekan-rekanita sudah meluangkan waktu buat membaca artikel ini, mari kita simpulkan bahwa keamanan digital adalah tanggung jawab kita bersama!

Terbaru

  • GNOME Founder Attacks Omarchy Founder as “Lazy, Racist, Ignorant”
  • Why I Stopped Using Plain Command Line Docker and Use Portainer 3.0 To Make My Home Projects Fun Again
  • Why I Switched to a Proper Firewall Box with OPNSense for My Homelab Stuff
  • Fixing Windows Error 0x80070005 Hyper-V Export Access Denied Error the Right Way
  • Fixing Hyper V Export Errors and Building a Better Virtual Machine Setup (error 0x80070002, 0x80070005)
  • Fixing the Dreaded Windows Audio Service Stuck on Stopping Error
  • Windows SIM Error, Unknown error 0xc1420127
  • How I’m Building a Cat Breeding Management App with Python Qt6 + Microsoft Litebox, in 1 Week
  • Why Windows Keeps Nuking Your GPU Drivers (And How to Take Back Control)
  • Copy Prompt: A Modern Men’s Casual Fashion Studio Shoot
  • Why I Finally Ditched Mainstream Windows Cleaners (And Why I Use ‘Kudu’ Instead)
  • AI Made Everything Faster, Including Bad Decisions
  • Raspberry Pi Desktop Available of PC and Mac, Based on Debian 13
  • Why I Stopped Yelling at My PC When Error; Getting Windows 11 Voice Isolation and Access to Actually Work
  • Berobat Kanker ke Malaysia: Berapa Biayanya dan Apa Saja yang Perlu Disiapkan?
  • Stop Sending Every Prompt to the Biggest AI Model You Can Find
  • Stop Building AI Agents from Scratch: My Pick for the Best Native Windows Setup
  • Jev Is Faster and Cheaper, But I Still Recommend Clef. Here’s Why.
  • Weird XCP-NG Bug or Feature? Enable Maintenance Mode = Host Not Enough Memory
  • Vinix OS: Another OS That Want to Beat Linux, Try it!
  • Trying NVX, An Ultra-Light Micro-VM Sandbox from Microsoft
  • Learning NocoDB from Scratch: Creating a Simple Greenhouse App
  • How RHEL 10.2 Quietly Turned Into an Absolute Security Beast
  • Grab Videos from Anywhere with ReClip (Can Running Locally)
  • Jumped onto Ubuntu 26.04 LTS? Here’s How to Add a New User Account
  • Tutorial Cara Install WPS Office di Linux (Alternatif Microsoft Office)
  • Tutorial Upgrade Server Ubuntu 24.04 LTS ke Ubuntu 26.04 LTS dengan Aman
  • Inilah Alasan kenapa akun TikTok dibatasi tidak bisa klaim koin dan masalah pembatasan lainnya?
  • Apa penyebab gagal kirim SMS ke 89888 padahal pulsa masih ada?
  • Mengenal Donghua: Kenapa Animasi dari Tiongkok Ini Lagi Naik Daun Banget
  • Canonical: Ubuntu coming soon to Snapdragon X2 Series platforms
  • Finally, wolfSSL adds post-quantum algorithms!
  • How to Run Gemma Embedding Models Using Docker
  • Deploy Nginx Rootful Container with Podman
  • How to Sandboxing Browser on Linux Desktop with Flatpak
  • Trying Nemotron 3.5 Super VL: NVIDIA’s Open Multimodal Model Built for Agents That Actually See and Act
  • Pruna AI Release their Qwen-Image 2.1 LoRA Adapter, 6x Faster than Regular Qwen
  • The Rise and Fall of the Coding Holy Grail: Is Stack Overflow Just AI Fuel Now?
  • Zyphra is The Pioneer, Why Everyone is Suddenly Obsessed with AMD and Not Just Nvidia Anymore
  • Stop Trusting Your Prompts to Save Your Business Data
  • Lagi rame dicari, ini bedanya Jenny Mod Minecraft Java sama Bedrock biar nggak salah download
  • Lagi rame istilah Blunder Lagi di TikTok sama Instagram, sebenernya apa sih artinya?
  • Info Demo Mahasiswa Jakarta Hari Ini 20 Oktober 2026: Lokasi, Jam, dan Tuntutan Terkait Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran
  • Sering lewat di TikTok, ini arti istilah Oppa Gajima, Hajima, sampai ajakan makan ramyeon yang sebenarnya
  • Bingung jawab soal orientasi PPPK? Iki rangkuman materi Agenda 1 lan Manajemen ASN nggo referensi warga

©2026 emka.web.id | Design: Newspaperly WordPress Theme